NEWS

Sudah Sempurna

INGATKAH kita: manusia diciptakan sempurna, oleh Sang Maha Sempurna. Dalam Firman-firman Nya, diingatkan sejak dulu kala.

Mungkin, kita lupa.

Dalam At Tin, misalnya. Di petikan ayat Nya, Sang Maha mengingatkan kita:

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Demikian firman Nya, dalam At Tin, ayat 4.

Atau dalam AZ Dzariyat ayat 21, kita pun dihentakan dengan tanya yang menggugah:

Terkait

Apakah kalian tidak memperhatikan, apa yang ada dalam diri kalian?!

Mungkin, kita lupa. Atau bisa jadi, masih enggan membuka mushaf yang mengingatkan Firman-firman Nya.

Padahal, Sang Maha, juga mengingatkan: Al Qur’an, tidak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi manusia. Demikian pembuka Al Baqarah, mengingatkan kita.

Tetapi, mungkin kita lupa. Atau malah jumawa. Sehingga mengandalkan kemampuan manusia, bersandar pada akal yang ternyata menjebak.

Kalau tidak ilmiah, tidak valid. Meski sudah diingatkan dalam nash-nash Qur’an atau ucapan mulia Sang Baginda Rasulullah.

Tolak ukurnya bukan lagi sumber hukum mulia: Qur’an dan Hadits, tetapi topeng-topeng ilmiah. Inilah jebakan maha hebat, yang menjerumuskan banyak manusia.

Kalau mau ilmiah, bagaimana menjelaskan secara sains penciptaan Malaikat? Bagaimana penjelasannya antara ruh dan siksa kubur?!

Bagaimana sperma bisa menjadi manusia yang cantik dan rupawan?! Dan begitu banyak proses penciptaan dan ilmu-ilmu ilahiah yang tidak terjangkau akal manusia.

Yang lebih menarik lagi, amat banyak pula bukti-bukti dalam Quran dan Hadits, yang belakangan juga bisa dibuktikan secara ilmiah. Dari manfaat shalat, puasa, bekam, madu, untuk kesehatan manusia, dan semisalnya.

Dan bukan berarti, apa yang belum dan tidak bisa dijelaskan secara ilmiah: itu tidak valid. Faktanya, hal tersebut justru menunjukan terbatasnya akal manusia.

Seperti yang diingatkan Imam Syafi’i: akal manusia hanya sejauh pandangan mata. Artinya, sangat terbatas. Bahkan jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu ilahiah, maka ilmu pengetahuan manusia ibarat tetesan air di jari telunjuk yang dicelupkan di lautan.

Sungguh, tidak ada apa-apanya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan. Lantas, atas dasar apa kita masih bersikap jumawa?

Bahkan, mengandalkan produk-produk buatan manusia. Yang beberapa di antaranya justru mengandung atau bersentuhan dengan barang yang haram. Sampai-sampai dijadikan andalan ikhtiar abadi, seolah berhala yang dijadikan sandaran.

Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Kita mungkin lupa, manusia telah diciptakan begitu sempurna. Atau kita mungkin tidak tahu: bagaimana kehebatan tubuh manusia.

Modal gratis yang diberikan Sang Maha pada setiap manusia, sejak masa kelahirannya.

Ada buku menarik, bertajuk: Ensiklopedia Kemukjizatan Quran dan Hadits. Buku ini terdiri dari 10 jilid.

Masing-masing jilid berisi ratusan laman. Ada Kemukjizatan fakta sejarah pada jilid 1, Kemukjizatan penciptaan manusia di jilid 2, dan seterusnya.

Tiap jilid buku ini mengemukakan ayat-ayat Qur’an, Hadits, kisah, penelitian ilmiah, atau fakta-fakta keseharian. Benar-benar membuka wawasan kita.

Semisal di Jilid 2, terkait Kemukjizatan Penciptaan Manusia. Dalam bab Sistem Kerja Tubuh, kita dibuat tercengang dengan kesempurnaan penciptaan Sang Maha. Betapa dahsyatnya tubuh manusia.

Dijelaskan dalam laman 72, tiap detik ada 200 juta sel yang mati di tubuh kita. Dan ada 200 juta sel baru yang menggantikan 200 juta sel yang telah mati hingga kita bisa awet muda atau tetap hidup.

