Mozaik

Uwais Al Qarni: Teladan Sepanjang Zaman

2019

Ilustrasi

TimurMedia.com:

Editor: Kahar

TIMUR MEDIA – DALAM nubuah yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa sebaik-baik tabi’in atau pengikut adalah seorang laki-laki yang biasa dipanggil Uwais. 

Nama lengkapnya, Uwais Al Qarni. Seorang yatim dan hanya tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh di Yaman.

Uwais juga memiliki penyakit belang di tubuhnya. Uwais dan ibunya adalah keluarga fakir. Rasulullah sempat berpesan kepada Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk mencari Uwais.

“Carilah ia (Uwais al Qarni), dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian,” sabda Rasulullah seperti diriwayatkan dalam hadist Shaih Muslim.

Dalam pelbagai literatur, Uwais dikenal sebagai anak yang berbakti. Apapun yang diminta ibunya, ia selalu berupaya memenuhinya.

Uwais hanya tinggal berdua dengan ibunya. Keduanya masuk Islam saat mendengar seruan Nabi Muhammad dari Makkah.

Suatu ketika, Uwais meminta izin untuk pergi menemui Nabi. Ibunya mengizinkan dan berpesan kepada Uwais agar cepat pulang karena merasa sakit-sakitan.

Sampai di Madinah, Uwais langsung menuju rumah Rasulullah. Namun sayang Uwais tak bisa menemui Rasulu sebab sedang di medan perang.

Teringat pesan sang ibu untuk segera kembali ke Yaman, Uwais dengan terpaksa pamit kepada Ummul Mukminin Siti Aisyah RA, istri Rasulullah yang ketika itu ada di rumah. Tak lupa menitipkan salam untuk Rasul.

Sesampainya Rasul ke rumah, pesan Uwais disampaikan. Rasulullah pun mengutus Sahabat agar Sahabat itu meminta didoakan pada Uwais.

Dikisahkan pula, suatu hari sang ibu yang sudah tua ingin sekali naik haji. Kala itu, kondisi keuangan tak memungkinkan. Tapi Uwais tak mau menolaknya. Ia pun berpikir keras.

Kemudian ia membeli anak lembu. Hewan itu ia pelihara di atas bukit. Setiap pagi, bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Banyak orang yang menganggap aneh tindakan Uwais.

Bahkan dicerca, dihina sebagai orang gila. Setelah berbulan-bulan berat Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram.

Kala tiba musim haji, Uwais merasa otot-ototnya sudah kuat dan siap mengangkat beban berat. Ia pun menggendong sang Ibu dari Yaman ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Padahal jarak yang ditempuh amat jauh. Bahkan melewati padang tandus, gersang dan panas. Tapi Uwais tak menyerah. Mereka pun akhirnya tiba di Makkah.

Di depan Ka’bah air mata sang Ibu tumpah. Uwais pun berdoa, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu.” Demikian Uwais berdoa.

“Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.” jawab Uwais.

Allah subhanahu wata’ala pun memberi karunia untuk Uwais. Penyakit belang di tubuh Uwais seketika itu juga sembuh. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya.

Tanda di tengkuk itu sebuah tanda sebagaimana disebutkan Rasulullah kepada Sayyidina Umar bin Khaththab dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk mengenali Uwais.

Pada akhirnya Umar dan Ali berhasil menemui Uwais. Dan seperti pesan Rasulullah, Khalifah Umar da Ali meminta Uwais agar mendoakan mereka diampuni oleh Allah SWT.

Beberapa tahun setelah pertemuan dengan Sayyidina Umar dan Ali, Uwais wafat.

Masyarakat Yaman saat itutu heran, sebab banyak orang berebut memandikan, menshalatkan dan menguburkan jenazah uwais.

Banyak yang meyakini bahwa, orang-orang yang berebut memandikan, mensholatkan dan menguburkan jenazah Uwais Al Qarni itu Malaikat.

“Para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya (uwais),” tulis Muhammad Vandestra, dalam bukunya: Kisah Kehidupan Uwais al Qarni sang Penghuni Langit Kekasih Tuhan Semesta Alam.

Uwais Al Qarni selalu dikenang sebagai pemuda paling berbakti terhadap orangtua. Ia menjadi teladan sepanjang zaman.

Most Popular

To Top