Internasional

Trump Izinkan Penjualan Drone Mematikan

Report: Janu I Editor: Ahmad

TIMUR MEDIA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberi izin kontraktor pertahanan untuk menjual drone tercanggih mematikan kepada sekutu-sekutu Amerika. Demikian dilaporkan Reuters.

Amerika, di bawah pemerintahan Trump akan menafsirkan ulang perjanjian senjata era Perang Dingin antara AS dan 34 negara yang selama ini memperketat penjualan drone-drone mematikan.

Drone atau pesawat nirawak yang dijual ke luar negeri itu, antara lain, drone MQ-9 Reaper. Drone ini dikenal dengan nama Predator produksi General Atomics. Sistem dasar drone ini mengusung Sistem Penargetan Multi-Spektral, yang memiliki rangkaian sensor visual kuat untuk mencapai target. MTS-B mengintegrasikan sensor inframerah, kamera TV warna/monokrom siang hari, kamera TV intensif gambar, pencari jangkauan laser/penentu, dan iluminator laser.

Istilah Reaper dapat dimaknai sebagai pencabut nyawa. MQ-9 Reaper, yang terbang perdana tahun 2001, memiliki daya tahan 14 jam saat terisi penuh amunisi. Berbagai senjata yang dibawa termasuk GBU-12 Paveway II dengan dipandu laser, AGM-114 Hellfire II rudal udara-ke-darat, AIM-9 Sidewinder, dan GBU-38 Joint Direct Attack Munition.

Selain mengizinkan penjualan drone MQ-9, drone mata-mata paling canggih yang dimiliki AS, Global Hawk produksi Northrop Grumman, juga diizinkan dijual.

“Presiden Donald Trump telah memutuskan kebijaksanaan nasional kami untuk melakukan perubahan,” sebut Gedung Putih dalam sebuah pernyataan, Jumat 24 Juli 2020.

Izin Trump ini membuka jalan penjualan drone bersenjata AS kepada pemerintah yang dinilai kurang stabil lantaran dilarang membelinya di bawah Missile Technology Control Regime atau MTCR, yang sudah berlaku selama 33 tahun.

Dari pernyataan Gedung Putih, pembicaraan dua tahun gagal mereformasi MTCR. Langkah terbaru pemerintah ini telah membuat khawatir para pendukung kendali senjata yang mengatakan penjualan drone canggih AS ke lebih banyak negara dapat memicu perlombaan senjata global.

“Pemerintahan Trump sekali lagi melemahkan kontrol ekspor internasional pada ekspor drone yang mematikan,” terang Senator Bob Menendez dalam sebuah pernyataan.

“Keputusan sembrono ini membuat kita lebih mungkin mengekspor beberapa persenjataan kita yang paling mematikan ke para pelanggar HAM di seluruh dunia,” lanjutnya. MTCR mengklasifikasikan drone besar sebagai rudal jelajah.

Dikutip dari Reuters, Jubir Departemen Luar Negeri Megan Ortagus, mengatakan Amerika tetap menjadi anggota yang berkomitmen pada MTCR dan menganggapnya sebagai alat non-proliferasi penting untuk mengekang penyebaran teknologi rudal canggih ke negara-negara seperti Korea Utara dan Iran.

Sekaligus, katanya, “Mencegah penggunaan dan penyebaran senjata pemusnah massal dan cara pengirimannya tetap menjadi prioritas Trump,” ujarnya, Sabtu 25 Juli 2020.

Pada Januari 2020, dilaporkan The Guardian, membunuh target dengan drone seperti kasus tewasnya Komandan Pasukan Khusus Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassem kini menjadi sudah sangat biasa.

Tiga unit pesawat nirawak atau Drone MQ-9 Reapers yang mampu terbang hingga ketinggian 50 ribu kaki tengah membidik target utama mereka. Salah satu drone lalu menembakkan rudal ke arah mobil yang di dalamnya ada Soleimani.

Direktur Drone Wars, Chris Cole, mengungkapkan Inggris dan Amerika membuat pembunuhan target seperti dalam konflik dengan kelompok militan ISIS. Sejumlah pentolan ISIS dikabarkan tewas akibat serangan drone.

“Serangan drone yang menewaskan Soleimani mempertegas peran sentral drone dalam perang modern. Pembunuhan lewat drone tentu merusak norma hukum internasional dan membuat dunia menjadi lebih berbahaya,” ujar Cole.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button