Sastra

Siasat

Oleh: Ickur

Mama Riko itu cerewetnya minta ampun, masak sepagi ini aku harus terbangun dari tidur gara-gara mendengar ocehannya. Suaranya kayak gledek menyambar atap rumah, istriku saja yang bolak balik membangunkan aku untuk shalat subuh tidak berhasil menghentikan tidurku. Sialnya, jendela kamarku dekat pintu samping rumah, setiap kali penjual sayur masuk gang, pasti berhenti dekat pintu samping rumahku. Tapi ini lumayan menolongku, dari pada dibangunkan paksa oleh istri pagi-pagi minta diantar belanja ke warung sayur di depan Gang, lebih baik si Tukang Sayur keliling mangkal tiap pagi di samping rumahku.

Tapi siapa yang tahan mendengar Mama Riko berkoar-koar, mungkin si Tukang Sayur juga jengkel sama Mama Riko tapi takut jualannya tidak laris kalau si tukang gosip tidak muncul.

Dulu waktu si Penjual Sayur belum mangkal di samping rumah, aku gak pernah terganggu sama gosip-gosip murahan mama Riko, biasanya pagi betul aku harus mengantar istriku ke pasar untuk membeli lauk pauk, tapi sejak munculnya warung sayur di depan jalan masuk perumahan, aku tidak perlu jauh-jauh lagi mengantar istri hanya untuk beli sayur. Sekarang tukang sayur malah lebih mendekat lagi, bahkan sampai ke pintu samping rumah. Tapi tidak enaknya karena hampir tiap hari telingaku harus berurusan dengan gosip-gosip yang disebar Mama Riko.

Pagi ini Mama Riko ngomongin si Jawara, katanya “Jawara itu jagoan cemen, ngomongnya aja yang besar, sok jago, sok kuasa”.

Terkait

Entah ada masalah apa antara Mama Riko dengan Jawara hingga sepagi ini si Jawara menjadi bahan cercaan Mama Riko.

Jawara dianggap sebagai tokoh masyarakat di kampungku. Kalau ada apa-apa harus minta pendapat ke Jawara. Kalau ada kegiatan di kampung tanpa sepengetahuan Jawara, maka dia akan mengamuk.

Pak De tetanggaku bilang kalau si Jawara itu tidak bisa dipercaya, orang yang baru-baru tinggal di kampung ini saja yang mau percaya sama bualannya, “dia itu cuma mementingkan diri sendiri, sok pintar, sok menasehati, pokoknya dia ajalah yang benar”.

“Si Jawara memang dari dulu gak bisa dipercaya” kata Pak De tempo hari.

“Dia Ketua Takmir Masjid tapi tingkah lakunya begitu” lanjut Pak De.

Mungkin yang dimaksud oleh Pak De tentang tingkah laku Jawara “begitu” adalah karena kemarin di acara sunnatan seorang anak di kampungku, si Jawara jadi pelopor judi sabung ayam. Padahal, malamnya dia hadir dan berada di barisan paling depan bersama Habib dan Ustadz saat acara Yasinan. Apa mungkin Jawara di acara Yasinan itu ingin berdo’a kepada Allah dengan niat untuk menang judi. Kalau begitu lebih mending si Ari, temanku sejak kecil, dia juga keponakan Jawara. Ari bilang sebelum mulai berjudi dia berdo’a minta bantuan kepada Iblis supaya menang judi.

“Kalau mau melakukan hal-hal yang baik, ya berdo’a kepada Allah, tapi kalau mau melakukan hal-hal yang buruk berdo’anya kepada Iblis’ kata Ari sembil tertawa.

“Ah, kamu itu, penganut ajaran sesat!” Seperti ini biasa aku menjawab kalau si Ari sudah mulai mengoceh.

Aku awalnya kurang percaya sama cerita Pak De, aku pikir dia cuma sentimen sama si Jawara, tapi Ustadz Syukur membenarkan cerita Pak De. Si Dina bercerita kepada Ustadz Syukur dengan polosnya kalau bapaknya kalah judi dua juta, ayamnya mati. Dina ini anaknya Jawara. Ia belajar baca tulis Al Qur’an ke Ustadz Syukur di Madrasah Masjid. Ustadz Syukur sendiri tinggal di sebelah Masjid kampungku.

