Setelah Puasa 20 Tahun, Akhirnya Arsenal Bisa Juara

Setelah Puasa 20 Tahun, Akhirnya Arsenal Bisa Juara
Saya tak bisa membayangkan bagaimana senangnya fans Arsenal saat ini. Sama seperti membayangkan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia. Seandainya waktu itu, ah sudahlah. Kali ini kita fokus pada Arsenal yang mengejutkan dunia. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Dua puluh dua tahun. Itu bukan waktu menunggu gelar, itu sudah level cicilan perumahan subsidi plus bonus drama keluarga. Selama itu pula fans Arsenal hidup dalam fase spiritual paling berat. Tiap awal musim optimistis, pertengahan musim mulai bikin kalkulator, akhir musim pura-pura fokus ke Liga Champions. Tapi sekarang semua berubah. London Utara resmi pesta. Meriam Arsenal akhirnya meledak lagi, dan ledakannya bikin klub-klub elite lain mendadak batuk kecil sambil pura-pura santai.
Kepastian juara datang setelah Manchester City cuma sanggup imbang 1-1 lawan Bournemouth. Bahkan gol menit 94 dari Erling Haaland terasa seperti pejabat yang baru kerja keras lima menit sebelum masa jabatan habis. Sudah telat. Sudah tidak ada gunanya. Arsenal keburu duduk di singgasana sambil menyeruput Koptagul kemenangan.
Yang bikin musim ini makin absurd, Arsenal bukan cuma juara. Mereka mau bikin rekor yang bikin rival iri sampai ubun-ubun. Nuan bayangkan, satu musim Premier League tanpa kartu merah dan tanpa kasih penalti ke lawan. Ini bukan statistik sepak bola lagi. Ini sudah seperti legenda urban yang biasanya cuma muncul di grup WA bapak-bapak sambil caption “Subhanallah.”
Klub-klub lain langsung kelabakan. Karena selama ini sepak bola Inggris identik dengan tekel brutal, emosi meledak-ledak, dan pemain yang sliding tackle seperti sedang membayar utang pinjol. Tapi Arsenal malah tampil seperti rombongan santri study tour ke London. Main keras iya, tapi tetap rapi. Tidak ada yang mendadak jadi pendekar silat di kotak penalti. Tidak ada bek yang refleks menarik jersey lawan seperti emak-emak rebutan minyak goreng murah.
Ini yang bikin iri itu bukan cuma hasilnya, tapi cara Arsenal juara. Mereka menang tanpa drama murahan. Tidak ada konferensi pers penuh tangisan. Tidak ada alasan rumput terlalu hijau. Tidak ada teori konspirasi VAR dikendalikan alien. Semua dilakukan dengan disiplin yang lebih langka dibanding pejabat yang habis terpilih lalu benar-benar ingat rakyat kecil.
Mari kita bahas sosok paling sakral musim ini, Mikel Arteta. Dulu dia dihina habis-habisan. Setiap Arsenal kalah, timeline langsung berubah jadi seminar nasional pemecatan pelatih. Tagar Arteta Out beterbangan lebih cepat dari janji pembangunan saat kampanye. Banyak yang bilang dia cuma tukang susun cone latihan. Bahkan ada yang menganggap strategi Arteta lebih membingungkan dari pidato politik bapak itu.
Tapi Arsenal tidak panik. Mereka sabar. Mereka tidak gonta-ganti pelatih seperti partai yang gonta-ganti koalisi tiap lihat survei elektabilitas. Mereka percaya proses. Sekarang hasilnya bikin semua orang yang dulu nyinyir mendadak pura-pura lupa tweet lama.
Sekarang tinggal satu laga lawan Crystal Palace. Secara klasemen memang tidak penting. Tapi secara sejarah, ini bisa jadi momen paling nyebelin bagi rival-rival Arsenal. Karena kalau rekor itu pecah, maka musim ini bukan cuma titel juara. Ini penghinaan elegan untuk seluruh Premier League.
Klub lain habis belanja triliunan, skuad isinya Avengers sepak bola, cadangan saja harga rumah elite Jakarta Selatan, tapi tetap gagal bikin rekor yang mungkin dicapai Arsenal dengan modal kesabaran dan pemain yang tidak hobi kungfu.
Musim ini Arsenal bukan sekadar juara Liga Inggris. Mereka seperti sindiran hidup berjalan, kadang yang paling tenang justru yang terakhir tertawa paling keras. Bravo Arsenal.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar