Terminal Lama Sepinggan

Terminal Lama Sepinggan: Dari Pintu Kota Menjadi Ruang Ingatan
Ada masa ketika setiap orang yang datang ke Balikpapan pertama kali menginjakkan kaki di terminal lama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Dari ruang itulah kota minyak ini menyapa dunia: para pekerja migas, pedagang, hingga perantau yang datang.
Namun waktu bergerak cepat. Terminal baru berdiri lebih besar dan modern. Bangunan lama itu pun perlahan kehilangan perannya—seperti banyak ruang kota lain yang tertinggal.
Kini, denyut itu mulai kembali terasa. Pemerintah memanfaatkan kawasan terminal lama sebagai zona pick up dan drop off transportasi publik. Langkah yang tampak sederhana ini menyimpan makna lebih luas: upaya membangun simpul transportasi yang lebih terhubung dengan kawasan Ibu Kota Nusantara sekaligus menghidupkan kembali ruang kota yang sempat sunyi.
Bagi anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Wahyullah Bandung, pemanfaatan kembali kawasan ini bukan sekadar soal transportasi. “Balikpapan sebenarnya diuntungkan dengan adanya kegiatan ini karena kualitas layanan Bacitra ke depan akan semakin baik. Selain itu juga ada integrasi antarmoda dengan kawasan IKN,” ujarnya.
Transportasi, dalam pandangan Wahyullah, hanyalah pintu awal. Yang lebih penting adalah bagaimana ruang kota lama tidak dibiarkan menjadi bangunan mati di tengah perkembangan kota.
Terminal lama Sepinggan menyimpan potongan sejarah Balikpapan: tempat perjumpaan orang-orang dari berbagai daerah, ruang transit bagi kota yang sejak lama hidup dari mobilitas.
“Ini juga menarik karena terminal lama bandara kembali dimanfaatkan. Harapannya tidak hanya untuk transportasi, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi ruang kegiatan masyarakat,” katanya.
Dari gagasan itu muncul bayangan lain: menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang ekonomi rakyat sekaligus ruang ingatan kota. Wahyullah membayangkan area terminal lama dapat diisi aktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tidak hanya itu, ia bahkan melihat potensi menjadikannya museum kota—tempat yang menyimpan cerita tentang bagaimana Balikpapan tumbuh dari kota pelabuhan kecil menjadi simpul penting di Kalimantan.
“Bayangan saya, selain menjadi tempat aktivitas UMKM, bisa juga dikembangkan menjadi museum kota yang menceritakan sejarah perkembangan Balikpapan,” ujarnya. Gagasan itu menyentuh satu persoalan yang sering terjadi di kota-kota yang tumbuh cepat: ruang lama kerap ditinggalkan tanpa makna baru.
Padahal, ruang kota tidak hanya berfungsi secara ekonomi atau teknis. Ia juga menyimpan identitas. Tanpa ruang ingatan, kota mudah kehilangan ceritanya sendiri.
Di saat yang sama, Wahyullah menyoroti masa depan sistem transportasi Balikpapan yang masih terus berkembang. Saat ini armada Bus Balikpapan City Trans (Bacitra) berjumlah sekitar 24 unit, dan ke depan diharapkan mampu bertransformasi menjadi transportasi yang lebih ramah lingkungan.
“Ke depan kita berharap bus Bacitra bisa bertransformasi menjadi bus listrik, sehingga tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil,” katanya. Selain itu, ia juga menyebut adanya wacana pengembangan moda transportasi massal lain, termasuk kemungkinan sistem kereta untuk menunjang mobilitas masyarakat di masa depan.
Di tengah rencana besar itu, terminal lama Sepinggan mungkin hanya satu titik kecil di peta pembangunan. Namun sering kali kota justru diingat bukan dari proyek terbesarnya, melainkan dari ruang-ruang yang berhasil diberi kehidupan kedua.
Jika gagasan itu terwujud—menjadi simpul transportasi, ruang UMKM, sekaligus museum kota—terminal lama Sepinggan tidak sekadar hidup kembali. Ia akan menjadi pengingat bahwa pembangunan kota tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu, tetapi juga merawatnya sebagai bagian dari masa depan.
red.