Editorial

Sembuh

KABAR BAIK datang dari perkembangan kasus korona. Data Worldometer per 27 Juli 2020, jumlah pasien sembuh di dunia telah mencapai 10.126.300 jiwa. Sedangkan total kasusnya, 16.536.512 jiwa.

Untuk jumlah kematian, 654.057 jiwa. Kematian ini pun mayoritas didominasi komorbid. Artinya, mereka yang meninggal dunia memiliki penyakit bawaan. Yang umumnya penyakit berat, seperti jantung, gagal ginjal, TB, pernafasan, dan lainnya. Dari segi usia juga didominasi usia senja. Begitu juga di Indonesia.

Seperti yang pernah disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan korona, Achmad Yurianto, pada medio Maret silam.

Kembali ke data Worldometer. Untuk pasien korona yang kritis hanya berjumlah satu persen dari 5.754.918 pasien di dunia yang masih menjalani perawatan. Sedangkan tingkat kematian dari 10 juta kasus, prosentasenya enam persen dan tingkat kesembuhannya naik hingga mencapai 94 persen.

Perkembangan kasus korona di dunia. (worldometer)

Di Indonesia, sesuai data Gugus Tugas (Covid19.go.id) kasus korona per 27 Juli 2020, total kasus positif 100.303, dan jumlah pasien sembuh menembus 58.173. untuk jumlah meninggal dunia 4.838 jiwa.

Jika kita membandingkan dengan penyakit menular lain, seperti tuberkulosis misalnya, angkanya jauh sekali. Data per Juni 2020, jumlah penderita TBC diperkirakan mencapai 845 ribu kasus dengan angka kematiannya mencapai 98 ribu jiwa. Data ini dikutip dari Tempo, 13 Juni 2020: Waspada, Kematian Tuberkulosis di Indonesia Capai 98 Ribu Jiwa.

Dengan kata lain, angka kesembuhan korona baik di dunia dan Indonesia, sangat tinggi. Yakni mencapai 94 persen. Bahkan mereka tidak perlu diberi vaksin. Bahkan sesuai protokol baru penanganan Covid-19 dari Kemenkes, pasien positif melakukan isolasi mandiri di rumah selama 10 hari, sebelum akhirnya dinyatakan sembuh. Dan faktanya, banyak yang sembuh cukup perawatan isolasi mandiri di rumah. Kabar ini tentu saja menggembirakan.

Wajah korona yang seolah digambarkan sangat menyeramkan, bahkan banyak yang terpenjara ketakutan, fakta dan data justru mengungkapkan jika angka kesembuhannya tinggi. Bahkan bisa perawatan mandiri. Dari data Worldometer di atas, terbukti pula 10 juta pasien korona di dunia sembuh tanpa vaksin. Kenapa?

Karena sampai saat ini belum ada satu pun vaksin yang diedarkan. Meski sudah ada puluhan vaksin yang dikembangkan, tapi masih dalam tahap ujicoba. Belum resmi didistribusikan. Apalagi digunakan. Terlebih menyembuhkan. Tidak ada. Mereka sembuh tanpa vaksin apapun.

Namun, bukan berarti kita menganggap remeh. Jangankan korona, duri di jalan saja kita patut waspada. Hanya saja, kewaspadaan kita terhadap korona dan apapun jangan sampai memenjarakan pikiran. Jangan sampai ketakutan mendominasi jiwa dan pikiran kita.

Sampai-sampai kita menuding orang lain pembawa virus, misalnya. Jangan sampai terjadi. Tetap waspada dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagaimana mestinya. Tanpa tuding sini sana. Sebab, kita amat masygul dengan fakta banyaknya jenazah pasien korona yang dikucilkan.

Padahal virus itu membutuhkan inang. Kalau jasadnya sudah terbujur kaku, bagaimana mungkin virus itu berkembang, apalagi menyebar. Penolakan pada jenazah korona harus dihentikan. Begitu juga pengucilan terhadap pasien positif korona harus segera dihentikan.

Seperti yang terjadi di Samarinda. Plt Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed, mengungkapkan pihaknya menerima laporan terkait kasus pasien korona yang dijauhi warga. Sungguh amat disesalkan. Semoga hal demikian tidak terjadi lagi.

Apalagi dari data dan fakta, ternyata pasien yang sembuh dari infeksi korona jumlahnya sangat tinggi. Baik di dunia, juga di Indonesia.

Tetapi, kita perlu memikirkan dan mewaspadai penyakit menular lainnya. Semisal, Tuberkulosis yang kerap disebut TB atau TBC. Indonesia malah berada di urutan ketiga dunia dengan ancaman kasus TB yang berbahaya. Sekitar 845.000 penduduk Indonesia jatuh sakit karena TBC. Angka ini diperkirakan mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Bahkan, pada 7 Juli 2020, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes, mengungkapkan: setiap jam, setidaknya ada 13 orang Indonesia yang meninggal dunia karena TBC. Belum lagi penyakit menular lain seperti HIV/AIDS dan lainnya.

Sebaliknya, prevalansi penyakit tidak menular juga patut diwaspadi karena justru inillah yang menjadi penyebab kematian tertinggi masyarakat Indonesia. Seperti stroke, jantung, diabetes, gagal ginjal kronis, dan kanker.

Sedangkan korona, justru banyak yang semakin sembuh seperti sedia kala. Kenapa ini yang dikhwatirkan? Tapi terhadap yang jauh lebih berbahaya dan memiliki tingkat kematian tinggi, malah biasa saja.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button