UMKM Perempuan Dinilai Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga dan Lokal di PPU

Timur Media, Penajam – Perempuan dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi keluarga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi besar adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui UMKM, perempuan tidak hanya berperan sebagai pengelola usaha rumah tangga, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membangun kemandirian ekonomi dan mengembangkan berbagai potensi usaha berbasis produk lokal.
Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan DP3AP2KB PPU, Andi Jasmawati, mengatakan potensi perempuan dalam mengembangkan usaha di daerah cukup besar. Hal tersebut terlihat dari banyaknya perempuan yang mulai menjalankan usaha secara mandiri maupun melalui kelompok masyarakat.
“Perempuan memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi keluarga dan ekonomi lokal, terutama melalui sektor UMKM yang banyak tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Andi, perkembangan UMKM yang dikelola perempuan di PPU mulai menunjukkan hasil. Sejumlah perempuan telah memanfaatkan keterampilan dan potensi yang dimiliki untuk mengolah produk lokal menjadi barang yang memiliki nilai jual.
Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga. Keberadaan usaha yang dikelola perempuan juga membuka ruang bagi mereka untuk menjadi lebih mandiri, percaya diri, sekaligus ikut berkontribusi dalam aktivitas ekonomi dan pembangunan daerah.
Pengembangan UMKM perempuan perlu terus didorong agar tidak berhenti pada tahap memulai usaha. Peningkatan kualitas produk, kemampuan mengelola usaha, hingga perluasan pemasaran menjadi sejumlah aspek yang dinilai penting untuk diperkuat.
“Pelaku UMKM perempuan di PPU perlu terus didorong agar semakin berkembang, baik dari sisi kualitas produk, pengelolaan usaha, maupun akses pemasaran,” katanya.
Namun, pengembangan usaha perempuan masih menghadapi sejumlah tantangan. Tidak semua pelaku UMKM memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelatihan, pendampingan, akses permodalan, legalitas usaha maupun jaringan pemasaran.
Andi mengatakan hambatan tersebut sering kali bukan berupa persoalan besar, melainkan keterbatasan yang muncul dalam proses menjalankan usaha sehari-hari. Mulai dari minimnya informasi, kemampuan manajemen, pengemasan produk hingga akses pasar yang belum luas.
“Perempuan pelaku UMKM masih membutuhkan dukungan, terutama dalam hal pelatihan, permodalan, legalitas, pengelolaan usaha, dan pemasaran. Tantangannya memang tidak selalu besar, tetapi akses informasi dan pasar masih perlu kita perluas agar usaha mereka bisa berkembang,” terangnya. (ADV)