Balikpapan

Warkop Daeng 7 Balikpapan Disegel

Report: Taufik Hidayat I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Pemerintah Balikpapan melakukan penyegelan dan penutupan warung kopi Daeng 7, di Jalan Mayjen Sutoyo Gunung Malang, Klandasan Ilir, Balikpapan Kota, Minggu 7 Januari 2021.

Warung Kopi di sekitar RSUD Beriman Gunung Malang itu, disinyalir tidak memiliki izin usaha. Bahkan, dianggap mengganggu ketertiban umum.

Walikota Balikpapan, Rizal Effendi bersama Forkopimdo memberi amanah kepada Camat Balikpapan Kota, Heru Ressandy membacakan SK penutupan Warkop Daeng 7 di hadapan pemilik Warkop.

Sesuai Perda Ketertiban Umum pasal 15 dan pasal 21 Peraturan Daerah Kota Balikpapan Nomor 10 tahun 2017 tentang penyelenggaran ketertiban umum dan Perwali Balikpapan Nomor 23 tahun 2020 tentang penerapan displin dan penegakan protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian covid-19. Bahwa kegiatan warkop Daeng tidak dapat diberikan izin.

“Sebab kegiatan musik Warkop Daeng 7 membuat suara yang menggangu lingkungan atau ketentraman masyarakat lingkungan sekitarnya terutama bagi masyarakat yang dirawat di RSUD beriman,” jelas Heru Ressandy, membacakan SK putusan Walikota Balikpapan.

Untuk itu, kegiatan usaha di warkop Daeng 7 dihentikan mulai tanggal 7 Februari 2021.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, penutupan warkop Daeng 7 lantaran RSUD Beriman mengaku keberatan dengan keberadaan warkop tersebut.

“Alasannya kegiatan musiknya mengganggu. Bukan hanya dirasakan RSUD tapi juga warga sekitar,” kata Rizal. Ia menekankan, sebelum dilakukan penutupan oleh petugas, warkop itu sudah berulang kali ditegur, tapi tidak dihiraukan.

“Sehingga diambil langkah tegas dengan penutupan. Bukan hanya warkop Daeng, bagi warkop atau cafe lain yang melanggar ketertiban, tidak punya izin dan tidak menjalankan prokes, ya kita tutup juga,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Parlemen Balikpapan, Abdulloh sepakat terhadap langkah penutupan. Tindakan tergas Pemerintah Balikpapan dinilai sebagai efek jera. Terlebih telah terbukti menganggu ketertiban.

“Musiknya mengganggu pasien di rumah sakit karena berdekatan, kalau di sini ada Warkop kan gak cocok, karena di sini ada RS jadi terganggu,” jelasnya.

Ketua RT 43 Klandasan Ilir, Djamhuri mengaku hampir empat bulan warkop Daeng menjalankan usahanya tetapi tidak pernah datang meminta izin ke RT. ”Musiknya juga sangat menggangu warga sekitar,” katanya. Ia menyebut pemilik warkop Daeng bandel, lantaran diberi dikasih tahu tapi tidak ditanggapi.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button