Kesehatan

Waspada Keracunan Arsen

Diasuh oleh: dr. Leli Hesti, MKK, akademisi & praktisi kedokteran.

Selama beberapa dekade, Badan Pengawas Makanan nya Amerika (FDA = Food and Drug Administration)  telah memantau kadar logam berat dalam makanan.

Kadang-kadang terdeteksi lah sejumlah kadar arsenik, kadmium, dan timbal dalam buah-buahan, sayuran dan biji-bijian yang disajikan.

Masih ingat kasus Alm. Munir? Sang penggiat HAM itu diduga meninggal dunia akibat keracunan (intoksikasi) arsen. Saya tidak akan berbicara dari kasus hukumnya karena memang bukan bidang saya. Namun mari mengupasnya dari segi kesehatan dan lingkungan.

Arsen adalah salah satu senyawa yang masuk ke dalam golongan logam berat..Logam berat seperti arsenik, kadmium dan timbal secara alami hadir dalam air dan tanah. Di beberapa tempat, konsentrasi mereka meningkat sebagai akibat dari polusi industri dan penggunaan pestisida yang berbasis timbal dan arsen. Sedangkan kadmium adalah kontaminan dalam pupuk berbasis fosfor-(WHO 2010).

Intoksikasi (keracunan) arsen yang sifatnya akut saat ini jarang terjadi di tempat kerja, biasanya terjadi karena konsumsi peroral akibat bunuh diri, ataupun percobaan pembunuhan.. Bahkan tokoh dunia sekelas Napoleon Bonaparte diduga juga tewas karena hal yang sama. Senyawa arsen oksida itu sendiri berbentuk serbuk putih yang larut dalam air, tidak berasa, dan sukar dideteksi jika telah lama di konsumsi. Oleh karena itu ia termasuk senyawa ‘favorit’ yang digunakan sebagai alat kejahatan.

Yang lebih sering adalah intoksikasi kronis akibat ketidaktahuan, misalnya dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari ternyata mengandung berbagai jenis senyawa tambahan, termasuk senyawa yang satu ini. Arsen yang masuk ke dalam tubuh secara berulang dan tidak diekskresi akan ditimbun dalam hati, ginjal, limpa dan jaringan keratin (rambut dan kuku).

Setelah penghentian paparan, arsen yang tertimbun akan dilepaskan secara perlahan dari depotnya dan menimbulkan gejala yang menetap. Keracunan arsen kronis dapat menetap berminggu-minggu sampai berbulan-bulan dengan menunjukkan satu atau lebih sindroma yang berbeda.Efeknya paling sering pada syaraf tepi dan kulit.

Namun fungsi lever dan ginjal juga akan terganggu.Selain itu penderita juga akan mengalami gejala mual/muntah dan diare. Konsentrasi arsenik tinggi dalam makanan juga dapat  menimbulkan risiko kanker.

Menurut FDA , Selain dapat ditemukan dari air minum , kadar arsenik secara konsisten meningkat pada beras dan makanan yang dibuat dari  tepung beras, dedak dan pemanis (sweetener) berbasis beras. Wortel, jamur, kacang tanah, rumput laut, jus buah dan anggur juga kadang-kadang memiliki konsentrasi arsenik tinggi (FDA 2011).

Di Amerika sudah ada kebijakan mengenai batas aman berapa jumlah arsen boleh yang ada dalam beras.

Di Indonesia sendiri rasanya belum ada kebijakan serupa, jadi alih-alih menunggu kebijakan itu lahir , kita bisa bertindak sendiri mulai sekarang dengan sebisa mungkin menghindari banyaknya arsen yang masuk ke dalam tubuh dengan cara berikut:

  1. Batasi konsumsi beras/nasi

Selain mengurangi jumlah kalori yang masuk, maka membatasi konsumsi beras juga mengurangi kemungkinan adanya arsen yang masuk ke tubuh kita. Lebih sehat bukan? Ini seperti pepatah sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui.

  1. Bilas beras dan memasak nasi di dengan air ekstra (lebih banyak)

Membilas beras sebelum memasak dapat mengurangi kandungan arsenik sampai batas tertentu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah arsenik dalam beras dapat dipotong sebanyak 40 % jika beras direbus dalam volume air yang banyak seperti pasta dan kelebihan airnya  dibuang.

  1. Beli makanan olahan yang tidak mengandung beras

Sebisa mungkin hindari  memberikan bayi anda sereal beras sebagai makanan padat pertama mereka. Ini mungkin sulit dilakukan, tapi Anda bisa menggantinya dengan buah-buahan lunak, sayuran atau bahkan daging adalah sumber pertama besar nutrisi pelengkap untuk bayi kita. Cobalah pisang, alpukat, kentang manis atau labu.

  1. Batasi konsumsi produk yang pada labelnya terdapat pemanis

Beberapa makanan/minuman mungkin bisa mengandung hal diatas, jadi bacalah label dengan hati-hati saat berbelanja.

  1. Periksa air minum Anda

Sesekali periksalah air minum yang dikonsumsi sehari-hari , baik itu air minum yang berasal dari sumur ataupun air kemasan yang anda beli di luar. Apalgi bila anda menjalankan bisnis depot air minum isi ulang. Hal ini bisa dilakukan di berbagai laboratorium yang khusus menguji kualitas lingkungan termasuk air.

Kelima hal diatas rasanya bisa dijalankan mudah dalam kehidupan sehari-hari sehingga diharapkan anda dan keluarga dapat terlindungi dari berbagai kemungkinan yang tidak kita inginkan.

Semoga bermanfaat.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button