Ketika Energi Masuk Mode Bertahan

‎B50: Ketika Energi Masuk Mode Bertahan

‎Di tengah harga minyak dunia yang mulai melandai, pemerintah justru memilih tidak ikut menurunkan kewaspadaan. Bahlil Lahadalia memastikan kebijakan mandatori biodiesel 50 persen—B50—tetap berjalan mulai 1 Juli 2026. Bagi pemerintah, ini bukan sekadar soal harga, melainkan soal bertahan.

‎Istilah yang dipakai Bahlil lugas: survival mode. Sebuah pengakuan bahwa dalam lanskap energi global hari ini, kepastian bukan lagi barang yang mudah didapat. Harga boleh turun, tetapi risiko tidak pernah benar-benar hilang. Hari ini stabil, besok bisa bergejolak—dan negara yang terlalu bergantung akan menjadi yang paling rentan.

‎Dalam logika itu, B50 bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Pemerintah tampaknya belajar dari satu kenyataan pahit: memiliki uang tidak selalu berarti bisa mendapatkan pasokan energi. Pasar global tidak selalu rasional, apalagi ketika geopolitik ikut bermain.

‎Penurunan harga minyak belakangan ini—dengan Brent kembali di bawah ambang psikologis US$100 per barel—memang memberi ruang napas. Harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicunya. Namun pasar tetap sensitif, bergerak cepat mengikuti setiap perkembangan politik.

‎Artinya, stabilitas ini rapuh. Dan di situlah pemerintah mengambil posisi: tidak menunggu krisis datang, tetapi bersiap sebelum itu terjadi.

‎Program B50 sendiri telah melalui uji coba selama enam bulan, mencakup berbagai sektor—dari alat berat hingga transportasi darat. Hasilnya, menurut pemerintah, cukup menjanjikan. Ini memberi landasan teknis bagi keputusan yang pada dasarnya bersifat politis: mengamankan energi dalam negeri.

‎Lebih jauh, kebijakan ini sejalan dengan arah besar yang didorong Prabowo Subianto: diversifikasi energi. Dalam dunia yang tidak lagi pasti, ketergantungan menjadi risiko yang mahal.

‎Namun pilihan ini juga bukan tanpa konsekuensi. Menggenjot biodiesel berarti bergantung pada bahan baku domestik—yang juga memiliki dinamika sendiri, dari harga hingga keberlanjutan. Di sisi lain, efisiensi, kesiapan industri, dan dampak lingkungan akan terus menjadi bahan uji.

‎Pada akhirnya, B50 bukan hanya soal campuran bahan bakar. Ia adalah cerminan cara negara membaca dunia: penuh ketidakpastian, rawan gangguan, dan menuntut kesiapan.

‎Dalam situasi seperti itu, pilihan paling aman bukan menunggu harga turun, tetapi memastikan mesin tetap berjalan—apa pun yang terjadi di luar sana.

 

‎Red.

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page