120 Penulis Indonesia, Saatnya Menyerbu Dunia

120 Penulis Indonesia, Saatnya Menyerbu Dunia
Selama ini nasib penulis Indonesia kadang mengharukan. Buku ditulis berbulan-bulan. Dicetak. Diluncurkan. Difoto sambil tersenyum. Setelah itu dibawa pulang. Lalu dibaca sendiri.
Kalau beruntung, dibaca pasangan. Kalau sangat beruntung, dibaca tetangga. Duh, sedihnya. Tapi, tak semua begitu sih. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ketika Ketua Umum Satupena Denny JA mengatakan ingin membawa 120 penulis Indonesia goes to international dalam lima tahun ke depan, saya langsung merasa, ini bukan lagi urusan buku masuk rak. Ini sudah mau menyerbu dunia.
Untuk pertama kalinya, pengurus Perkumpulan Penulis Indonesia (Satupena) se-Indonesia periode 2026–2031 bertemu secara online. Pertemuan bertajuk “Jumpa Pengurus Baru Satupena 2026–2031 dan Sosialisasi AD/ART” itu di-host Amelia Fitriani dan Elza Peldi Taher.
Dari layar, muncul pengurus dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Saya tentu hadir sebagai Ketua Satupena Kalbar.
Denny JA kemudian melempar sebuah mimpi ukurannya bukan lagi sebesar lapangan sepak bola, tetapi sudah seperti stadion. Dalam lima tahun, 120 penulis Indonesia ditargetkan menembus pasar internasional.
Caranya? Buku diterjemahkan ke bahasa Inggris, kemudian dijual melalui Google Book. Hasil penjualan diserahkan sepenuhnya kepada penulis. Nah, ini kalimat biasanya membuat telinga penulis langsung berdiri.
Hasil penjualan untuk penulis. Bukan sekadar sertifikat. Bukan sekadar foto peluncuran. Bukan sekadar ucapan, “Selamat, bukunya keren.”
Denny juga mengatakan sudah menyiapkan tim khusus yang akan menangani penerbitan buku tersebut. Berikutnya Satupena akan menyusun petunjuk sebagai panduan bagi seluruh penulis.
Jadi bukan model,
“Wak, ayo go international!”
“Caranya?”
“Ya, go saja.”
Bukan begitu. Jalurnya mulai disiapkan. Ini penting. Sebab menjadi penulis internasional bukan hanya mengganti bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Cerita harus punya daya tarik. Gagasan harus kuat. Naskah harus rapi. Terjemahan harus bermutu. Penerbitan harus profesional. Distribusi harus jelas. Kalau tidak, bukunya sudah bahasa Inggris, tetapi pembacanya tetap Pak RT.
Setelah Denny mengajak semua orang terbang dengan imajinasi internasional, giliran Sekjen Jonminifro menjelaskan tugas dan fungsi pengurus serta organisasi. Begitulah organisasi. Baru saja diajak membayangkan London, langsung disuruh membaca AD/ART. Mimpi setinggi langit, administrasi tetap membumi.
Dalam pertemuan itu juga dibahas rencana masing-masing koordinator pulau (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua) membuat buku ontologi dengan melibatkan pengurus di provinsi dan kabupaten. Para penulis akan menulis sesuai tema yang ditentukan.
Ini langkah bagus. Sebab organisasi penulis jangan sampai cuma menghasilkan rapat tentang menulis. Penulis harus menghasilkan tulisan.
Kalimantan sendiri punya bahan cerita luar biasa. Hutan, sungai, masyarakat adat, tradisi, sejarah, perubahan sosial, ekonomi, budaya, bahkan kelucuan kehidupan sehari-hari. Semuanya bisa menjadi cerita yang dibaca dunia.
Saya pribadi semakin bersemangat segera menyiapkan buku yang bisa goes to international. Selama ini mungkin kita terlalu sering berpikir, “Apakah tulisan saya bagus?” Sekarang pertanyaannya harus dinaikkan kelas, “Apakah tulisan saya cukup kuat untuk membuat orang di luar Indonesia penasaran?”
Sebab dunia tidak kekurangan buku. Dunia kekurangan cerita membuat orang berhenti membaca buku lain. Mungkin, suatu hari nanti, seorang pembaca di London, Tokyo, New York, atau Melbourne membuka Google Book lalu menemukan nama penulis dari Kalimantan.
Ia membaca. Terdiam. Kemudian berkata, “Who is this Indonesian writer?” Lalu, ada yang jawab, “Presiden Partai Koptagul, sir.”
Nah! Kalau sampai itu terjadi, kita tidak lagi sekadar menulis dari Indonesia. Kita sedang membuat Indonesia dibaca dunia. Aminkanlah, wak!
Sekadar informasi, kami di Satupena selalu melakukan zoom meeting setiap malam Jumat. Itu rutin setiap minggu kurang lebih enam tahun terakhir. Saya sendiri sudah tiga kali jadi narsum. Bisa dikatakan zoom Satupena paling konsisten di negeri ini Mungkin bisa masuk MURI.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani