Internasional

Tiga Negara Eropa Khawatirkan Uranium Iran

Report: Maya I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Inggris, Prancis dan Jerman menyatakan keprihatinannya atas langkah Iran yang melanjutkan pengayaan uranium sampai 20 persen. Langkah yang dilakukan di fasilitas Fordow itu, dinilai tiga negara Eropa tersebut sebagai upaya menghancurkan peluang berdiplomasi.

Iran secara resmi memulai operasi pengayaan uranium di fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir bawah tanah Fordow, Iran, pada senin kemarin. Demikian disampaikan Juru Bicara (Jubir) Pemerintah Iran, Ali Rabiei, seperti dirilis media spesialis politik internasional asal Italia, Sicurezza Internazionale, Senin 0 Januari 2021.

Organisasi Energi Atom Iran juga mengonfirmasi, ada pengayaan uranium di Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow. Kapasitas yang mencapai 20 persen itu, melanggar batas yang ditetapkan kesepakatan nuklir pada 2015 lalu yang hanya 3,6 persen.

Menurut Iran, langkah itu dilakukan sebagai tanggapan atas pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh.

Namun tiga negara Eropa tersebut membuat pernyataan bersama.

“Kami sangat prihatin dengan dimulainya Iran pada tanggal 4 Januari melakukan pengayaan uranium hingga 20 persen di fasilitas bawah tanah Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow,” demikian isi pernyataan bersama itu dikutip Sputnik, Rabu 6 Januari 2021.

Inggris, Prancis dan Jerman menilai, tindakan Iran tidak memiliki justifikasi sipil yang kredibel dan membawa risiko terkait proliferasi yang sangat signifikan.

“Ini jelas pelanggaran terhadap komitmen Iran di bawah Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPoA) dan selanjutnya mengosongkan Perjanjian,” bunyi pernyataan bersama itu. Ketiga negara tersebut juga menyatakan, keputusan Iran berisiko mengorbankan peluang penting untuk kembali ke diplomasi dengan Pemerintahan AS di waktu mendatang.

“Kami sangat mendesak Iran menghentikan pengayaan uranium tanpa penundaan, membalik program pengayaannya ke batas yang disepakati JCPoA, dan menahan diri dari langkah eskalasi yang selanjutnya akan mengurangi ruang bagi diplomasi efektif,” lanjut mereka.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button