Bencana Alam

Tanah Ibu Kota Turun 40 Persen

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – BMKG mengungkap adanya ancaman potensi banjir di DKI Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Hal itu lantaran terjadi penurunan tanah hingga 40 persen wilayah ibu kota.

Kepala Sub Bagian Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan banjir mudah terjadi di Jakarta karena 40 persen wilayahnya sudah lebih rendah karena fenomena penurunan tanah.

“Banjir akan lebih meluas apabila terjadi rob pasang naik air laut, sebagaimana terjadi di Semarang,” jelasnya, Minggu 7 Januari 2021. Ia menjelaskan potensi banjir didukung kemungkinan hujan ekstrem di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi atau Jabodetabek. Terutama di bagian hulu seperti di Puncak, Bogor.

Ia menilai kalau kondisi itu terjadi dan air hujan membuat debit air meningkat melebihi kapasitas sungai, maka banjir sangat mungkin menggenangi wilayah Jakarta. Adapun kemungkinan banjir meluas akibat air laut yang sedang pasang berkaca pada banjir Semarang.

Menurut Siswanto, hal itu meluas karena pasang air laut mencapai 1,4 meter. “Tapi yang menarik dari data historis untuk kasus Jabodetabek, hujan ekstrem justru berkurang peluangnya saat La Nina aktif,” jelasnya.

Dari informasi yang dibagikan di akun Twitter @BPBDJakarta, ketinggian permukaan air di sana mencapai 90 centimeter per pukul 14.15 WIB. Kondisi ini sudah surut dari pantauan pukul 06.00 WIB yang mencatat permukaan air hingga 130 centimeter.

Peneliti Kebencanaan Pusat Teknologi Reduksi dan Resiko Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Joko memaparkan dari pelbagai hasil kajian studi ditemukan fakta terjadinya penurunan tanah di DKI Jakarta selama 50 tahun terakhir.

Ada empat jenis penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta. Pertama akibat ekstraksi air tanah, kedua akibat beban konstruksi, ketiga akibat konsolidasi alami tanah aluvium dan keempat penurunan tanah tektonik.

Dari Keempat hal itu, penurunan muka tanah akibat ekstraksi atau pengambilan air tanah menjadi fenomena yang dominan terjadi di Jakarta.

Tim Indonesian Network for Disaster Information 4.0 BPPT telah melakukan analisis dengan menggunakan metode Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) yang berdasarkan data satelit Radar Sentinel 1A untuk melihat laju penurunan tanah di Jakarta.

Hasil analisis data InSAR yang direkam sejak 20 Maret–22 Oktober 2019 memperlihatkan bahwa laju maksimum penurunan tanah mencapai 6 cm per tahun,” jelas Joko dilansir Mediaindonesia, Kamis, 4 Februari 2021.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button