Editorial

Wuhan dan Nasib Wisata Indonesia

MASIH INGAT dengan zombi di Wuhan? Yang awal kali Covid-19 meledak menjadi trigger menularnya ketakutan global. Yang entah apakah itu zombi jadi-jadian, rekayasa atau kenyataan.

Saat itu orang-orang bak ikan yang menggelepar di jalanan, mendadak pingsan, dan varian visual mengerikan lain terpampang di banyak video yang dulu tersebar. Dan entah, kemana pula perginya zombi Wuhan sekarang? Sebaliknya, saat dunia masih disibukan dengan korona, Wuhan malah berpesta pora.

Bahkan, pada 1-7 Oktober silam, Cina justru menggelar Perayaan Raksasa Asia di provinsi Hubei. Tak tanggung-tanggung, perayaan ini menarik lebih dari 52 juta wisatawan. Sedang di Wuhan sendiri, menurut departemen budaya dan pariwisata provinsi menerima pengunjung sebanyak 19 juta orang.

Ya, Wuhan kota utama sumber penularan virus telah menarik belasan juta wisawatan.

Mengacu data resmi Biro Pariwisata Wuhan, selama pekan libur nasional di Cina awal Oktober silam, jalan-jalan di Wuhan, justru ramai dikunjungi turis lokal. Tercatat ada sekitar 637 juta warga Cina melakukan perjalanan selama Golden Week tahun ini.

Dari data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Cina, arus wisatawan itu telah menyumbang geliat pertumbuhan ekonomi mereka. Nilainya sekitar 466,6 miliar Yuan atau lebih dari Rp 1 triliun. Bahkan, jumlah wisatawan saat Golden Week tahun ini mencapai 80 persen dibanding tahun lalu, dan belanja pariwisata menembus 70 persen dari sebelum pandemi.

Bahkan, meski ada pergerakan ratusan juta orang, tetapi tetap belum ada laporan wabah baru Covid-19 sepekan setelah geliat pariwisata digerakan. Bahkan, saat ini lebih dari 20 juta penduduk Beijing, Ibu Kota Cina, tidak lagi wajib menggunakan masker. Sedangkan di Indonesia, masyarakat justru diberi sanksi bagi yang tidak menggunakan masker.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia tengah memulihkan ekonomi sektor pariwisata. Melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengupayakan geliat wisata dengan melaksanakan program sertifikasi Clean, Health, Safety and Environment atau CHSE.

Program pemberian sertifikasi ini diperuntukkan bagi usaha pariwisata, lingkungan masyarakat dan destinasi wisata. Para pelaku usaha pun diminta mendaftarkan sertifikasi itu. Khusus Kaltim, diberi jatah kouta untuk 229 pendaftar. Namun, sampai 26 November 2020 baru 104 yang tertarik mendaftar. Sedangkan deadlinenya terbatas sampai akhir bulan ini.

Artinya dengan sisa waktu yang ada, tidak sampai 50 persen yang mau mendaftar. Bisa jadi ada beberapa pertimbangan kenapa kouta yang diberi besar tapi peminatnya minim. Analisa yang mengemuka, antara lain, Kaltim bukanlah destinasi wisata utama bagi wisawatan. Masih kalah jauh dibanding Bali atau daerah lain di Pulau Jawa. Bahkan, mapping wisata Indonesia juga tidak jelas.

Kemudian, efektivitas sertifikasi itu juga tak menjami tempat wisata bisa ramai. Siapa yang bisa memastikan kalau hanya dengan sertifikasi, wisatawan tertarik? Tapi, tempat wisata diperketat harus ini dan itu. Apalagi jika fasilitas dan sarana pendukung tempat wisata juga tidak dikembangkan. Misalnya akses jalan, kemudahan transportasi, dan lainnya.

Dengan kata lain, program sertifikasi ini bisa berujung pada kesia-siaan belaka. Bahkan, amat mubadzir dan sekadar membuat proyek dadakan akhir tahun.

Kita bisa belajar dari Swedia, Tanzania, Australia, misalnya. Di tengah kepanikan global, mereka berani membuat kebijakan melawan arus mainstream. Mereka enggan mengikuti protokol ala WHO. Tidak ada lockdown, tidak memperbanyak tracing, rapid, swab, bahkan tidak masyarakatnya tidak mewajibkan masker. Hasilnya, bebas merdeka. Normal sebagaimana kehidupan manusia. Berinteraksi, berkerumun, bernafas bebas.

Dari data realtime global, kasus Covid-19 sampai 28 November 2020 menunjukan, sudah 43,1 juta jiwa pasien korona di dunia sembuh. Tingkat kesembuhan global tembus 97 persen. Bahkan, dari 17 juta kasus aktif, hanya 0,6 persen yang dalam kondisi kritis. Sedangkan 99,4 persen kondisinya stabil. Padahal, kalau membandingkan dengan data sebulan lalu, tingkat kesembuhan 95 persen dan kritis satu persen.

Dengan kata lain, data ini memberi gambaran jelas jika setiap hari justru menunjukan kabar gembira. Angka kesembuhan naik, tingkat kematian turun dan pasien kritis juga turun. Bahkan, tanpa vaksin apapun. Data realtime ini bisa dilihat di situs: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Begitu pun perkembangan kasus di Indonesia. Tingkat kesembuhan sampai 28 November 2020 telah mencapai 83,7 persen. Data ini terpampang dalam situs https://covid19.go.id/peta-sebaran

Padahal sudah berkali-kali masyarakat Indonesia turun ke jalan dalam jumlah besar. Dari aksi-aksi demonstrasi penolakan Omnibus UU Cilaka, kampanye Pilkada sampai penyambutan Habib Rizieq yang mencipta lautan manusia. Faktanya, tidak ada satu pun zombi yang muncul, laiknya zombi Wuhan.

Tingkat kesembuhan nasional dan global juga meningkat. Bahkan, di bebearapa negara Eropa sejak Agustus sampai November lebih sering terjadi aksi demonstrasi yang diikuti jutaan orang. Bisa jadi, herd immunity alami telah terbentuk. Wajah Covid-19 yang digambarkan sangat menyeramkan jauh berbeda dengan aneka data dan kondisi lapangan.

Tapi, pemerintah justru mengetatkan penerapan protokol kesehatan. Apalagi dengan sanksi denda. Untuk apa? Faktanya yang sembuh terus meningkat. Jangan sampai hal itu dilakukan karena pemerintah telah menerima hibah dan bantuan dari pelbagai pihak. Seperti IMF dan Bank Dunia. Tapi, ekonomi masyarakatnya pelan tapi pasti justru mati suri.

Pengetatan protokol justru menjadikan masyarakat enggan ke tempat wisata. Dampaknya, sektor wisata Indonesia akan semakin babak belur dan hancur. Nasib pariwisata semakin tidak jelas arahnya.

Kita pun akan menjadi tertawaan penduduk Wuhan, Swedia dan Tanzania.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button