Parahnya lagi, saat Ustadz Syukur mengajar santrinya di Madrasah Diniyah, ada dua orang menjinjing tas ayam yang di dalamnya ada ayam jago bertanya ke Ustad Syukur “Dimana arena sabung ayam?”. Masak pagelaran judi ditanya ke Ustadz. Memangnya Ustadz masuk jadi panitia judi sabung ayam(?).

###

Tapi Mama Riko ocehannya lebih pedas.

“Dia merasa dirinya orang alim loh, bu” katanya ke Istriku.

“Padahal ngajinya aja belepotan, kayak orang lagi kumur-kumur”. Lanjut Mama Riko.

“Trus si Jawara itu penakutnya minta ampun, gayanya aja sok jago, masak gara-gara dia dengar suara bayi nangis dikira suara kuntilanak, padahal tetangga rumahnya kan banyak yang punya bayi’. Mama Riko memang gak bisa direm kalau lagi nyerocos.

###

Malam hari setelah shalat Isya aku tidak langsung pulang ke rumah, aku bertahan menunggu Ustadz Syukur, sejak Ustadz Syukur tinggal di kampung ini beberapa bulan yang lalu, aku jadi punya tempat untuk bertanya masalah agama, khususnya soal fikih keseharian. Aku juga punya kesempatan untuk belajar dan memperbaiki cara membaca Al Qur’an.

Ustadz Syukur bilang ke aku kalau orang yang benar-benar alim di kampung ini adalah Abah Haji. Aku agak kaget mendengar pengakuan Ustadz Syukur, yang aku tahu Abah Haji itu cuma seorang tukang bangunan, tidak ada yang luar biasa dari Abah Haji selain sikap ramahnya, dan hampir tidak pernah aku melihat Abah Haji memakai pakaian seperti layaknya orang alim, bergamis, mamakai sorban atau memakai jubah, yang aku sering lihat Abah Haji selalu memakai sarung, baju kaos dan songkok hitam di waktu santai. Aku juga tidak pernah melihat Abah Haji berceramah atau memimpin do’a saat yasinan atau tahlilan.

Apalagi kalau hari Jum’at, Abah Haji pasti berada di rakaat paling belakang, tentu aku selalu melihat Abah Haji karena aku yang datangnya paling akhir tiap Jum’atan. Yang khutbah Jum’at kalau bukan Ustadz Syukur, ya Habib Garib. Mereka berdua yang bergantian mengisi jadwal khutbah, tapi kalau Habib Garib lagi ada urusan di luar kampung Ustadz Syukur lah yang mengganti.

“Abah Haji orangnya lain, beliau agak aneh”. Kata Ustadz Syukur.

“Coba aja bang Amat perhatikan, kalo ada acara hajatan Abah Haji lebih suka duduk di berisan belakang, beliau gak mau unjuk diri”. Lanjut Ustadz Syukur

‘Tiap malam Jum’at aku ke rumah Abah Haji, niatnya sih aku mau ngaji kitab kuning, eh tiba dirumahnya aku diminta baca Barzanji, trus makan-makam, abis itu aku disuruh cerita sana sini, sampai aku lupa kalo niat awal datang ke rumah Abah Haji untuk ngaji”. Kata Ustadz

“Nah, kan Ustadz gak pernah liat Abah Haji ngaji, trus yang disuruh baca barzanji juga Ustadz, tau dari mana Ustadz kalo Abah Haji orang alim, jangan-jangan Abah Haji memang gak bisa?!” Tanyaku ke Ustadz Syukur dengan nada serius.

“Dari Habib Garib. Habib nyarankan aku berguru ke Abah Haji, tapi gak gampang kita memancing Abah Haji membahas ilmu agama, paling beliau membahas masalah kerja-kerja tukang bangunan”. Jawab Ustadz.

###

Pagi itu aku bangun terlalu cepat, jam delapan lewat sudah dibilang cepat, biasanya aku bangun shalat subuh sekitar jam sembilan pagi. Ustadz Syukur memintaku untuk menemaninya ke rumah Abah Haji, hari Ahad pagi Ustadz Syukur mau buat acara aqiqahan anaknya yang baru lahir.

Aku bergegas ke kamar mandi, membersihkan badan setelah itu shalat subuh, ini sih sudah lewat waktu subuh, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak menunaikan shalat sama sekali.

Aku berjalan tergesa-gesa ke rumah Abah Haji, dari jauh aku melihat Jawara juga berjalan menuju ke rumah Abah Haji berlawanan dengan arah kedatanganku. Setelah mengucap salam dan saling menanyakan kabar, Abah Haji mendahuluiku berbicara.

“Tadi Ustadz ke sini, katanya janjian sama Amat?!” Kata Abah Haji diakhiri pertanyaan.

“Iya Pak Haji, tapi aku bangunnya kesiangan” ucapku dengan sersipu malu.

Jawara dan Pak Haji tertawa.

“Aku juga sering bangun kesiangan kalo lagi gak kerja proyek” kata Pak Haji

“Waduh, parah ini, subuh kalian pasti ketinggalan” kata Jawara langsung ikut nimbrung.

“Kalo aku uda terbiasa bangun subuh, seperti ada yang bangunin aku tiap subuh, padahal malamnya aku juga bangun untuk shalat tahajjud. Kalian harus belajar disiplin dengan membiasakan diri shalat tepat waktu. Maaf ya Pak Haji, bukannya bermaksud menggurui, sekedar saling mengingatkan pada kebaikan”. Kata Jawara barpanjang lebar.

Terlihat Abah Haji mengangguk hormat dan memperhatikan penjelasan Jawara dengan sangat serius.

“Kalo gak dibiasakan dari sekarang, mau sampai kapan? Umur seseorang gak ada yang tau. Biasakan berdzikir, misal Pak Haji lagi kerja, gak apa-apa sambil berdzikir dan memperbanyak shalawat. Gak ada kata terlambat untuk belajar agama. Bisa belajar ngaji sama Ustadz syukur, Ustadz memang bagus ngajinya, tapi masih harus belajar ilmu hikmah. Allah kan menurunkan Al Qur’an sama Ilmu Hikmah, ilmu Hikmah ini yang jarang orang pahami”. Kata Jawara sembari menggerak gerakkan kedua tangannya saking semangatnya.

“Seseorang bisa aja lancar membaca Al Qur’an, penyebutan hurufnya fasih dan pandai ilmu fikih, tapi ilmu itu tidak sampai melewati kerongkongannya. Sebatas di bibir aja. Intinya adalah ikhlas dari hati. Inilah ilmu hikmah. Belum bisa dikatakan alim kalo gak paham ilmu ini”. Lanjutnya.

Abah Haji menyimak penjelasan Jawara dengan penuh perhatian. Aku justru tidak suka melihat Jawara berbicara layaknya guru di depan murid-muridnya, sejak mendengar gosip Mama Riko dan cerita Pak De tentang Jawara, dalam hatiku mulai muncul rasa tidak suka pada orang ini.

###

Sebelum jam sepuluh pagi aku sudah berada di rumah Ustadz Syukur. Ustadz memintaku untuk menyambut tamu yang hadir di acara Aqiqahan anaknya. Hari ini Ustadz Syukur sangat sibuk mempersiapkan hajatannya, mulai dari persiapan konsumsi, pengeras suara sampai menata kursi tambahan di teras rumah jika ruang tamu yang akan dijadikan tempat membaca Barzanji dan Asraqalan tidak cukup untuk menampung tamu yang hadir.

Sebelum memulai acara pembacaan Kitab Barzanji, Ustadz Syukur menyampaikan permohonan maaf dari Habib Garib karena mungkin datang terlambat atau bahkan tidak bisa hadir di acara Aqiqahan anak Ustadz Syukur karena masih berada di kota untuk suatu keperluan yang sangat penting.

Jawara duduk di sebelah Ustadz Syukur. Ketika Ustadz Syukur memberikan pengeras suara ke Jawara untuk mengawali acara dengan bertawazzul mengirimkan bacaan Surah Al Fatihah kepada Rasulullah dan kepada Para Sahabatnya, tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, Ulama dan  para Wali Allah, Ternyata Jawara menolak dan menyerahkan kembali pengeras suara kepada Ustadz Syukur. Akhirnya Ustadz Syukur mulai membaca Barzanji.

