Dinas Perikanan PPU Dorong Rumput Laut Baubulu Laut Naik Kelas

Timur Media, Penajam – Budidaya rumput laut di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), terus berkembang dan mulai menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat pembudidaya.
Dinas Perikanan PPU mencatat produksi rumput laut di wilayah tersebut mencapai sekitar 9.000 ton per tahun. Potensi produksi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk tidak hanya meningkatkan budidaya, tetapi juga memperkuat pengolahan pascapanen agar rumput laut memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Kepala Dinas Perikanan PPU Andi Trasodiharto mengatakan rumput laut menjadi salah satu komoditas yang berkembang cukup pesat di wilayah Babulu Laut. Komoditas tersebut dibudidayakan di kawasan tambak yang sebelumnya juga dimanfaatkan untuk budidaya bandeng dan udang.
“Yang saat ini berkembang pesat di Penajam Paser Utara dengan produksi kurang lebih sekitar 9.000 ton per tahun, terutama di wilayah Babulu Laut,” kata Andi.
Menurut Andi, rumput laut jenis sango-sango yang dibudidayakan masyarakat sebelumnya lebih banyak menjadi hasil sampingan dari kegiatan budidaya perikanan. Namun, perkembangan budidaya membuat komoditas tersebut kini beralih menjadi salah satu sumber penghasilan utama pembudidaya.
“Yang dulunya menjadi by-product atau hasil sampingan, sekarang ini juga menjadi sumber penghasilan pokok,” ujarnya.
Meski produksi cukup besar, persoalan harga masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pembudidaya. Dinas Perikanan PPU menilai peningkatan kualitas penanganan setelah panen menjadi salah satu kunci untuk memperbaiki nilai jual komoditas tersebut.
“Kenapa harga murah, saya yakini dari pascapanennya ini perlu mendapat sentuhan-sentuhan teknologi,” kata Andi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Dinas Perikanan PPU menyiapkan pengembangan demplot atau demonstrasi plot di kawasan budidaya rumput laut Babulu Laut.
Demplot tersebut akan menjadi lokasi penerapan dan pengembangan teknik budidaya, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga penanganan pascapanen dan pengolahan hasil.
“Kami akan coba membangun demplot di sana, bagaimana penanaman, bagaimana pola pemeliharaan, bagaimana pascapanennya sampai pengolahan hasilnya,” jelasnya.
Dalam pengembangan tersebut, Dinas Perikanan PPU berencana melibatkan kelompok pembudidaya, pemerintah desa serta akademisi dari Universitas Mulawarman. Keterlibatan akademisi diarahkan untuk mendukung penerapan teknologi dan metode budidaya yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Selain meningkatkan kualitas produksi, pemerintah daerah juga mulai mendorong pengembangan produk turunan rumput laut. Selama ini, sebagian hasil produksi masyarakat masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh pembudidaya masih terbatas.
“Sehingga nanti bukan hanya dijual mentah begitu saja, tetapi barangkali bisa dijadikan tepung dengan harga yang cukup tinggi,” ujarnya.
Pengembangan produk olahan tersebut diharapkan membuka peluang peningkatan nilai ekonomi rumput laut sekaligus memperluas manfaat komoditas bagi masyarakat pembudidaya.
Dengan produksi yang mencapai sekitar 9.000 ton per tahun, Dinas Perikanan PPU melihat Babulu Laut memiliki basis produksi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Penguatan budidaya, teknologi pascapanen dan pengolahan menjadi bagian dari upaya agar rumput laut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai tambah.
“Pengembangan tersebut juga diharapkan memperkuat posisi rumput laut sebagai salah satu komoditas potensial perikanan PPU, sehingga dapat meningkatkan peluang pendapatan masyarakat pembudidaya di Babulu Laut,” pungkasnya. (ADV)