Sekali-kali Membicarakan Jokowi tanpa Ijazahnya

Sekali-kali Membicarakan Jokowi tanpa Ijazahnya

Kalau mendengar kata Jokowi, sebagian orang langsung ingat ijazah. Entah kenapa, ijazah itu selalu muncul seperti hantu penasaran yang tidak pernah mau move on. Seolah-olah seluruh bangsa ini punya trauma masa kecil dengan map plastik warna biru. Tapi kali ini mari kita coba bicara tentang Jokowi tanpa ijazah, walaupun energi gaibnya tetap terasa, seperti ingin menyelip masuk ke paragraf mana pun.

Siapkkan Koptagul agar otak selalu encer dan waras!

Infonya Presiden ke-7 RI, Joko Widodo akan turun gunung untuk memenangkan PSI di Pemilu 2029. Turun gunungnya bukan sembarang kiasan, lebih mirip adegan film fantasi di mana sang mantan presiden membuka jubah, memegang tongkat, lalu berkata, “Saatnya kaum muda bangkit!” PSI pun langsung membeberkan, Jokowi berjanji bakal membantu perjuangan partai bergambar gajah tersebut. Iya, gajah, hewan yang tidak bisa melompat tapi entah kenapa PSI percaya bisa menukik naik ke langit politik.

Namun PSI, dengan wajah penuh kelembutan seperti anak mengingatkan bapaknya minum jamu, meminta Jokowi untuk istirahat dulu. Biar pulih 100 persen. Biar nanti saat 2027 tiba, Jokowi bisa kembali prime, seperti robot mecha yang baru ganti aki. Menurut mereka, pertarungan sesungguhnya baru akan terjadi di 2027, 2028, dan 2029. Tahun-tahun sebelumnya cuma masa pemanasan, seperti game tutorial yang membosankan.

PSI yakin, ketika Jokowi turun gunung nanti, akan terjadi badai politik besar. Sebegitu besarnya sampai kader partai pemenang pun bisa-bisa pada migrasi ke PSI. Nuan bayangkan! Politisi berbondong-bondong pindah partai kayak arus ikan pindang saat musim kawin. Indonesia bisa jadi negara dengan fenomena langka, perpindahan politisi massal karena “auranya Jokowi”.

Ketua Harian PSI Ahmad Ali mengungkapkan, Jokowi sudah berjanji akan tempur bersama mereka. Katanya, Pakde sudah berjanji totalitas berjuang bersama-sama. Kata “bersama-sama” diulang dua kali, mungkin biar lebih sakral, seperti kalimat mantra. Ia juga menegaskan, Jokowi dijadikan patron bukan karena status presiden atau mantan presiden, apalagi ayah dari Ketum PSI Kaesang Pangarep. Bukan. Tapi karena Jokowi orang kampung. Ini alasan paling plot twist dalam sejarah politik, patron karena kampung.

Ia menambahkan, Jokowi bukan raja, bukan ningrat, bukan keturunan orang kaya, cuma warga biasa yang naik level hingga jadi presiden karena kejujuran dan integritas. Sebuah narasi yang begitu bersih hingga terasa seperti iklan sabun.

Ali juga mengeluh, publik tidak pernah pusing melihat mantan presiden lain sibuk berpolitik. Megawati masih Ketua Umum PDIP. SBY masih Ketua Majelis Tinggi Demokrat. Tapi ketika Jokowi melirik politik sedikit saja, netizen langsung mencari kotak hitam. Ia bertanya, “Kok yang lain tidak direpotin?” Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa dijawab dengan satu kata: rating.

Soal tuduhan cawe-cawe, Ali memberikan kuliah umum. Katanya, coba cek seluruh Indonesia, berapa anak gubernur yang jadi kepala daerah? Berapa anak bupati yang jadi bupati? Tapi ketika anak presiden maju sedikit saja, negara seperti gempa magnitudo 9.

Ali berharap pada Prabowo Subianto yang selalu mengingatkan untuk menghormati pemimpin terdahulu. Jangan dipuja saat berkuasa, lalu dikuyuk setelah lengser. Sebuah nasihat penuh kebapakan yang ironis karena bangsa ini memang hobi ngekuyuk.

Ingat, pada Kongres PSI di Solo, Jokowi sendiri sudah bilang “Saya full mendukung PSI.” Bahkan ia punya feeling, PSI akan jadi partai besar, bukan 2029, tapi 2034.

Gimana wak, kalau membicarakan Jokowi tanpa menyenggol ijazahnya? Saya sih tetap asyik ngopi.

