Laut yang Mengingatkan

Pagi di Muara Manggar, selalu datang pelan. Air pasang merayap ke akar-akar bakau tersisa. Perahu kayu bergoyang kecil diikat tali tambang yang mulai kusam dimakan garam. Di kampung-kampung nelayan, orang-orang percaya laut selalu memberi tanda. Hanya saja, manusia sering terlambat membacanya.
Ketika abrasi menggerus halaman rumah, banjir rob datang semakin sering, atau hasil tangkapan tak lagi seperti dahulu, sebagian masyarakat pesisir tidak buru-buru menyalahkan cuaca. Bagi mereka, alam bukan sekadar bentang geografis yang dapat dihitung melalui angka curah hujan, tinggi gelombang, atau kenaikan muka air laut. Alam adalah ruang hidup yang memiliki martabat.
Cara pandang itu hidup dalam apa yang kini banyak disebut sebagai ecomystic—sebuah pengetahuan lokal yang mempertemukan kesadaran ekologis dengan keyakinan spiritual. Di dalamnya, menjaga mangrove bukan hanya menjaga garis pantai dari abrasi. Merawat muara sungai bukan sekadar mempertahankan habitat ikan. Semua itu adalah cara menjaga hubungan yang baik antara manusia dan alam yang menghidupinya.
Di pesisir Kalimantan Timur, hubungan itu dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Orang tua mengajarkan agar tidak serakah ketika laut sedang murah hati. Ada keyakinan bahwa setiap yang diambil dari alam harus disertai kesadaran untuk mengembalikannya dalam bentuk penjagaan. Sebab laut, sebagaimana rezeki, mempunyai ukuran yang tidak boleh dipaksa.
Karena itulah, ketika keseimbangan itu rusak, sebagian masyarakat memaknainya sebagai teguran. Bukan karena laut sedang murka, melainkan karena manusia telah terlalu jauh melupakan batas. Dalam pandangan ini, bencana bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah isyarat bahwa hubungan yang semestinya saling menjaga telah berubah menjadi hubungan yang saling menguras.
Pandangan seperti itu sering dianggap berada di luar penjelasan ilmiah. Padahal, keduanya tidak selalu saling meniadakan. Sains menjelaskan mengapa mangrove yang hilang mempercepat abrasi atau mengapa perubahan iklim membuat cuaca semakin ekstrem. Sementara kearifan lokal menjaga agar manusia tidak sampai melakukan kerusakan yang sama berulang kali. Yang satu menjelaskan sebab, yang lain menanamkan kesadaran.
Di pesatnya pembangunan kawasan pesisir, nilai-nilai semacam ini justru menemukan relevansinya. Regulasi dapat mengatur kawasan lindung. Teknologi mampu memetakan ancaman bencana. Namun, kepatuhan yang tumbuh dari hati masyarakat sering kali bertahan lebih lama daripada aturan yang tertulis di atas kertas.
Ketika manusia melupakan batas itu, laut akan menemukan caranya sendiri untuk mengingatkan.
Kar
Pokja Pesisir