Menolong Tanpa Panggung

Abdul Sattar Edhi memulai semuanya dari jalanan. Ia bukan dokter, bukan pejabat, bukan tokoh agama. Ia hanya seorang pemuda miskin yang membeli sebuah mobil tua—nyaris rongsokan—lalu menggunakannya untuk mengangkut orang-orang sakit yang tak punya siapa-siapa. Dari kendaraan itulah sebuah jaringan kemanusiaan tumbuh.

Edhi tidak membangun organisasinya dengan jargon. Ia membangunnya dengan tindakan. Sepanjang hidupnya, ia memilih satu pekerjaan yang sama: menolong, lalu menolong lagi. Tak ada jeda. Tak ada panggung.

Di depan wisma Edhi Foundation, ia meletakkan keranjang bayi. Di atasnya, sebuah pesan singkat digantungkan: “Jangan bunuh bayi ini. Letakkan saja di sini. Biar saya yang jadi bapaknya.” Kalimat itu bukan retorika. Dari keranjang-keranjang itulah, sekitar 20 ribu anak terlantar diselamatkan, dibesarkan, dan disekolahkan. Mereka tumbuh tanpa tahu siapa orang tua kandungnya, tapi tahu siapa yang memilih mereka saat dunia menolak.

Ironinya, organisasi yang ia dirikan kemudian memiliki armada ambulans terbesar di dunia. Helikopter. Jaringan layanan darurat lintas kota. Namun Edhi sendiri hidup nyaris tanpa apa-apa. Ia hanya memiliki dua pasang pakaian. Ia tidur di ruangan sempit di belakang kantor. Kekayaan, baginya, selalu terasa seperti gangguan.

Ia tak pernah tertarik mengubah hidupnya, hanya kehidupan orang lain.

Ketika Abdul Sattar Edhi wafat, Pakistan berkabung. Bukan karena kehilangan seorang filantropi besar, tapi karena kehilangan sesuatu yang lebih langka: teladan. Ia disebut Father of the Poor—Ayah Kaum Miskin. Gelar yang tak pernah ia minta, tapi diterima dengan sunyi.

Di dunia yang gemar memamerkan kebaikan, Edhi memilih hidup kecil. Dan justru dari kesederhanaan itulah, namanya menjadi terlalu besar untuk dilupakan.

Selengkapnya...
Back to top button

You cannot copy content of this page