Sel-sel wajah pun bisa berubah tiap empat jam. Lantas, siapa yang mengajarkan sel-sel ini untuk berubah? Siapa lagi kalau bukan Sang Maha!

Dalam proses untuk mencerna sepotong daging, jika tanpa pelbagai perangkat yang diberikan Allah, maka kita membutuhkan waktu 50 tahun! Tanpa enzim, untuk mengurai sepotong daging yang masuk ke dalam perut membutuhkan waktu sedemikian lamanya.

Untuk bisa mengunyah, mulut harus memiliki saraf-saraf yang punya kekuatan besar. Setelah mengunyah, lidah melalui kelenjar mulut mampu menguraikan materi yang bisa membantu mengunyah.

Setelah itu, lidah berpisah dengan air liur. Tujuannya, penguraian itu terjadi agar daging bisa tersimpan rapi hingga memasuki tenggorokan. Proses sebuah makanan memasuki perut pun melewati rangkaian perangkat dan alur yang benar-benar menakjubkan!

Dalam buku itu, juga dijelaskan: otak kita memuat satu miliar sel saraf, yang berhubungan dengan benang. Benang-benang ini perwujudan dari jaringan saraf yang berhubungan dengan setiap bagian tubuh.

Menurut para ilmuan, untuk memperlancar proses yang terjadi dalam otak dengan menggunakan komputer, kita membutuhkan ruang sebesar wilayah New York untuk memasang seluruh perangkat ini.

Di laman 77, dijelaskan pula: para ilmuan menyebut, untuk bisa mendengar, dalam telinga kita terdapat sel pendengar yang berjumlah sepuluh ribu. Sel-sel inilah yang membuat kita bisa menangkap suara dengan jernih.

Di dalam mata kita, ada 130 juta sel yang bisa menangkap cahaya. Sel sebanyak itu ada di tempat yang sangat kecil.

Untuk bisa berjalan, harus ada pula harmonisasi yang baik antara 200 otot dalam setiap langkah. Dari 200 otot itu, 40 otot di antaranya yang menggerakan kaki kita ke depan.

Untuk bisa mengangkat dan menurunkan tangan, ada 50 otot yang bergerak secara serempak dengan otak.

Untuk bisa berbicara, dibutuhkan rata-rata 140 getar pita suara dalam satu detik. Untuk bisa berbicara, lidah menggerakan 17 otot, bibir menggerakan 24 otot.

Kita bisa melakukan semua ini semata-mata hanya karena karunia dsn anugerah Allah Ta’ala.

Lantas, bagaimana mungkin kita melupakan apa-apa yang diingatkan dalam firman dan nubuah kekasih Nya?!

Sampai-sampai jumawa, mengandalkan produk manusia. Menyombong diri menggungguli produk manusia dibanding ciptaan Sang Kuasa.

Sedang tiap manusia, diberi gratis ketahanan tubuh untuk menangkal, beradaptasi dan melawan segala bentuk penyakit.

Dan bahkan, manusia disediakan pelbagai jenis tanaman dan bahan alami untuk menjaga, melindungi dan mengobati pelbagai penyakitnya.

Saat Sang Maha memberi penyakit, saat sama memberi pula obatnya. Tapi, tidak pernah ada kesembuhan dalam pengobatan yang haram. Artinya, tidak ada ruang mentolerir dengan topeng: darurat-darutan!

Terlebih yang halal, aman, manjur, mudah, murah, begitu melimpah.

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Masihkah ragu akan kehebatan sistem tubuh manusia, yang diberikan gratis dari Nya???!

Rasulullah telah mencontohkan. Alim ulama terdahulu menjaganya, mewarisinya sampai para leluhur bangsa. Apakah kita juga lupa?!

Mari kembalikan fitrah manusia. Waspada terhadap fitnah-fitnah Dajjal, yang menggiring pada perusakan manusia, perusakan peradaban dan mengeluarkan manusia dari fitrahnya.

Sampai-sampai terjebak terhadap upaya penggiringan menjadi robot-robot bernyawa!

Mudah-mudahan umat disadarkan. Diselamatkan.

Shalaallahu alaa Muhamamad

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button