Harun Ar-Rasyid, Fase Golden Age Sejarah Islam

Harun Ar-Rasyid, Fase Golden Age Sejarah Islam
Nama khalifah Harun Ar-Rasyid sangat melegenda dalam sejarah Islam. Banyak anak dari keluarga Muslim memberi nama anaknya Harun Ar-Rasyid. Mari kita kulik riwayatnya sambil imagine seruput Koptagul, wak!
Nuan bayangkan! Panggung raksasa bernama Dinasti Abbasiyah. Fondasinya sudah dicor beton oleh Abu Ja’far Al-Manshur yang dingin, presisi, tanpa basa-basi. Lalu dipoles lebih manusiawi oleh Al-Mahdi menjadi lebih ramah, lebih “rakyat sentris.” Nah, masuklah tokoh utama kita, Harun Ar-Rasyid. Ini bukan sekadar khalifah. Ini paket lengkap. Pemimpin, ahli ibadah, jenderal perang, patron ilmu, dan… karakter utama drama politik paling mahal abad pertengahan.
Harun lahir di Ray (dekat Teheran sekarang) pada Maret 766 M (148 H). Nama lengkapnya Abu Ja’far Harun bin Muhammad Al-Mahdi bin Al-Manshur. Ayahnya khalifah, ibunya Al-Khayzuran, mantan budak dari Yaman yang naik jadi “ratu tak resmi” dengan pengaruh politik luar biasa. Jadi kalau ada istilah “anak emas negara,” Harun ini literally versi resminya.
Sejak kecil, dia tidak dididik untuk “cari kerja,” tapi untuk “ngasih kerjaan ke dunia.” Ia menghafal Alquran, belajar hadis, fikih, sastra, musik, geografi, ekonomi, sampai strategi militer. Gurunya, Yahya bin Khalid Al-Barmaki dari keluarga Barmakids, adalah mastermind pemerintahan. Ini bukan guru biasa. Ini orang yang tahu cara menjalankan negara seperti orang lain menjalankan warung.
Masuk usia muda, Harun langsung turun ke medan perang. Tahun 780–782 M, dia memimpin ekspedisi ke wilayah Byzantine Empire. Puncaknya, tahun 782 M, pasukannya sampai ke Bosporus, di depan Konstantinopel. Penguasa Romawi saat itu, Irene of Athens, sampai harus tanda tangan damai dan bayar upeti tahunan. Dari sini, Harun dapat gelar “Ar-Rasyid”—yang lurus, yang mendapat petunjuk. Belum jadi khalifah, tapi sudah bikin kekaisaran lain “auto tunduk.”
Tahun 786 M, setelah kakaknya Al-Hadi wafat mendadak, Harun naik takhta di usia sekitar 20 tahun. Anak muda, tapi langsung pegang salah satu imperium terbesar dunia. Kalau ini zaman sekarang, mungkin netizen sudah ribut, “Ini pengalaman kerjanya apa?” padahal jawabannya, menaklukkan setengah dunia.
Di tangannya, Abbasiyah masuk fase golden age. Baghdad bukan sekadar ibu kota, tapi pusat peradaban global. Ia mendirikan Baitul Hikmah (nanti dikembangkan lebih luas oleh anaknya, Al-Ma’mun), tempat penerjemahan besar-besaran dari Yunani, Persia, hingga India. Ilmuwan dihargai seperti selebritas. Konon, penerjemah dibayar emas seberat buku. Kalau sekarang, mungkin reviewer jurnal sudah jadi miliarder.
Ia juga membangun sistem administrasi rapi, ekonomi stabil, keamanan tinggi. Diceritakan sampai sulit mencari orang miskin untuk menerima zakat. Jalan aman, perdagangan hidup, negara makmur. Ini bukan sekadar negara kuat, ini negara yang bikin dunia lain minder.
Secara pribadi, Harun juga dikenal sangat saleh. Ia salat sunnah hingga 100 rakaat per hari, bersedekah 1000 dirham tiap hari, rutin haji dan jihad bergantian tiap tahun. Ia pernah menuangkan air untuk gurunya sendiri sebagai bentuk penghormatan. Di balik mahkota, ada kerendahan hati yang tidak dibuat-buat.
Namun… seperti semua cerita besar, selalu ada retakan di balik dinding megah.
Tahun 803 M, terjadi peristiwa paling mengguncang, jatuhnya keluarga Barmak. Ja’far al-Barmaki dieksekusi. Yahya dan keluarganya dipenjara. Kekayaan mereka disita. Ini keluarga yang selama ini menjalankan negara, bahkan membesarkan Harun sendiri.
Kenapa? Tidak ada jawaban pasti. Ada teori mereka terlalu kuat. Ada isu hubungan rahasia dengan Abbasa bint Al-Mahdi, saudari Harun. Ada juga analisis politik klasik, ketika bawahan terlalu berpengaruh, atasan mulai merasa “takhta ini masih milikku atau sudah dibagi diam-diam?”
Satu pelajaran pahit, dalam politik, kedekatan bisa berubah jadi ancaman dalam semalam.
Di sisi militer, Harun terus menekan Romawi, menaklukkan kota seperti Heraklea dan Ankara. Di level global, ia menjalin hubungan dengan Charlemagne. Sampeyan bayangkan, Baghdad dan Eropa Barat sudah “chatting diplomatik” di abad ke-8. Dunia sudah global sebelum istilah globalisasi ditemukan.
Menjelang akhir hayat, muncul pemberontakan besar oleh Rafi ibn al-Layth di Samarkand. Tahun 809 M, Harun sendiri berangkat ke Khurasan. Ini bukan sekadar perjalanan militer, ini seperti bab penutup seorang raja besar.
Di perjalanan, di daerah Thus (Iran sekarang), ia jatuh sakit. Ada kisah mistis, ia pernah bermimpi tentang tanah merah, tempat ia akan wafat. Ketika tanah itu ditemukan, warnanya sama. Seolah takdir sudah menulis ending-nya jauh hari.
Tanggal 24 Maret 809 M (3 Jumadil Akhir 193 H), Harun wafat di usia sekitar 43–45 tahun. Bukan di istana Baghdad, tapi di tanah asing. Jenazahnya dishalatkan oleh putranya, Shalih. Sebelum wafat, ia berdoa memohon ampun, sebuah akhir yang sunyi untuk kehidupan yang begitu gemuruh.
Namun warisan terbesarnya bukan hanya kejayaan… tapi juga konflik.
Ia meninggalkan dua pewaris utama, Al-Amin (putra dari Zubaidah) dan Al-Ma’mun (putra dari Marajil). Satu berdarah bangsawan Arab murni, satu berdarah Persia. Satu mewakili pusat kekuasaan, satu mewakili wilayah timur.
Hasilnya? Perang saudara. Abbasiyah yang tadinya seperti matahari di puncak langit… mulai retak dari dalam.
Jadi begini, wak. Kalau ada yang bilang Harun Ar-Rasyid itu sekadar khalifah hebat, itu kurang. Dia adalah simbol puncak peradaban, di mana ilmu, kekuasaan, iman, dan ambisi bertemu dalam satu tubuh. Seperti semua puncak… setelah itu, yang tersisa hanya satu arah, turun.
Next Article, Kisah Abu Nawas, tunggu ya!
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar