Anak Lebih Percaya Teman Sebaya, DP3AP2KB PPU Perkuat Forum Anak hingga Tingkat Desa

Timur Media, Penajam – Ketika menghadapi persoalan, tidak semua anak memilih bercerita kepada orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya. Banyak di antaranya justru merasa lebih nyaman membuka cerita kepada teman sebayanya. Fenomena tersebut menjadi perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam memperkuat sistem perlindungan anak di daerah.
Melihat kondisi tersebut, DP3AP2KB PPU mendorong pembentukan Forum Anak hingga tingkat desa dan kelurahan. Keberadaan forum itu diharapkan menjadi ruang yang mampu menjembatani suara anak dengan pemerintah sehingga persoalan yang mereka hadapi tidak berhenti di lingkaran pertemanan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme yang tepat.
Kepala DP3AP2KB PPU, Jansje Grace Makisurat, mengatakan anak memiliki pola komunikasi yang berbeda dengan orang dewasa. Tidak sedikit anak yang memilih memendam masalah atau hanya berbagi cerita kepada teman yang dianggap mampu memahami perasaannya.
“Jadi sebenarnya kan anak-anak itu tidak mau bercerita ke orang dewasa, dia terkadang hanya mau bercerita ke teman sebayanya yang menurut dia lebih dipercaya untuk diajak berbicara,” ujarnya.
Menurut Jansje, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Justru, ketika anak lebih memilih teman sebaya sebagai tempat bercerita, pemerintah harus menghadirkan ruang yang aman agar setiap persoalan yang dialami anak dapat diketahui dan ditangani sejak dini.
Menurutnya teman sebaya memang dapat menjadi tempat berbagi cerita. Namun, mereka umumnya tidak memiliki pengetahuan, kewenangan, maupun akses untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi temannya, terutama jika menyangkut kekerasan, perundungan, diskriminasi, atau pelanggaran hak anak lainnya.
“Teman sebayanya bisa mendengar cerita mereka, tetapi belum tentu tahu harus berbuat apa. Karena itu kami ingin Forum Anak menjadi wadah yang mampu menjembatani suara anak kepada pendamping maupun pemerintah,” katanya.
Melalui Forum Anak, setiap aspirasi, keluhan, maupun persoalan yang muncul di lingkungan anak dapat dihimpun dan disampaikan secara lebih terstruktur. Dengan begitu, pemerintah desa maupun instansi terkait dapat lebih cepat memberikan respons sesuai kebutuhan anak.
“Tetapi teman sebayanya kan tidak punya power, makanya ini kita wadahi melalui Forum Anak untuk tempat mereka berkumpul dan menyuarakan kebutuhan anak di lingkungan mereka,” tambahnya.
Forum Anak bukan hanya menjadi tempat berkumpul atau menggelar kegiatan bagi anak-anak. Forum tersebut juga diharapkan mampu menjadi ruang partisipasi yang aktif dalam mengidentifikasi berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.
Setiap anak dianggap memiliki hak untuk hidup tanpa diskriminasi dan memperoleh perlindungan di mana pun mereka berada, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Karena itu, Forum Anak harus mampu menjadi ruang yang aman bagi anak untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka alami.
“Jadi misalnya di wilayah mereka ada ketidakadilan atau diskriminasi, mereka bisa menyuarakan. Karena hak anak itu ada di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Nah, itu yang harus mereka suarakan,” pungkasnya. (ADV)