Bansos Model Baru

Bansos Model Baru, 1 KK Dapat Rp5,4 Juta, Yang Mau Lawan Prabowo, Mikir Dulu, Ups

Ada kabar yang membuat sebagian politisi oposisi mendadak salah menelan kopi. Bukan karena survei elektabilitas. Bukan karena reshuffle. Bukan karena muncul partai baru yang logonya mirip stiker galon. Tapi karena sebuah kalimat sederhana dari Luhut Binsar Pandjaitan.

Tahun depan, pemerintah berencana mengubah total cara penyaluran bansos. Tidak lagi beras. Tidak lagi minyak goreng. Tidak lagi drama truk bantuan yang nyasar ke gudang misterius. Semuanya akan diubah menjadi transfer tunai langsung.

Angkanya membuat alis para calon penantang 2029 naik sampai ke plafon. Rp5,4 juta per orang.

Begitu angka itu muncul, suara kalkulator terdengar dari berbagai markas politik. Ada yang menghitung peluang menang. Ada yang menghitung peluang pindah profesi.

Opung Luhut menjelaskan seluruh bansos nantinya dikumpulkan dalam sistem cash transfer. Lebih modern. Lebih rapi. Lebih digital. Lebih canggih. Bahkan akan dikelompokkan menggunakan AI alias Artificial Intelligence.

Nah, di sinilah aroma konspirasi kelas premium mulai tercium. Dulu nasib bansos ditentukan manusia. Ada RT, RW, lurah, camat, pendamping sosial, dan tetangga yang hafal isi dapur satu kampung.

Sekarang? AI.

Sebuah makhluk digital yang tidak pernah makan nasi Padang, tidak pernah antre gas 3 kilogram, tetapi dipercaya menentukan siapa yang pantas menerima bantuan.

Bayangkan suasananya. Warga datang.

“Pak AI, saya miskin.”

AI menjawab, “Mohon tunggu. Kami sedang memeriksa jejak digital Anda sejak zaman Friendster.”

Ngeri-ngeri lucu. Lalu ada lagi senjata pamungkas bernama Digital Single ID. Kalau proyek ini sukses, negara akan memiliki identitas digital tunggal untuk rakyatnya.

Artinya apa? Secara teori, negara akan tahu siapa ente. Secara hiperbolis, negara mungkin tahu pian sarapan apa, berapa kali ganti foto profil, dan kenapa mantan meninggalkan sampeyan tahun 2017.

Tentu tujuan resminya sangat mulia. Mengurangi kebocoran. Memastikan bantuan tepat sasaran. Membuat anggaran lebih efisien. Tapi rakyat Indonesia memiliki bakat turun-temurun, curiga sebelum percaya.

Begitu mendengar kata AI dan identitas digital, grup WA langsung berubah menjadi laboratorium teori konspirasi.

Ada yang bilang ini langkah menuju Negara Algoritma Indonesia Raya. Ada yang menduga nanti AI lebih berkuasa dari lurah. Ada pula yang khawatir suatu hari muncul notifikasi, “Maaf, daeng tidak menerima bansos karena kemarin mengunggah foto makan seafood.” Padahal seafood itu hasil traktiran teman.

Lebih lucu lagi, pemerintah menegaskan, Rp5,4 juta itu bukan bansos baru. Itu akumulasi dari berbagai bantuan yang sudah ada seperti PKH dan BPNT.

Tetapi netizen tidak peduli. Mata mereka berhenti di angka Rp5,4 juta. Selesai. Seperti melihat diskon 90 persen, otak langsung berhenti membaca catatan kaki.

Di sinilah para penantang Prabowo mulai terlihat gelisah. Karena melawan petahana itu sudah sulit. Melawan petahana yang didukung program bansos digital, AI, identitas digital, dan transfer tunai langsung terasa seperti melawan bos Donald Trump.

Nuan bayangkan tahun 2029. Seorang calon presiden berdiri di panggung. Berteriak penuh semangat. “Saudara-saudara, pilih saya!”

Dari belakang terdengar suara warga. “Programnya apa?” Calon presiden gugup. Sementara AI di pojok ruangan sedang menghitung data 280 juta penduduk sambil tersenyum digital.

Kalau proyek ini berhasil, bukan tidak mungkin pemilu berikutnya menjadi pertarungan paling unik dalam sejarah. Bukan lagi adu baliho, adu jargon, adu konser dangdut. Tapi adu kekuatan melawan algoritma.

So, bagi siapa saja yang bermimpi menantang Prabowo tahun 2029, saran saya sederhana. Jangan hanya survei ke rakyat. Survei juga ke AI. Siapa tahu yang menentukan masa depan politik Indonesia nanti bukan lagi relawan, buzzer, atau konsultan politik. Melainkan sebuah komputer yang diam-diam sudah mengenal rakyat lebih baik dari para politisi yang datang lima tahun sekali sambil membawa senyum ukuran jumbo.

“Bang, 5,4 juga, lumayan itu. Bisa kredit beli motor baru.”

“Jangankan motor baru, bisa seruput Koptagul di warkop tanpa henti.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

 

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page