Editorial

Wajah Covid-19 Tidak Menyeramkan

Hentikan narasi-narasi menakutkan.

ZOMBI WUHAN, yang awal kali Covid-19 meledak di Cina menjadi satu trigger merebaknya ketakutan global terhadap virus ini. Orang-orang jatuh di jalanan, mendadak pingsan, dan segala visual mengerikan lain terpampang di banyak video yang dulu tersebar.

Sebagian besar media global, nasional dan daerah pun ramai-ramai memframing wajah Covid-19 yang sangat mengerikan. Bahkan, virus ini dikonstruksikan sebagai virus sangat ganas yang mematikan. Ratusan negara terserang infeksi virus ini. Banyak negara melakukan lockdown sampai jatuhnya ekonomi.

Seiring waktu, kejanggalan demi kejanggalan terpampang. Dari rapid test yang tidak akurat, sampai pepaya dan kambing yang dianggap positif. Temuan ini terjadi di Tanzania, Presiden John Magufuli pun marah-marah. Ia pun tidak percaya terhadap rapid test.

Di Indonesia, hal mirip terjadi di Bali. Ratusan warga di Banjar Serokadan, Desa Abuan, Bangli sempat diisolasi Pemerintah Provinsi Bali setelah 443 orang dari 1.210 warganya dinyatakan reaktif terhadap rapid test. Namun setelah mereka dites swab PCR yang notabene lebih valid dan akurat, 275 orang ternyata negatif. Kasus itu pun tengah diselidiki Kementerian Kesehatan.

Semakin lama, kejanggalan terus menyeruak. Bahkan, sejak Agustus – Oktober 2020, warga Eropa menyerukan protes keras terhadap WHO. Jutaan massa di beberapa negara turun ke jalan. Dari Jerman, Inggris, sampai Spanyol. Belakangan, warga Israel ikut melakukan aksi sama. Mereka menilai Covid-19 hanya dibuat untuk menakut-nakuti. Ada pula yang menilainya sebagai bisnis semata.

Kejanggalan di Indonesia pun ikut terkuak. Masyarakat ramai-ramai memposting kejadian janggal yang dialaminya. Semisal, sakitnya tipes dianggap Covid-19 sampai orang yang meninggal karena kecelakaan juga divonis positif Covid-19. Belakangan, pihak Istana melalui Moeldoko melempar statement yang cukup mengejutkan. Ia menuding rumah sakit ikut bermain.

Sebaliknya, kepercayaan masyarakat semakin runtuh kala pemerintah atas munculnya foto-foto pejabat yang justru melanggar protokol kesehatan. Puncaknya ketika tetap memaksakan Pilkada Desember 2020. Sedangkan masjid sempat ditutup, shaf shalat diminta renggang, orang shalat bermasker, sekolah ditutup berbulan-bulan, tapi tidak ada satu kasus seperti zombi Wuhan yang tergeletak di jalanan.

Kondisi ini juga terjadi di Eropa. Aksi unjuk rasa dari Amerika, Inggris sampai Spanyol, tidak ditemukan kasus zombi seperti di Wuhan. Tidak ada pula yang wafat mendadak. Begitu juga di Indonesia. Demonstrasi memprotes Omnibus Law terjadi sejak tanggal 6 Oktober, 13 Oktober sampai 20 Oktober. Tapi kasus kematian justru menurun.

Mengacu data pemerintah, yang dilansir Covid19.go.id, per tanggal 22 Oktober 2020, angka kematian nasional hanya 3,4 persen dari total kasus terkonfirmasi. Sedangkan tingkat kesembuhan nasional malah meningkat mencapai 79,7 persen. Data ini menunjukan narasi-narasi ketakutan yang menyebut Covid-19 mematikan, tidak terbukti sama sekali. Padahal dulu diprediksi sedikitnya 10 juta warga Indonesia terancam mati karena Covid-19. Faktanya, yang meninggal 12.959.

