Diblokade Amerika, Kuba Menjadi Gelap

Diblokade Amerika, Kuba Menjadi Gelap

Lama tak membawa jalan-jalan followers saya ke luar negeri. Kita menuju Kuba. Negeri ini ingin dihancurkan Amerika secara perlahan. Caranya dengan memblokade agar barang impor tidak boleh masuk ke negara itu. Sangat kejam. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kuba, sebuah pulau yang letaknya hanya selemparan batu dari daratan Amerika, justru hidup seperti dunia yang sengaja diputus dari abad ini. Ironi yang terlalu telanjang untuk disembunyikan. Negara yang begitu dekat, tapi diperlakukan seolah berada di ujung galaksi. Dibenci? Mungkin. Ditekan? Sudah pasti. Hasil akhirnya, satu negeri yang perlahan redup, seperti lampu kehabisan daya tanpa pernah diberi kesempatan untuk menyala penuh.

Kisah ini bukan dongeng distopia. Ini potret nyata yang ditangkap oleh Joe Hattab dalam reportase terbarunya di YouTube. Ia datang bukan membawa opini, tapi pulang dengan kenyataan yang terasa lebih kejam dari propaganda mana pun.

Malam di Havana bukan lagi malam. Ia adalah kegelapan total. Bukan romantis, bukan puitis, tapi fungsional. Listrik hilang seperti ditelan bumi. Bukan sekali-sekali, tapi setiap hari. Kota seharusnya berdenyut kini hanya menyisakan siluet bangunan tua dan langkah kaki yang terdengar terlalu jelas di antara sunyi. Ini bukan kota mati. Ini kota dipaksa bertahan tanpa darah.

Penyebabnya terdengar sederhana, tapi dampaknya seperti efek domino yang tak berujung, tidak ada bahan bakar. Tanpa bahan bakar, tidak ada listrik. Tanpa listrik, tidak ada kehidupan modern. Tanpa kehidupan modern yang tersisa hanyalah manusia berusaha bertahan dengan cara paling purba.

Pom bensin kosong. Bukan “lagi kosong”, tapi memang kosong. Orang harus mendaftar antrean digital. Ironisnya di negara dengan internet yang nyaris tak berfungsi, lalu menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan jatah bensin yang tidak cukup untuk merasa bebas. Sementara itu, pasar gelap berkembang seperti jamur di musim hujan. Karena ketika sistem resmi gagal, yang ilegal justru menjadi penyelamat.

Transportasi kembali ke masa lalu. Kuda menarik kereta di jalanan ibu kota. Mobil-mobil tua dari tahun 1950-an masih dipaksa hidup, dirakit ulang dengan kreativitas yang nyaris putus asa. Ini bukan gaya hidup retro. Ini keterpaksaan yang dipoles menjadi kebiasaan.

Universitas tutup. Bukan karena pandemi, tapi karena negara tidak mampu menggerakkan dirinya sendiri. Mahasiswa diminta belajar online, di negeri di mana membuka satu halaman saja bisa seperti menunggu hujan di musim kemarau. Pendidikan tetap gratis, katanya. Gratis seperti janji politik, ada, tapi tak pernah benar-benar bisa digunakan.

Di toko-toko pemerintah, rak-rak kosong berdiri seperti ejekan diam. Sementara itu, toko dengan sistem dolar dipenuhi barang. Lengkap. Terang. Menggoda. Tapi hanya untuk mereka yang punya akses pada mata uang asing. Dua realitas hidup berdampingan tanpa rasa malu, satu kelaparan, satu berbelanja. Satu menunggu, satu memilih.

Gaji rata-rata? Sekitar 10 dolar per bulan. Ya, per bulan. Angka yang tidak cukup untuk dijadikan bahan diskusi serius di negara lain. Dokter, guru, pekerja, semuanya dibayar rendah, seolah profesi tidak lagi berarti. Yang penting bukan siapa kamu, tapi seberapa kuat kamu bertahan.

Air hanya mengalir setiap 15 hingga 20 hari. Nuan bayangkan hidup di mana mandi bukan kebiasaan, tapi kesempatan langka. Ketika listrik mati dan gas tak tersedia, kayu menjadi solusi. Api menjadi sahabat. Dunia boleh bicara soal energi masa depan, Kuba justru dipaksa kembali ke masa lalu.

Rumah-rumah runtuh. Bukan karena gempa, tapi karena waktu dan ketidakmampuan memperbaiki. Keluarga-keluarga dipindahkan ke bangunan darurat seperti gym, gudang, ruang kosong yang berubah fungsi menjadi rumah. Privasi lenyap. Kenyamanan jadi mimpi. Tapi mereka tetap tinggal. Karena pergi bukan sekadar keputusan, tapi kemewahan yang tak semua orang punya.

Di jalanan, orang antre berjam-jam hanya untuk roti. Tiga jam menunggu untuk sarapan esok hari. Ini bukan kemalasan sistem. Ini kelumpuhan yang dibungkus kebijakan. Di atas semua itu, propaganda masih berdiri gagah, seolah kata-kata bisa menggantikan listrik, seolah slogan bisa menggantikan makan malam.

Amerika memblokade. Pemerintah bertahan. Rakyat terjepit di tengah, seperti selalu dalam sejarah. Dua kekuatan saling menekan, dan yang remuk bukan keduanya, tapi mereka yang tidak punya suara dalam permainan ini.

Yang lebih menyayat, ketika ditanya: “Apakah kamu bahagia?”

Jawaban yang muncul sering kali bukan “ya” atau “tidak”. Tapi diam. Diam yang panjang. Diam yang penuh makna. Karena di Kuba hari ini, kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa dijawab. Ia terlalu mahal untuk sekadar diucapkan.

Pulau ini pernah menjadi simbol perlawanan. Kini ia menjadi simbol keterjebakan. Terjebak dalam sejarah, dalam politik, dalam keputusan-keputusan yang dibuat jauh dari dapur rakyat.

Lalu, kita? Kita menonton dari layar, dengan listrik stabil, internet cepat, dan perut kenyang. Kita mengeluh ketika sinyal turun satu bar, ketika lampu mati lima menit, ketika harga naik sedikit. Kita merasa hidup ini berat. Padahal di sana, gelap bukan gangguan. Gelap adalah sistem.

“Bang, gimanalah kalau negara kita juga diblokade Amerika?”

“Sudah pasti gelap juga, wak! Seruput Koptagul pun tak bisa lagi.” Ups.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page