Mozaik

Tiga Penyebab Masuk Neraka

Report: Lina Tina I Editor: Abi Kurniawan

TIMUR MEDIA – Bahasan surga dan neraka selalu menjadi perbincangan hangat, zaman ke zaman. Siapa yang berhak yang masuk surga atau neraka, semua itu hanyalah kewenangan tunggal Sang Maha. Tetapi, manusia diberi peringatan dan rambu-rambu untuk diperhatikan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang masuk surga dan neraka. Pengasuh PP Safinda Bandung,  KH Ghozi Rofiuddin Alhafid, sebagaimana dikutip dari Kyaidotcom, menjelaskan sebab seseorang menjadi penghuni neraka.

“Sebabnya ada tiga,” tuturnya.

Gus Ghozi menjelaskan, penghuni neraka itu sangat banyak. Bahkan lebih banyak dibanding penghuni surga. Ini sudah terlihat sejak di dunia.

Terkait

“Ketika diadakan dalam waktu bersamaan. Di satu tempat shalawatan. Tempat lainnya dangdutan. Mana yang lebih banyak?” tanyanya.

Saking banyaknya penghuni neraka, KH Kamuli Khudori kala ngaji Sohih Bukhori di Pesantren Tebuireng Ramadan 2022, sempat menyampaikan bahwa neraka sampai miring.

Kembali ke Gus Ghozi. Beliau mengutip QS Al A’raf 179. Dalam ayat ini, disebutkan tiga hal yang membuat orang masuk neraka.

Pertama, hatinya tidak dipakai untuk membedakan yang benar dan salah.

Hati nurani itu aslinya bisa membedakan mana benar dan mana yang salah. Ini haq, dan ini batil. Ini boleh, dan ini tidak boleh. Ini punyaku dan ini bukan.

Karena itu setiap mau maksiat, hati pasti dag dig dug. Sebab nurani tahu, kalau itu berdosa.

Calon penghuni neraka, tidak peduli dengan suara hatinya. Maksiat-maksiat tetap dijalankan.

Sedangkan penghuni surga, hatinya kerap diisi dzikir. Dengan shalawat, baca Alquran, istighfar dan lainnya. Sehingga setiap muncul keinginan maksiat bisa langsung ditepis.

Kedua, ia punya mata namun tidak digunakan untuk melihat. Apa yang dilihat dan membuatnya tertarik, langsung diembat. Tak peduli halal atau haram.

Padahal, mata bisa membedakan. Yang halal diambil. Yang haram ditinggalkan.

Agar mata tidak menjadi penyebab masuk neraka, harus banyak kita pakai membaca Al Quran.

Ketiga, ia punya telinga namun tidak dipakai mendengar.

Inilah sebabnya, tiap membasuh telinga dalam wudu, Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menyarankan agar kita membaca doa:

Ya Allah jadikanlah telinga ku ini bisa mendengarkan perkataan yang baik dan mengikutinya. Jadikanlah telinga ku ini bisa mendengar seruan masuk surga. Dan masuk surga bersama orang-orang yang baik.

Semoga Allah mendoakan doa-doa kita.

Aamiin…

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button