Kolom

Selamat Datang Resesi

Ilustrasi. (GI)

TIMUR MEDIA – MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengklaim telah menyiapkan strategi. Menghadapi ancaman resesi global 2020.

Strategi politisi Golkar ini, mengoptimalkan pasar domestik. Ia memproyeksikan domestic market bakal menjadi safeguard. Penyelamat ekonomi Indonesia masa depan.

Lain lagi dengan strategi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Untuk menahan resesi global, ia menyiapkan langkah dengan menekan laju impor konsumsi. Dimulai tahun depan.

Ancaman resesi global kini menjadi perhatian dunia. Bahkan sejak beberapa bulan silam media asing dan nasional telah menyorotinya. Dus, para pakar ekonomi di pelbagai belahan dunia.

Begitu pula sejumlah riset yang mengungkap indikasi resesi dunia semakin nyata. Daya kejutnya bisa mengancam ekonomi di tahun depan.

United Nations Conference On Trade and Development atau UNCTAD, misalnya. Dalam laporannya ikut memberi peringatan jika resesi global bisa terjadi tahun depan.

UNCTAD adalah organisasi internasional yang didirikan tahun 1969 dan termasuk organ utama PBB untuk menangani isu perdagangan dan investasi. Anggotanya terdiri dari 191 negara. Markasnya berpusat di Jenewa, Swiss.

Dalam laporannya, UNCTAD mengingatkan indikasi datangnya resesi tahun depan. Di antaranya tensi perang dagang yang memanas, pergerakan mata uang dunia, utang korporasi, Brexit tanpa kesepakatan.

Laporan itu menyerukan agar para pembuat kebijakan fokus dalam peningkatan lapangan kerja, upah dan investasi publik.

Syahdan, survei teranyar J.P. Morgan terhadap ratusan jajaran petinggi perusahaan global di Asia Pasifik. Survei itu mengungkap keresahan pelaku bisnis. Yang menganggap potensi resesi global sebagai risiko terbesar bagi perusahaan dalam 6-12 bulan ke depan.

Pentolan IMF, Kristalina Georgieva turut memberi proyeksi yang suram. Ia menilai pertumbuhan ekonomi global berpotensi turun ke tingkat terendah sejak awal dekade.

Jauh sebelum Kristina, presiden World Bank David Malpass pada April lalu telah memberi warning serupa. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya di kisaran 2,6%.

Eropa sendiri diprediksi bakal memasuki periode stagnasi ekonomi berkepanjangan. Pada 29 Oktober 2019, resesi mendatangi Hongkong. Pada 21 November mendatang, Amerika diprediksi bakal shutdown government lagi.

Yang paling pahit, Zimbabwe, Venezuela, Argentina, bahkan Tukri. Mereka telah lebih dulu mengalami krisis ekonomi.

Yang mengejutkan adalah Turki. Di tahun 2017, laju pertumbuhan ekonominya mencapai 7,4 persen. Sampai mengalahkan Cina dan India.

Tapi tahun berikutnya tepatnya Mei 2018, justru terpuruk. Dengan gejolak ekonomi yang meruntuhkan nilai Lira terhadap Dolar Amerika.

Pakar ekonomi dunia menilai gejolak ekonomi Turki disebabkan, tiga faktor. Besarnya utang negara, menipisnya cadangan devisa dan rendahnya suku bunga. Krisis Turki menjadi satu sinyal makin dekatnya resesi.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira bahkan menilai, saat ini resesi lebih kompleks dibanding era 1998. Instrumen ekonomi Indonesia seperti UMKM dinilai juga tak mampu menghadapi resesi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga ikut memberi warning. Indonesia harus waspada lantaran resesi ekonomi telah terjadi di beberapa negara di dunia.

Tapi, ia malah mengeluarkan aturan baru. PMK Nomor 144/PMK.05.2019. Peraturan Menteri Keuangan ini terkait perkiraan defisit dan tambahan pembiayaan defisit APBN.

Empat hari usai dilantik, Menkeu juga berencana menerbitkan surat utang berdenominasi valuta asing. Atau global bond.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Fathan Subkhi, menilai penambahan utang itu bisa membahayakan. Sebab, utang Indonesia dinilai tertinggi se-Asia.

Kementerian Keuangan harus mengubah paradigma bahwa barang belanja harus berdasar kinerja dan manfaat. Bukan sekadar membeli tapi tidak tepat sasaran. Bukan pula dengan menambah utang.

Kebijakan utang juga disindir anggota DPR RI, Heri Gunawan. Ia melempar sakartis, baru saja menteri dilantik mau utang lagi. Ketua DPP Gerindra ini menilai kebijakan Menkeu di periode kedua tak ada perubahan. Hanya utang, utang dan utang.

Kalau melihat data Kementerian Keuangan (2018), posisi utang Indonesia di akhir tahun 2018 memang mengkhawatirkan. Nilainya sudah menembus Rp 4.418 triliun. Artinya, hanya 4 tahun masa pemerintahan Jokowi, jumlah utang naik Rp 1.809 triliun.

Jika dibanding era sebelumnya atau era SBY. Pertambahan utang pemerintah Jokowi di kurun waktu 4 tahun, utangnya lebih besar. Dibanding penambahan utang di era SBY selama 10 tahun.

Utang pemerintah era SBY selama 10 tahun sebesar Rp 1.309 triliun. Era Jokowi, hanya 4 tahun utangnya sudah tembus Rp 1.809 triliun. Dan Menkeu yang baru saja dilantik bersama menteri lain di Kabinet Indonesia Maju, malah utang lagi.

Jangan-jangan, jika resesi terjadi di Indonesia. Bukan akibat efek domino perang dagang, tapi karena kebanyakan utang: seperti Zimbabwe, Yunani, Venezuela, Argentina, Ekuador, Puerto Rico, Jamaika, dan Turki.

Maka, mari ucapkan: selamat datang, resesi. Siap kah Indonesia menghadapinya? Jangan sampai pemerintah optimis, tapi hanya sekadar lips service.

Actionnya malah mempercepat datangnya resesi. Dengan menambah: utang, utang dan utang. Tapi rakyat justru dicekik aneka kenaikan. Dimana-mana kesusahan.

Bahkan, laporan Asian Development Bank tekait kondisi di Indonesia, sangat mencengangkan. ADB melaporkan 22 juta orang Indonesia masih menderita kelaparan.

ADB bersama International Food Policy Research Institute mengungkapkan hal itu dalam laporan bertajuk ‘Policies to Support Investment Requirements of Indonesia’s Food and Agriculture Development During 2020-2045’.

Duh, mengerikan.

Sakhia, pemerhati sosial politik.

Most Popular

To Top