Asal-Usul Minuman Kopi di Yaman: Antara Legenda Sufi dan Fakta Sejarah

Asal-Usul Minuman Kopi di Yaman: Antara Legenda Sufi dan Fakta Sejarah
Oleh: Ickur
(Ketua LAKPESDAM NU Balikpapan)
Nama “mocha” yang melekat pada kopi dunia tidak sekadar merujuk pada rasa cokelat atau campuran minuman modern. Ia berasal dari pelabuhan Al-Makha (Mokha) di Yaman barat daya, pusat perdagangan kopi global selama berabad-abad. Di balik pelabuhan tersebut, terdapat kisah seorang tokoh sufi abad ke-15 yang kerap dikaitkan dengan awal mula pengolahan biji kopi menjadi minuman panas yang kita kenal sebagai qahwa.
Menurut berbagai sumber sejarah dan tradisi sufi, Syekh Ali bin Umar asy-Syadzili (juga dikenal sebagai Monk of Mokha atau Shohibul Mocha) dianggap sebagai figur penting dalam popularisasi minuman kopi di Yaman. Beliau hidup pada abad ke-15 Masehi dan wafat sekitar tahun 828 H (1424–1425 M). Ia tinggal di pelabuhan Mocha, tempat di mana kopi kemudian menjadi komoditas utama yang diekspor ke berbagai penjuru dunia.
Apa yang Diketahui tentang Syekh Ali bin Umar?
Syekh Ali bin Umar asy-Syadzili adalah seorang ulama dan sufi yang bermukim di Mocha. Beberapa narasi tradisional menyebutkan ia pernah berada di wilayah Ethiopia selatan, di mana ia mengenal biji kopi yang saat itu mungkin dikunyah atau diolah secara sederhana. Ia kemudian membawa pengetahuan tersebut kembali ke Yaman dan mengembangkannya menjadi minuman rebusan panas di Mocha.
Tradisi sufi menghubungkan perannya dengan kebutuhan spiritual: minuman kopi membantu para sufi tetap terjaga untuk beribadah malam hari. Ada syair-syair kuno yang dinisbahkan kepadanya yang memuji kopi sebagai penolong dalam dzikir dan ibadah. Nama “Mocha” sebagai sebutan kopi dunia pun berakar dari pelabuhan tempat beliau tinggal, yang menjadi pusat ekspor kopi Yaman selama ratusan tahun.
Perbandingan dengan Syekh Abu Bakar bin Salim
Tokoh lain yang sering disebut dalam tradisi kopi, terutama di Indonesia, adalah Syekh Abu Bakar bin Salim (Fakhrul Wujud, Shohibul Inat). Beliau lahir sekitar tahun 919 H (1513 M) dan wafat pada 992 H (1584 M) di Tarim, Hadramaut, Yaman timur. Ia hidup sekitar 80–100 tahun setelah Syekh Ali bin Umar.
Dalam sumber sejarah Yaman dan narasi global tentang asal-usul kopi, peran Syekh Abu Bakar bin Salim hampir tidak disebut sebagai pionir pengolahan atau popularisasi minuman kopi. Pada masanya, kopi sudah menjadi minuman yang relatif umum di kalangan sufi dan masyarakat Yaman. Beliau memang dikenal sangat mencintai kopi dan sering minum sambil berdzikir, namun kontribusinya lebih tercatat dalam tradisi lokal.
Latar Belakang Sejarah Kopi: Dari Ethiopia ke Yaman
Tanaman kopi (Coffea arabica) berasal dari wilayah pegunungan Ethiopia, di mana penduduk setempat mungkin sudah mengenal bijinya sejak lama, baik dikunyah maupun dibuat teh kulitnya. Namun, transformasi menjadi minuman rebusan panas yang dikonsumsi secara rutin terjadi di Yaman pada abad ke-15.
Bukti paling kredibel menunjukkan bahwa minuman kopi pertama kali muncul di kalangan sufi Yaman sekitar pertengahan abad ke-15. Para sufi menggunakan qahwa untuk menjaga stamina selama sesi dzikir malam yang panjang. Dari Yaman, kopi menyebar ke Mekah, Madina, Kairo, Damaskus, Baghdad, hingga Konstantinopel.
Pelabuhan Mocha menjadi simbol kejayaan tersebut. Selama hampir 200 tahun, hampir seluruh pasokan kopi dunia berasal dari Yaman melalui pelabuhan ini. Kopi Yaman dijaga ketat; biji hidup atau tanaman tidak boleh diekspor untuk mempertahankan monopoli. Baru pada abad ke-17, melalui penyelundupan oleh pedagang Belanda dan lainnya, kopi mulai dibudidayakan di Jawa, India, dan kemudian Amerika Latin.
Siapa yang Lebih Awal dan Lebih Relevan?
Dari sisi kronologi:
– Syekh Ali bin Umar asy-Syadzili: abad ke-15, wafat 828 H, tinggal di Mocha.
– Syekh Abu Bakar bin Salim: lahir 919 H, wafat 992 H, di Hadramaut.
Dalam narasi sejarah kopi Yaman dan global, Syekh Ali bin Umar lebih sering dikaitkan dengan awal mula pengolahan dan konsumsi kopi sebagai minuman di pelabuhan Mocha, yang kemudian menjadi pusat perdagangan dunia. Nama “Monk of Mokha” dan hubungannya dengan tarekat Syadziliyyah memperkuat posisinya sebagai patron saint kopi di Yaman.
Sementara itu, peran Syekh Abu Bakar bin Salim lebih menonjol dalam tradisi Indonesia. Cerita tentang tawasul dan “berkah kopi” beliau hidup kuat di kalangan masyarakat Muslim Nusantara karena pengaruh kuat doktrin Habaib. Namun, dalam sumber akademis tentang sejarah kopi, perannya sebagai pionir pengolahan di Yaman tidak terdokumentasi secara signifikan, karena beliau hidup di era ketika kopi sudah umum.
Kesimpulan
Dalam konteks asal-usul minuman qahwa di Yaman, peran Syekh Ali bin Umar asy-Syadzili sebagai figur yang terkait dengan pengolahan awal di Mocha lebih selaras dengan kronologi dan narasi sejarah yang tersedia. Sementara di Indonesia, Syekh Abu Bakar bin Salim tetap menjadi bagian penting yang diwariskan para Habaib ketika bercerita tentang “sejarah” kopi di Nusantara. ☕
Manggar, 30 Maret 2026