Kasihan Senegal Kena Comeback Belgia 3-2

Kasihan Senegal Kena Comeback Belgia 3-2
Benar-benar kejutan yang dahsyat. Senegal sudah unggul 2-0 jelang lima menit laga usai, eh malah kena comeback Belgia. Juara Afrika yang tak jadi itu, akhirnya tumbang di babak tambahan waktu, 3-2. Duh kasihan Sadio Mane cs. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Sepak bola memang makhluk paling usil di muka bumi. Baru saja Senegal menyiapkan pesta, Belgia malah datang membawa surat pembatalan. Di Lapangan Lumen, Seattle, tim peringkat 15 FIFA itu sempat membuat Belgia (peringkat 9 FIFA) seperti kehilangan sinyal GPS. Padahal Belgia menguasai bola 54 persen, tapi yang bikin geger justru Senegal.
Sejak menit pertama, pertandingan sudah panas. Belgia menyerang, Senegal membalas. Courtois dipaksa kerja lembur, sementara Mory Diaw mulai akrab dengan bola yang datang bergelombang seperti tagihan menjelang akhir bulan.
Menit ke-25…Goooool! Habib Diarra! Senegal unggul 1-0! Bukan main si habib ini.
Tribun Senegal langsung meledak. Drum dipukul sampai mungkin ikan-ikan di Samudra Pasifik ikut joget. Ada melompat sambil mengibarkan bendera seperti sedang mencalonkan diri jadi ketua RT.
Pendukung Belgia? Wajahnya berubah seperti pejabat yang baru dengar kalimat, “Mulai besok anggaran perjalanan dinas dipotong.”
Babak pertama selesai. Belgia menyerang terus, tapi gol tak kunjung datang. Banyak peluang, hasilnya nihil. Mirip rapat panjang yang kesimpulannya cuma, “Kita bentuk tim kecil dulu.”
Masuk babak kedua, bencana Belgia makin komplet.
Menit ke-51…goooool! Ismaila Sarr! Senegal 2-0!
Seattle mendadak terasa pindah ke Dakar. Tribun Senegal berguncang seperti mesin cuci mode pengering. Ada meniup terompet tanpa jeda sampai pipinya mungkin perlu diisi angin di SPBU. Sebagian sudah sibuk menghitung lawan berikutnya. Kesalahan terbesar malam itu.
Karena sepak bola itu lebih licin dari janji politik menjelang pemilu. Rudi Garcia langsung bongkar dapur. Kevin De Bruyne masuk. Romelu Lukaku masuk. Dodi Lukebakio masuk. Belgia menyerang habis-habisan seperti investor SPPG mengepung BGN.
Menit ke-86…goooool! Romelu Lukaku! 2-1!
Tribun Belgia langsung hidup kembali. Orang-orang meloncat seperti baru diumumkan listrik gratis seumur hidup. Ada memeluk pagar, ada memeluk orang asing, ada lupa kalau kacamatanya sudah jatuh tiga menit lalu.
Belum selesai euforianya. Menit ke-89…goooool! Youri Tielemans! 2-2! Nah, di sinilah logika mulai pamit pulang.
Pendukung Belgia berteriak begitu keras sampai burung ingin migrasi ke Pontianak. Syal beterbangan, topi melayang, minuman tumpah, suara serak tak lagi penting.
Sebaliknya, tribun Senegal mendadak sunyi seperti ruang sidang ketika hakim berkata, “Keputusan akan dibacakan sekarang.”
Pertandingan masuk babak tambahan. Belgia terus menyerang. Senegal bertahan sambil sesekali menusuk. Lukebakio menghantam mistar. Mbaye nyaris mencetak gol. Jackson gagal. Courtois menyelamatkan. Semua seperti film yang sutradaranya sengaja ingin membuat penonton hipertensi.
Lalu menit ke-118..pemain Belgia terjatuh di kotak penalti. Wasit awalnya berkata, “Main!” VAR memanggil. Semua mendadak diam. Bahkan penjual es doger mungkin ikut berhenti melihat adegan mendebarkan itu.
Keputusan keluar. Penalti! Menit 120+5…goooool! Youri Tielemans! Belgia 3-2! Bola melesat ke pojok kanan atas. Mory Diaw hanya bisa melihatnya lewat jalur udara.
Tribun Belgia pecah total. Kalau kegembiraan bisa diubah menjadi listrik, satu stadion mungkin cukup menerangi setengah kota Seattle. Orang-orang berpelukan tanpa peduli kenal atau tidak. Yang tadinya duduk di kursi, tahu-tahu sudah berdiri di baris yang berbeda.
Senegal masih mendapat tendangan bebas pada 120+12. Inilah kesempatan terakhir. Pape Matar Sarr menendang…Bolanya melambung tinggi. Tinggi sekali. Kalau diteruskan sedikit lagi mungkin bisa ikut rapat satelit komunikasi.
Peluit panjang berbunyi. Selesai.
Belgia menang 3-2 lewat comeback lebih dramatis dari penangkapan gerombolan Bupati Kuansing oleh KPK. Senegal sudah menggenggam kemenangan akhirnya pulang membawa pelajaran paling mahal dalam sepak bola. Laga belum selesai sebelum wasit meniup peluit akhir. Satu lagi, jangan pernah merayakan kemenangan terlalu cepat. Dalam sepak bola, lima menit terakhir kadang lebih berbahaya dari lima tahun masa jabatan.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar