Nasional

Ujicoba Vaksin Dihentikan

Relawan justru terserang penyakit serius.

Report: Taufik Hidayat I Editor: Faisal

TIMUR MEDIA – Perusahaan Farmasi di Inggris, AstraZeneca Plc mengatakan telah menghentikan uji coba vaksin global. Hal itu disebabkan karena relawan yang mengikuti ujicoba itu menjadi korban kejadian paska imunisasi atau KIPI.

Dari laporan New York Times, seseorang yang mengetahui situasi tersebut, mengungkapkan ada relawan yang berbasis di Inggris ditemukan menderita myelitis transversal, sindrom peradangan yang mempengaruhi sumsum tulang belakang dan sering dipicu infeksi virus.

Dilansir Reuters, vaksin yang dikembangkan Universitas Oxford Inggris ini awalnya telah digambarkan WHO sebagai kandidat utama dunia dan yang paling maju dalam hal pengembangan. Namun akhirnya harus dihentikan.

Penangguhan ini meredupkan prospek peluncuran awal di tengah laporan. Produsen obat Inggris itu mengatakan secara sukarela menghentikan uji coba untuk memungkinkan komite independen meninjau data keamanan dan bekerja untuk mempercepat peninjauan untuk meminimalkan potensi dampak pada jadwal uji coba.

“Ini tindakan rutin yang harus dilakukan setiap kali ada penyakit yang berpotensi tidak dapat dijelaskan di salah satu uji coba,” kata pihak perusahaan AstraZeneca Plc.

Sifat penyakit tidak diungkapkan meski peserta diharapkan pulih menurut Stat News, yang pertama kali melaporkan penangguhan karena dugaan reaksi merugikan yang serius. Badan Pengawas Obat dan Makanan A.S. mendefinisikan hal merugikan ini sebagai bukti yang menunjukkan kemungkinan hubungan dengan vaksin yang sedang diuji.

Di Indonesia, yang menggandeng perusahaan asal Cina, Sinovac dalam ujicobanya juga mendapat hasil yang buruk. Relawan yang mengikuti ujicoba itu justru positif terinfeksi Covid-19.

Kabar ini menggemparkan masyarakat dan menyebabkan keraguan terhadap efektivitas vaksin yang dikembangkan perusahaan asal Cina tersebut.

Ahli Biologi Molekuler Indonesia Ahmad Utomo mengatakan pihaknya terus melakukan uji klinis. “Kita masih melakukan uji klinis. Sebab, uji klinis masih akan berlangsung hingga Desember 2020 atau Januari 2021,” jelas Ahmad Kendati.

Menurutnya, status tersebut tidak perlu dibuka, namun memang statusnya sebagai penyintas Covid-19 perlu dipublikasikan. Tujuannya, sebagai keperluan kontak telusur mengendalikan potensi penularan.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button