Balikpapan

Shalat Berjarak, Satpol PP Berdempetan

Selama tidak ada keteladanan, sulit menciptakan kesadaran.

Report: Taufik Hidayat I Editor: Fai

TIMUR MEDIA – Sebuah foto mobil Satpol PP Balikpapan, menjadi viral di sosial media, Minggu 7 Januari 2021. Foto viral itu lantaran menggambarkan rombongan petugas Satpol PP usai melakukan patroli lockdown akhir pekan. Namun, tidak ada keterangan dimana foto itu diambil.

Kendati demikian, netizen Balikpapan menyindir foto terkait. “Mereka yang menertibkan masyarakat yang berkerumun, menyuruh jaga jarak, tapi mereka juga yang melanggar. Kaya apa ini,” tulis netizen. Banyak komentar serupa yang mengkritisi inkonsitensi petugas Satpol PP Balikpapan.

Inkonsistensi penegakan prokes juga turut dikeluhkan warga yang kerap menyaksikan kondisi harian di lapangan. Hendra, warga MT Haryono Dalam Balikpapan Selatan, turut merasakan ketidak sinkronan antara penegakan aturan dan kondisi lapangan yang dilihatnya.

Ia mengaku banyak petugas yang meminta penerapan prokoes Covid-19 tapi mereka malah melanggar.

“Kalau mau jujur banyak petugas yang pernah saya lihat tidak taat protokol kesehatan. Misalnya terkait jaga jarak. Sering saya melihat Satpol PP melanggar. Masa shalat diminta jaga jarak, eh Satpol PP berdempetan,” keluhnya, Minggu 7 Januari 2021.

Ia pun merasa penerapan prokes seolah hanya berlaku bagi masyarakat. Jika ada yang warga melanggar diberi sanksi, tapi giliran petugas yang melanggar dibiarkan. “Dan anehnya selalu menyalahkan warga. Bandel lah, tidak disiplin lah, padahal petugas juga banyak melanggar protokol,” ujarnya.

Hal sama disampaikan Danu, warga Muara Rapak Balikpapan Utara. Saat ditanyakan tentang kesadaran prokes, ia malah tertawa. “Gimana warga mau sadar kalau yang membuat aturan saja melanggar. Tapi selalu warga yang disudutkan,” katanya.

Danu merasa penegakan prokes tidak akan menjadi gerakan kesadaran selama petugas dan pejabat tidak memberikan contoh. Ia juga menyoroti masalah lockdown akhir pekan yang dinilai hanya membuahkan kesengsaraan bagi masyarakat.

“Pejabat enak di rumah sebulan pun dapat gaji. Kita, yang jualan ini kan bingung kalau libur walau cuma sehari. Pedagang kecil diminta tutup tapi bandara buka, tidak adil. Kami yang jadi korban,” keluhnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Parlemen Bontang, Agus Haris menilai selama ini pemerintah pusat seolah menakut-nakuti rakyat Indonesia dengan virus Covid-19.

Secara psikologis, menurutnya, bisa berdampak negatif bagi masyarakat. saat pola pikir kebahagiaan dan hal positif dalam diri tidak ada lagi, ini bisa menimbulkan penyakit bagi seseorang. “Sebab yang ada hanya rasa ragu dan takut dalam benak kita,” jelasnya, Minggu 7 Februari 2021.

Dari hasil analisa dan fakta lapangan, ia menyarankan pemerintah pusat dan daerah agar mengubah total pola penanganan Covid-19. Antara lain, dengan mengembalikan pola kehidupan normal. Hal ini dinilainya sebagai jalan terbaik.

“Saya mengajak pemerintah agar memberi rasa nyaman dan bahagia kepada rakyat untuk memulihkan mental rakyat kita, yang selama ini telah diliputi rasa takut berlebihan. Ayo kita kembali normal seperti beberapa negara lain,” saran Agus.

Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali meramaikan masjid.  “Saya punya pikiran konyol. Hapus itu anggaran untuk Covid-19. Kembalikan anggaran untuk kepentingan masyarakat dan lupakan Covid. Saya mendorong agar kita kembali normal. Kembali ramaikan masjid bagi yang Muslim, dan bagi Nasrani juga kembali berdoa ke gereja dan lainnya. Dekatkan diri pada tuhan,” tegasnya.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button