SMP Negeri 9 PPU Gaungkan Sekolah Ramah Anak, Ajak Siswa Lawan Bullying.

Timur Media, Penajam — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan terus digaungkan oleh SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara (PPU). Melalui kegiatan sosialisasi pencegahan bullying, sekolah ini mendorong para siswa untuk berani bersuara sekaligus menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Kegiatan tersebut digelar pada Rabu, 15 April 2026, mulai pukul 08.00 WITA di lingkungan sekolah. Sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), yakni Nadhiratul Amalia yang memberikan pemahaman komprehensif terkait bahaya perundungan.

Kepala SMP Negeri 9 PPU, Kusmiati, secara langsung membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa bullying bukan sekadar candaan biasa, melainkan perilaku yang dapat berdampak serius terhadap kondisi mental dan masa depan korban.

“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua siswa. Tidak boleh ada rasa takut, apalagi sampai mengganggu proses belajar,” ujarnya di hadapan peserta.

Sebanyak 60 siswa dari perwakilan kelas VII dan VIII tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait perundungan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah.

Dalam pemaparannya, Nadhiratul Amalia menjelaskan berbagai bentuk bullying, mulai dari verbal, fisik, hingga perundungan di dunia digital. Ia juga menyoroti dampak jangka panjang yang bisa dialami korban, seperti menurunnya kepercayaan diri hingga gangguan kesehatan mental.

Tak hanya itu, siswa juga dibekali langkah-langkah konkret untuk mencegah dan menangani perundungan. Mulai dari berani melapor kepada guru, hingga membangun solidaritas antar teman agar tidak ada yang merasa sendirian saat menghadapi masalah.

“Jangan takut untuk melapor. Kalian tidak sendiri, ada guru dan pihak yang siap membantu,” pesannya.

Kegiatan ini juga menanamkan nilai empati dan kepedulian di kalangan siswa. Mereka diajak untuk saling menghargai perbedaan serta menciptakan lingkungan pertemanan yang positif dan inklusif.

Melalui sosialisasi ini, pihak sekolah berharap kesadaran siswa terhadap bahaya bullying semakin meningkat. Lebih dari itu, para peserta diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menciptakan budaya sekolah yang ramah anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

“Kami ingin siswa memiliki empati, saling menghargai, dan membangun pertemanan yang positif. Dengan sosialisasi ini, diharapkan mereka semakin sadar akan bahaya bullying dan mampu menjadi pelopor lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan,” tutupnya.(ADV)

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page