Kasus Diare dan ISPA di PPU Meningkat, Dinkes Kaitkan dengan Kemarau dan Karhutla

Timur Media, Penajam – Kasus diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, mengalami peningkatan sepanjang 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan dampak musim kemarau dan paparan debu serta asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Plt. Kepala Dinkes PPU, dr. Lukasiwan Eddy Saputro, mengatakan peningkatan kasus terjadi di empat kecamatan. Data tersebut dihimpun dari seluruh puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah PPU.

“Data kasus ISPA dan diare berasal dari Puskesmas dan RSUD yang ada di PPU. Pada tahun 2026 ini untuk kasus diare periode Juni-Agustus, sementara ISPA dari Januari-Agustus,” ujar Lukas, Selasa (22/9/2026).

Berdasarkan data Dinkes PPU, kasus diare pada semua kelompok umur selama Juni-Agustus 2026 mencapai 1.032 kasus. Jumlah tersebut meningkat 43,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 721 kasus.

Lukas menyebut puncak kasus diare terjadi pada Juli 2026 dengan 361 kasus. Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kasus tertinggi sebanyak 571 kasus, disusul Babulu 194 kasus, Sepaku 178 kasus, dan Waru 89 kasus.

Kelompok balita juga menunjukkan tren peningkatan kasus. Jumlah kasus pada kelompok tersebut naik dari 89 kasus pada Juni menjadi 109 kasus pada Agustus. Meski terjadi peningkatan, Dinkes PPU memastikan tidak terdapat kematian akibat diare sepanjang 2026.

Menurut Lukas, peningkatan kasus diare berkaitan dengan keterbatasan akses air bersih selama musim kemarau. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebersihan lingkungan dan sanitasi sehingga meningkatkan risiko infeksi bakteri.

Sementara itu, kasus ISPA mengalami fluktuasi sepanjang Januari-Agustus 2026. Kasus tertinggi tercatat pada April sebanyak 1.771 kasus atau meningkat 52,4 persen dibandingkan April 2025.

Kasus ISPA kembali meningkat pada Juli dengan 1.546 kasus dan Agustus sebanyak 1.676 kasus. Pada Agustus, Kecamatan Penajam mencatat kasus tertinggi sebanyak 709 kasus, diikuti Babulu 436 kasus, Sepaku 374 kasus, dan Waru 157 kasus.

Lukas menjelaskan, peningkatan ISPA dipengaruhi paparan polusi udara, termasuk debu dan asap karhutla yang mengandung partikel halus serta gas yang dapat mengganggu saluran pernapasan.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes PPU mengimbau masyarakat menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Untuk mencegah diare, masyarakat diminta memastikan air yang dikonsumsi telah dimasak hingga mendidih serta menjaga kebersihan makanan.

“Sedangkan pencegahan ISPA, warga kami imbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala batuk, sesak napas, atau demam,” pungkas Lukas.

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page