20 Juta Pelayat Bukti Pemimpin Dicintai dan Selalu Didoakan

20 Juta Pelayat Bukti Pemimpin Dicintai dan Selalu Didoakan
Ada satu kenyataan yang tak pernah bisa dikalahkan oleh kekuasaan. Jabatan memiliki masa jabatan. Istana memiliki pintu keluar. Kekayaan memiliki ahli waris. Tetapi nama baik… bisa hidup jauh melampaui usia pemiliknya. Itulah yang tampak dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Kita lanjutkan prosesi pemakaman jenazah Ali Khamenei yang menggerakkan jutaan rakyat Iran. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak.
Lautan manusia memenuhi jalan-jalan Iran. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang hadir mengantarkan kepergian sosok yang selama 37 tahun memimpin Republik Islam Iran. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah kisah tentang bagaimana seorang pemimpin akhirnya diantar oleh rakyatnya menuju perjalanan terakhir.
Media Iran berulang kali menggambarkan kehidupan pribadi almarhum sebagai sosok sederhana. Rumah yang ditempatinya disebut hanya sekitar 60 meter persegi. Tidak ada vila-vila megah, tidak ada kompleks istana pribadi, tidak ada kemewahan dipamerkan kepada dunia. Dalam berbagai catatan publik, harta pribadinya disebut sekitar 50 ribu dolar Amerika, berupa tabungan dan barang-barang sederhana. Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang selalu mengiringi setiap tokoh besar dunia, kesederhanaan itulah yang diyakini para pendukungnya menjadi salah satu alasan mengapa jutaan orang rela berdiri berjam-jam hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.
Lalu sejarah pun kembali berbicara.
Tidak banyak manusia wafatnya mampu menghentikan aktivitas jutaan orang sekaligus. Sebelum Khamenei, dunia mengenal pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. Diperkirakan dihadiri sekitar 10 juta pelayat.
India pernah mencatat pemakaman C.N. Annadurai dengan sekitar 15 juta orang. Ini salah satu terbesar menurut Guinness World Records. Mahatma Gandhi diantar sekitar 1 hingga 2 juta pelayat. Kemudian, Paus Yohanes Paulus II sekitar 4 juta umat. Sedangkan Jawaharlal Nehru sekitar 1,5 juta orang. Jika angka lebih dari 20 juta benar adanya, maka prosesi pemakaman Ali Khamenei menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.
Namun sesungguhnya, pelajaran terbesar bukanlah tentang angka. Dua puluh juta orang tidak bisa membeli kehidupan seseorang kembali. Dua puluh juta orang tidak mampu mengulang satu detik pun waktu yang telah berlalu.
Dua puluh juta orang hanya menjadi saksi, pada akhirnya manusia akan diingat bukan karena apa yang dibawa saat lahir, melainkan apa yang ditinggalkan saat pergi. Di sinilah sejarah sering menyampaikan nasihat paling keras kepada setiap penguasa.
Ketika sirene pengawalan berhenti berbunyi. Ketika mobil dinas telah menjadi milik pejabat berikutnya. Ketika ruang kerja berganti nama. Ketika foto resmi diturunkan dari dinding. Apa yang masih tersisa?
Apakah rakyat datang karena cinta? Ataukah mereka datang karena sekadar memenuhi undangan resmi?
Tidak ada warisan lebih mahal dari kepercayaan rakyat. Jabatan dapat diperoleh melalui pemilu, penunjukan, kekuatan politik. Namun penghormatan tulus hanya lahir dari kehidupan yang dianggap memberi manfaat bagi orang lain.
Ironinya, banyak manusia menghabiskan seluruh hidupnya mengejar kekayaan. Ini seolah rekening bank dapat dibawa ke alam kubur. Ada membangun istana megah, mengumpulkan kendaraan mewah, mempertaruhkan amanah demi memperkaya diri. Padahal ketika perjalanan hidup berakhir, peti jenazah tetap memiliki ukuran sama bagi semua orang.
Sejarah tidak pernah menghafal saldo rekening. Sejarah menghafal jejak.
Karena itu, setiap pemimpin sesungguhnya sedang menulis epitafnya sendiri setiap hari. Dengan setiap keputusan yang dibuat, dengan setiap amanah yang dijaga atau dikhianati, dengan setiap rupiah yang diselamatkan atau dikorupsi, ia sedang menentukan bagaimana kelak rakyat akan mengenangnya.
Mungkin inilah renungan paling berharga dari sebuah pemakaman besar. Bukan tentang siapa paling berkuasa, melainkan tentang siapa paling memberi arti. Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena lamanya memegang jabatan, melainkan karena besarnya manfaat yang ditinggalkan. Ketika hari terakhir itu tiba, tidak ada penghormatan lebih agung dari doa tulus lahir dari hati rakyat, bukan karena perintah, melainkan karena rasa hormat yang tumbuh dari keteladanan.
“Bang, jangan sampai nanti kita mati, lalu warga bilang, untunglah cepat mati, dari pada hidup nyusahkan rakyat.”
“Aamin, wak. Kuncinya, orang baik dikenang baik. Kalau suka khianat, rakyat pun mengingatnya.”
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar