Kolom

Tiga Raksasa di Pilkada Balikpapan

Masyarakat Balikpapan saat ini ramai membicarakan calon nahkoda yang bakal memimpin kota ini. Meski pelaksanaan Pilkada masih tahun depan, tapi gaungnya telah memecah kesunyian.

Sejumlah bakal calon Walikota mulai dimunculkan ke permukaan. Nama-nama calon kandidat itu ditangkap radar media massa, parpol dan warga.

Ada sembilan sampai sebelas nama yang mulai dimunculkan. Yakni:

Rahmad Mas’ud, Syukri Wahid, Arita Efendi, Safaruddin, Abdulloh, Ahmad Basir, Glen, Muhaimin, Sayid Fadhli Amin, dan Ida Prahastuty.

Nama-nama mereka kerap disebut oleh parpol, media massa bahkan mencuat di sosial media.

Mereka berasal dari kalangan birokrat, politisi, ustadz, sampai pengusaha.

Dari nama itu mengerucut ke beberapa nama, di antaranya:

Rahmad Mas’ud, Syukri Wahid, Safaruddin, Arita Efendi, Abdulloh, dan Ahmad Basir.

Tetapi jika dipetakan, hanya ada tiga gerbong yang menjadi raksasa. Gerbong raksasa itu:

Raksasa pertama, Rahmad Mas’ud yang dikenal memiliki kekuatan finansial tiada tanding. Setidaknya untuk ukuran Kaltim. Terlebih Rahmad sendiri masih menahkodai Golkar Balikpapan yang kini memiliki kursi dominan di DPRD.

Meski dalam percaturan politik di Pileg 2019, ia meleset dari capaian target 16 kursi tapi bukan berarti kekuatannya melemah. Kelemahannya justru berada di stigma negatif yang kini mulai dibangun pihak tertentu.

Yaitu, narasi-narasi penolakan dinasti yang kini marak digaungkan di sosial media. Narasi negatif ini dibangun paska keluarga besar Bani Mas’ud memenangi Pilkada PPU dan Pileg 2019, yang membawa adik dan kakak Rahmad Mas’ud menduduki kursi kekuasaan di PPU, kursi legislatif di Kaltim, juga di DPR RI.

Bagi pendukung Rahmad Mas’ud, narasi negatif dinasti perlu dicounter sejak dini. Bila tidak, boleh jadi, kekuatan finansialnya tidak berlaku. Apalagi mereka sendiri dibayangi kekuatan gerbong raksasa kedua.

Yakni, gerbong Arita Effendi. Beliau adalah istri dari Walikota Balikpapan Riz Effendi. Meski warga Balikpapan tidak mengapresiasi kepempinan Rizal, bahkan malah terus menjadi sorotan.

Faktanya, Rizal memiliki tangan dingin politik yang kerap membuat bergidik lawan-lawannya. Terbukti, ia memenangi sejumlah pertempuran politik sejak era bersama Imdaad Hamid. Rizal hanya kalah satu kali yakni di Pilgub Kaltim. Selebihnya, jawara.

Berangkat dari pengalaman piawainya dalam berpolitik, tentu sang istri yang digadang akan maju menjadi kekuatan tersendiri yang patut diperhitungkan lawan-lawan Arita Effendi nanti.

Terlebih gerbong raksasa kedua ini memiliki jaringan senior di Balikpapan. Arita Effendi pun dikenal sebagai wanita pengayom yang ramah, membumi dan natural. Kepiawaian gerbong ini pun dengan melempar nama Ahmad Basir sebagai cek ombak memantik perhatian lawan politik.

Bingo! Gerbong raksasa Rahmad Mas’ud pun terpancing. Dimana ada baliho Ahmad Basir, di sekitarnya ada baliho Rahmad. Padahal boleh jadi, strategi melempar Ahmad Basir untuk mengukur kekuatan lawan sebelum resmi mendaftarkan nama: Arita Effendi.

Gerbong raksasa ketiga yang mewarnai politik Balikpapan saat ini ada pada gerbong Safaruddin. Mantan Kapolda Kaltim yang juga terpilih sebagai aleg DPR RI dalam Pileg 2019 lalu, menjadi satu kekuatan tersendiri.

Secara politik, mungkin bisa dibilang bunuh diri jika Safaruddin melepaskan statusnya sebagai aleg DPR RI dan bertanding hanya untuk memperebutkan Balikpapan.

Tetapi dinamika politik selalu memunculkan kejutan. Apalagi bila diusung PDIP sebagai parpol jawara nasional yang mendulang suara tertinggi.

Maka bisa dipastikan, Pilkada Balikpapan 2020 bakal berjalan seru dan menegangkan. Bagi kita sebagai warga Balikpapan, yang paling utama adalah menjaga persatuan dan kedamaian.

Jangan pernah berpikir pilihan politik adalah harga mati hingga nekat memutus tali silaturahmi. Politik hanya lah seni mengelola kemungkinan-kemungkinan, yang di dalamnya sarat kepentingan.

Jangan sampai kita terseret arus perpecahan.

Penulis: Sakhia, pemerhati sosial politik.

Most Popular

To Top