Cerita dari Jogging Track Stadion Batakan

Cerita dari Jogging Track Stadion Batakan

Menjelang malam, kawasan Stadion Batakan mulai berubah wajah. Satu per satu warga datang. Anak-anak berlari di sekitar jogging track, orang tua berjalan santai, sebagian bersepeda, sementara yang lain mengobrol atau mencari makanan di lapak-lapak yang mulai dipenuhi pembeli.

‎Pada malam Sabtu, malam Minggu, hingga malam Senin, jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari 2.000 orang.

‎Batakan, di Balikpapan Timur, seperti menemukan kehidupan keduanya. Stadion yang semula dikenal sebagai arena olahraga kini tumbuh menjadi ruang perjumpaan warga. Orang datang untuk berolahraga, membawa anak, bertemu teman, mencari makanan, atau sekadar menghabiskan waktu setelah seharian bekerja.

‎Sebelumnya, warga lebih banyak mencari ruang semacam itu di sekitar Jembatan Manggar dan kawasan Embarkasi Haji. Kini sebagian arus manusia bergerak ke Batakan. Perubahan itu memperlihatkan kebutuhan yang kerap luput dalam perencanaan kota: warga membutuhkan ruang untuk bertemu, bukan sekadar ruang olahraga atau tempat rekreasi.

‎Keramaian itu kemudian menghidupkan ekonomi kecil. Pedagang makanan dan minuman membuka lapak, delman berkeliling membawa anak-anak, sementara penjual menunggu pembeli yang datang bersama keluarga. Nilainya mungkin kecil dalam statistik ekonomi daerah, tetapi berarti bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas malam.

‎Begitulah ruang publik bekerja. Ia mempertemukan manusia sekaligus menciptakan perputaran ekonomi di sekitarnya.

‎Namun semakin ramai sebuah tempat, semakin besar pula tanggung jawab untuk merawatnya. Setelah kerumunan bubar, gelas plastik, bungkus makanan, dan sisa aktivitas warga mulai terlihat. Parkir juga perlu ditata agar kendaraan tidak mengambil ruang pejalan kaki dan mengganggu aktivitas di sekitar jogging track.

Ada pula aktivitas usaha yang membutuhkan pengawasan. Di antara lapak yang tumbuh di kawasan itu, masih ada ditemukan lapak yang menjual minuman beralkohol. Musik dan karaoke diputar dengan suara keras. Bagi sebagian pengunjung mungkin itu hiburan, tetapi bagi keluarga yang membawa anak-anak, suasananya bisa berbeda.

‎Di sinilah tantangan Batakan bermula. Ruang publik tidak cukup hanya ramai. Ia juga harus nyaman dan tertib. Keramaian adalah tanda bahwa sebuah ruang dibutuhkan, tetapi tanpa pengelolaan yang baik, keramaian dapat berubah menjadi gangguan.

‎Semakin banyak warga datang, semakin besar kebutuhan terhadap kebersihan, parkir, keamanan, pengawasan usaha, dan aturan yang jelas.

‎Pemerintah kota tidak perlu menciptakan keramaian itu. Warga sudah melakukannya. Mereka datang, menggunakan ruang tersebut, lalu perlahan memberinya fungsi baru. Tugas pemerintah adalah memastikan ruang yang tumbuh dari kebutuhan warga itu tetap terawat dan tidak kehilangan arah.

‎Sebab ruang publik yang sehat bukan ruang yang steril dari aktivitas. Di sanalah keluarga, anak-anak, pelari, pesepeda, pedagang, anak muda, dan pelaku usaha berbagi ruang. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan: musik boleh hidup tanpa mengganggu pengunjung lain, usaha boleh tumbuh dengan mengikuti aturan, dan pedagang boleh mencari nafkah tanpa meninggalkan sampah.

‎Batakan menunjukkan besarnya kebutuhan warga Balikpapan Timur terhadap ruang bersama. Mereka ingin berjalan, berolahraga, membawa anak, bertemu teman, atau sekadar menikmati malam. Dan semua itu kini berlangsung di satu tempat.

‎Menjelang tengah malam, keramaian perlahan surut. Pedagang membereskan lapak, anak-anak pulang, dan kawasan stadion kembali lengang. Esok malam, kerumunan itu akan datang lagi.

‎Lebih dari 2.000 orang mungkin hanya terlihat sebagai angka. Namun di baliknya ada ribuan cerita kecil tentang bagaimana warga menggunakan kotanya.

‎Batakan bukan lagi sekadar stadion. Ia telah menjadi tempat orang bertemu, bergerak, mencari nafkah, membawa keluarga, dan menghabiskan malam.

‎Sebuah ruang yang lahir dari kebutuhan warga kini menghadirkan pertanyaan bagi pemerintah kota:

‎Ketika warga sudah menemukan ruangnya sendiri, apakah kota mampu merawatnya?

Red.

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page