Kolom

Senandung Logika Grassroots

Wacana yang diakses dalam medsos, tidaklah bebas nilai.

Penulis: Ickur

TIMUR MEDIA – Ketika di kalangan elit kekuasan terjadi harmoni, di grassroots atau lapisan bawah, justru tetap terjadi polarisasi horizontal alias ketegangan antar masyarakat. Kenapa demikian? Sebab nalar kekuasaan berpikir secara dialektis, sedangkan grassroots atau khalayak berpikir di bawah kibaran bendera hitam-putih.

Yang dimaksud berpikir di bawah berdera hitam-putih di sini bukan benrdera HTI yang diklaim sebagai bendera Rasulullah, tapi cara berpikir benar-salah sebagai pengejewantahan dari logika formal.

Logika Formal hukum dasarnya, identitas. Rumusnya; Hitam sama dengan hitam. Setelah identitasnya ditentukan, dilanjutkan meniadakan kontradiksi; kalau hitam sama dengan hitam, berarti hitam tidak sama dengan putih. Akhirnya tidak ada jalan tengah. Maksudnya, tidak ada sesuatu yang pada saat bersamaan, dia adalah hitam sekaligus dia adalah putih. Harus memilih satu dan menghabisi yang lain.

Orang-orang elit yang berebut kuasa menggunakan metode berpikir dialektis secara strategis, segala sesuatu ditimbang secara rasional dan kepala dingin. Sehingga saat gagasannya diungkapkan, maka kesan yang ditangkap khalayak adalah citra positif dan mengharu biru.

Sedangkan khalayak atau grassroot menangkap wacana yang diungkapkan kelompok elit secara normatif sehingga  emosinya mudah dibakar.

Informasi yang didapat, kecenderungannya sepihak dan tidak ada pembanding. Khalayak tidak sempat menganalisis informasi yang datang secara gencar, yang secara digital telah tersaring menjadi apa yang kita suka.

Wacana yang diakses melalui media utamanya medsos tidaklah bebas nilai, tapi sudah melalui proses pemetaan secara digital. Artinya, informasi yang kita dapat bukan informasi yang “benar” tetapi informasi yang kita “suka”.

Nah, arus deras informasi melalui copy-paste atau share dari grup sebelah ini ternyata adalah informasi yang “kita suka”, tapi kemudian kita yakini sebagai suatu kebenaran. Kemudian, kita paksakan kepada semua orang yang pandangannya berbeda untuk menerimanya.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button