Kalau mendengar kata Jokowi, sebagian orang langsung ingat ijazah. Entah kenapa, ijazah itu selalu muncul seperti hantu penasaran yang tidak pernah mau move on. Seolah-olah seluruh bangsa ini punya trauma masa kecil dengan map plastik warna biru. Tapi kali ini mari kita coba bicara tentang Jokowi tanpa ijazah, walaupun energi gaibnya tetap terasa, seperti ingin menyelip masuk ke paragraf mana pun.

Siapkkan Koptagul agar otak selalu encer dan waras!

Infonya Presiden ke-7 RI, Joko Widodo akan turun gunung untuk memenangkan PSI di Pemilu 2029. Turun gunungnya bukan sembarang kiasan, lebih mirip adegan film fantasi di mana sang mantan presiden membuka jubah, memegang tongkat, lalu berkata, “Saatnya kaum muda bangkit!” PSI pun langsung membeberkan, Jokowi berjanji bakal membantu perjuangan partai bergambar gajah tersebut. Iya, gajah, hewan yang tidak bisa melompat tapi entah kenapa PSI percaya bisa menukik naik ke langit politik.

Namun PSI, dengan wajah penuh kelembutan seperti anak mengingatkan bapaknya minum jamu, meminta Jokowi untuk istirahat dulu. Biar pulih 100 persen. Biar nanti saat 2027 tiba, Jokowi bisa kembali prime, seperti robot mecha yang baru ganti aki. Menurut mereka, pertarungan sesungguhnya baru akan terjadi di 2027, 2028, dan 2029. Tahun-tahun sebelumnya cuma masa pemanasan, seperti game tutorial yang membosankan.

PSI yakin, ketika Jokowi turun gunung nanti, akan terjadi badai politik besar. Sebegitu besarnya sampai kader partai pemenang pun bisa-bisa pada migrasi ke PSI. Nuan bayangkan! Politisi berbondong-bondong pindah partai kayak arus ikan pindang saat musim kawin. Indonesia bisa jadi negara dengan fenomena langka, perpindahan politisi massal karena “auranya Jokowi”.

Ketua Harian PSI Ahmad Ali mengungkapkan, Jokowi sudah berjanji akan tempur bersama mereka. Katanya, Pakde sudah berjanji totalitas berjuang bersama-sama. Kata “bersama-sama” diulang dua kali, mungkin biar lebih sakral, seperti kalimat mantra. Ia juga menegaskan, Jokowi dijadikan patron bukan karena status presiden atau mantan presiden, apalagi ayah dari Ketum PSI Kaesang Pangarep. Bukan. Tapi karena Jokowi orang kampung. Ini alasan paling plot twist dalam sejarah politik, patron karena kampung.

Ia menambahkan, Jokowi bukan raja, bukan ningrat, bukan keturunan orang kaya, cuma warga biasa yang naik level hingga jadi presiden karena kejujuran dan integritas. Sebuah narasi yang begitu bersih hingga terasa seperti iklan sabun.

Ali juga mengeluh, publik tidak pernah pusing melihat mantan presiden lain sibuk berpolitik. Megawati masih Ketua Umum PDIP. SBY masih Ketua Majelis Tinggi Demokrat. Tapi ketika Jokowi melirik politik sedikit saja, netizen langsung mencari kotak hitam. Ia bertanya, “Kok yang lain tidak direpotin?” Sebuah pertanyaan yang mungkin bisa dijawab dengan satu kata: rating.

Soal tuduhan cawe-cawe, Ali memberikan kuliah umum. Katanya, coba cek seluruh Indonesia, berapa anak gubernur yang jadi kepala daerah? Berapa anak bupati yang jadi bupati? Tapi ketika anak presiden maju sedikit saja, negara seperti gempa magnitudo 9.

Ali berharap pada Prabowo Subianto yang selalu mengingatkan untuk menghormati pemimpin terdahulu. Jangan dipuja saat berkuasa, lalu dikuyuk setelah lengser. Sebuah nasihat penuh kebapakan yang ironis karena bangsa ini memang hobi ngekuyuk.

Ingat, pada Kongres PSI di Solo, Jokowi sendiri sudah bilang “Saya full mendukung PSI.” Bahkan ia punya feeling, PSI akan jadi partai besar, bukan 2029, tapi 2034.

Gimana wak, kalau membicarakan Jokowi tanpa menyenggol ijazahnya? Saya sih tetap asyik ngopi.

Turun gunung pagi ditemani kabut

Gajah PSI siap menari di tengah kota

Jokowi tersenyum, janji politik mau rebut

Netizen heboh persaingan bakal membara

Di beranda kampung angin malam berbisik

PSI menanti patron dengan harapan menyala

Cawe-cawe dituduh, drama politik makin epik

Jokowi bilang “full dukung”, langsung riuh se-negara.

Foto Ai hanya ilustrasi saja

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page