Tokoh Masyarakat Kaltim Sesalkan Pernyataan “Orang Luar”

TIMURMEDIA, SAMARINDA – Sikap dan pernyataan anggota DPRD Kaltim berinisial AG yang diduga bernuansa SARA, menimbulkan gelombang protes di masyarakat. Setelah Sudarno –anggota DPRD Kaltim periode 2009–2014– kini kritik serupa juga datang dari Decky Samuel.
Ketua Umum Solidaritas Rakyat Kaltim Bersatu (SRKB) tersebut mengaku, awalnya tak mengetahui secara pasti jika dua di antara tiga sosok di video yang beredar adalah pejabat publik. Ia mengatakan hanya menyimak penjelasan soal seseorang yang dilaporkan ke Polda Kaltim terkait aktivitas di media sosial.
“Saya coba mendengar berulang-ulang pernyataan beliau (AG, Red.) itu. Setelah tahu beliau anggota DPRD, saya menyayangkan. karena beliau terlalu emosional, ya,” ujarnya, Senin (14/10/2025).
“Saya mendengar, ya, bukan sepintas lagi. Berulang-ulang. Dan saya menangkap kalimat itu, ‘orang dari luar’,” imbuh Decky.
Ia menekankan, kendati tidak mengucapkan sesuatu yang SARA, pernyataan ‘orang luar’ dianggap kurang tepat. Terlebih, ada penekanan pada kalimat ‘mencari makan di sini’. Makanya kesan yang ditimbulkan, justru memecah NKRI.
“Sekalipun dari pulau yang lain, kita harus saling menghormati budaya dan adat istiadat setempat. Tapi untuk masalah cari makan, masalah hidup, apalagi sudah bertahun-tahun ada di Kaltim, saya pikir ya itu warga Kaltim. Apalagi kalau punya KTP Kaltim. Otomatis dia orang Kaltim, kan?” ucap Decky.
Disamping itu, ia menyatakan, konteks pernyataannya bukan soal kasus yang sedang dilaporkan ke Polda Kaltim. Melainkan pada sikap dan pernyataan AG sebagai pejabat publik dalam merespon kasus itu.
“Saya bukan bicara konteks laporan mereka, ya. Saya enggak tahu siapa yang mereka lapor itu. Tapi maksud saya, selevel seorang wakil rakyat, mestinya sudah selesai dengan persoalan-persoalan yang begini,” ungkap Decky.
Saat ini, lanjutnya, masyarakat Kaltim menerima keberadaan ‘orang luar’. Bukti konkretnya paling anyar ada di IKN. Makanya, Decky berharap, polemik yang muncul di publik melalui media sosial tidak perlu diperpanjang.
Bagi Decky, masalah ini harusnya jadi bahan evaluasi. Bahwa hidup di Kaltim sangat heterogen dengan banyaknya perbedaan-perbedaan.
“Harus disadari Indonesia adalah NKRI. Apalagi Kaltim ini sudah jadi tempatnya IKN. Kita harus membuka diri dengan banyak orang. Kaltim juga harus mempersiapkan diri, terutama SDM-nya,” ulasnya. (*)