Beberapa saat dimulainya acara,  terlihat Abah Haji muncul dangan gaya khasnya yang sangat sederhana. Seperti biasa, Abah Haji mengambil tempat duduk di deretan paling belakang, karena ruang tamu tidak cukup untuk menampung para undangan, jadi Abah Haji duduk di kursi plastik yang disediakan di luar rumah.

###

Sebenarnya aku sangat ingin ikut membaca barzanji tapi takut memperlambat selesainya acara, bisa sampai kesiangan. Kasihan juga melihat Ustadz harus membaca sendiri sampai suaranya parau. Tapi bacaanku kurang lancar, para hadirin bisa jengkel kalau bacanya kelamaan.

Pada bacaan “wa kaana” akhir sebelum do’a terdengar jelas suara Ustadz Syukur sudah sangat parau nyaris tanpa bunyi lagi, aku mencoba mengintip lewat jendela melihat Ustadz Syukur menyerahkan pengeras suara ke Jawara untuk membaca do’a Barzanji, tapi lagi-lagi Jawara menolak. Ustadz Syukur mengedarkan pandangan mungkin mencari kalau-kalau Habib Garib tiba-tiba datang, dan akhirnya Ustadz Syukur tersenyum dengan mata berbinar sembari bangkit dan berjalan ke arah pintu rumah.

###

Tak ada seorang pun di antara yang hadir di acara Aqiqahan itu menyangka bahwa suara merdu yang melambari bacaan fasih saat melantunkan do’a Barzanji berasal dari orang yang kesehariannya terlihat jauh dari kehidupan agamis, gaya dan cara hidupnya sangat sederhana dan biasa-biasa saja.

Aku terpukau menyaksikan di depanku seorang yang kukenal sebagai tukang bangunan, duduk di kursi paling belakang dengan kombinasi pakaian seperti yang biasa dikenakannya, songkok hitam, baju kaos dan sarung. Ya beliau adalah Abah Haji yang sedang khusuk membaca do’a Barzanji yang lumayan panjang dengan tangan kanan memegang pengeras suara dan tangan kiri menengadah ke langit. Menjelang akhir do’a, kepala beliau tertunduk dalam dan suaranya perlahan terisak; Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

###

Usai acara, Ustadz Syukur memintaku mengantar sekeranjang berkatan ke rumah Habib Garib.

Rumah Habib Garib terpisah menyendiri dari deretan rumah warga. Rumah beliau berada di dalam kebun. Setiba di rumah Habib Garib, aku melihat Habib Garib sedang berbincang dengan Pak Udin, tukang kebunnya.

Tadi pagi Pak Udin ikut hadir di acara Aqiqahan anak Ustad Syukur, dan ternyatanya Habib Garib ada di rumah tidak sedang ke kota seperti yang dikatakan Ustadz Syukur.

Langsung saja kusampaikan maksud kedatanganku untuk menyampaikan amanat Ustadz Syukur kepada Habib Garib yaitu mengantar berkatan aqiqah.

“Kata Ustadz, Habib lagi ke kota?” Tanyaku ke Habib Garib.

Pak Udin dan Habib Garib tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Sebenarnya ana gak ke mana-mana sejak kemaren”. Jawab Habib Garib.

“Kok Habib gak datang di acara Aqiqahan tadi?” Tanyaku kembali.

“Tadi malam Ustadz Syukur ke sini, minta ana datang baca barzanji di acara Aqiqahan anaknya. Tapi ana bilang, Ustadz aja sendiri yang baca, sampai suara parau. Nah saat seperti itu bisa minta gantian baca barzanjinya ke Bang Jawara”. Kata Habib berusaha mengurai alasannya tidak hadir di acara aqiqah.

“Lah, Pak Jawara gak mau!” Kataku.

“Nah, justru itulah yang ana maksud, kesempatan ini bisa digunakan oleh Ustadz untuk memaksa Abah Haji ‘turun gunung’. Ustadz harus acting, berpura-pura kehilangan suara. Jadi gak ada pilihan lagi bagi Abah Haji untuk menghindar”. Kata Habib dengan dialek khasnya yang agak ke Arab-araban.

“Ini namanya siasat, Mat. Antum harus paham cara memancing harimau turun gunung”. Kata Habib Garib.*

Selengkapnya...
Back to top button