Bahkan dari jumlah itu, menurut Satgas Covid-19, mereka yang wafat 85 persen karena usia lanjut dan penyakit penyerta. Bukan murni karena Covid-19 sebagai penyebab tunggal. Apalagi jika mengacu pada data real time global. Dilansir Worldometer, per 22 Oktober 2020, angka kesembuhan global mencapai 96 persen. Total pasien positif global yang sembuh telah mencapai 31 juta jiwa dari seluruh dunia.

Pada pertengahan Oktober, aliansi dokter dunia, juga menggelar jumpa pers di Berlin, Jerman. Mereka menyebutkan, “We have safe and very effective treatments and preventative treatments for covid, we therefore call for an immediate end to all lockdown measures, social distancing, mask wearing, testing of healthy individuals, track and trace, immunity passports, the vaccination program and so on.”

Mereka pun menyarankan, “Kami menyerukan untuk segera menghentikan semua tindakan penguncian, jarak sosial, pemakaian masker, pengujian individu yang sehat, lacak dan lacak, paspor kekebalan, program vaksinasi dan sebagainya.” Aliansi ini terdiri dari professor, dokter, perawat, profesional, dan  perawatan kesehatan di seluruh dunia.

WHO sendiri pada medio Oktober 2020, akhirnya menyerukan untuk menghentikan lockdown. Bahkan jauh sebelum itu, yakni sekitar Juni, Profesor Sunetra Gupta, seorang peneliti di Oxford University merasa bahwa meski banyak studi dilakukan pada efikasi vaksin, Covid-19 mungkin akan menjadi sekadar pandemi lainnya seperti flu. Ia juga berpendapat dunia tidak membutuhkan vaksin Covid-19.

Pada September 2020, ada pula penelitian yang dilakukan di Indonesia yang menunjukkan, virus Covid-19 memiliki motif Antibody Dependent Enhanceement atau ADE yang artinya peningkatan keganasan virus setelah vaksinasi.

Penelitian ini dituangkan dalam jurnal Internasional Professor Nidom Foundation atau PNF. Peneliti PNF menginvestigasi 40 virus Covid-19 asal Indonesia, sejumlah negara Asia Tenggara dan Wuhan.

Hasilnya, 40 virus yang diteliti memiliki motif Antibody Dependent Enhancement atau ADE dan 57,5 persen mengalami mutasi dari virus Covid-19 Wuhan. Menurutnya fenomena ADE bisa menyebabkan, virus yang kembali masuk ke tubuh manusia semakin ganas setelah vaksinasi. Ini terjadi karena sistem antibodi merespon virus dengan mengikatnya sehingga virus lain bisa masuk ke dalam sel-sel tubuh. Nidom berkaca kasus vaksin DBD di Filipina yang malah menyebabkan kematian.

Narasi-narasi menakutkan yang disebarkan dengan konstruksi Covid-19 mematikan sangat jauh berbeda dengan fakta, data dan beragam penelitian. Bahkan banyak pasien positif yang isolasi mandiri justru sembuh sendiri. Dan faktanya, puluhan juta pasien sembuh tanpa harus menggunakan vaksin apapun.

Maka, narasi-narasi Covid-19 mematikan, sudah sepatutnya harus dihilangkan. Masyarakat harus diberi asupan energi, ditenangkan, diberikan semangat agar kehidupan tetap berjalan normal seperti sebelumnya.

Mengacu data WHO, dari sejumlah penyakit mematikan di seluruh dunia, Covid-19 sendiri tidak termasuk di dalamnya. Penyakit yang mematikan itu sendiri adalah jantung, stroke, ISPA, Paru, dan lainnya. Tidak ada catatan Covid-19 termasuk penyakit paling mematikan di dunia.

Wajah Covid-19 tidaklah menyeramkan seperti narasi yang selama ini mengemuka. Sudah saatnya sekolah dibuka dan kegiatan ekonomi sosial dijalankan seperti biasa. Walau tetap waspada tapi jangan sampai takut berlebihan, hingga antar masyarakat saling curiga. Bangkitlah Indonesia.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button