Editorial

Selamat Datang Resesi

TIMUR MEDIA – Rabu 15 Juli 2020, Jokowi mengingatkan ancaman krisis ekonomi. Ia memperkirakan ekonomi Indonesia minus 4,3 persen pada kuartal II tahun ini. Jika di kuartal III ekonomi negatif lagi, maka Indonesia akan masuk ke jurang resesi ekonomi.

Resesi adalah kondisi pertumbuhan ekonomi suatu negara tumbuh negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Saat ini, resesi ekonomi sudah dialami Singapura.

Sejalan dengan proyeksi Bank Dunia. Diperkirakan, ekonomi Indonesia sampai akhir tahun tidak tumbuh sama sekali alias nol persen. Bahkan, Bank Dunia juga memprediksi Indonesia berpotensi masuk jurang resesi. Menyusul Singapura yang lebih dulu tercebur dalam jurang resesi.

Resesi di sana terjadi karena pertumbuhan ekonomi Negeri Singa itu minus 41,2 persen di kuartal II 2020. Departemen Perdagangan dan Industri Singapura mengumumkan hal itu secara resmi pada Selasa (14/7). Angka tersebut menjadi kontraksi Produk Domestik Bruto triwulanan terbesar dalam sejarah Singapura.

Di kuartal II tercatat PDB turun 12,6 persen, lebih dalam dari median survei untuk kontraksi 10,5 persen. Merosotnya ekonomi Singapura hingga 41,2 persen juga lebih buruk dibanding median survei Bloomberg yang memprediksi penurunan di kisaran 35,9 persen.

Resesi Singapura, bisa jadi mengular ke Indonesia. Dalam laporan proyeksi ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, Bank Dunia menyatakan, pemulihan ekonomi nasional akan tergantung di kuartal III dan IV 2020. Artinya, pada kuartal III masih sangat sulit diharapkan.

Di sisi lain, Jokowi meminta kuartal III ini benar-benar harus dimanfaatkan. “Momentumnya adalah di Juli, Agustus, dan September, kuartal III. Kalau kita tidak bisa mengungkit di kuartal III, jangan berharap kuartal IV akan bisa, ” ujar saat rapat bersama para gubernur di Istana Kepresidenan Rabu (15/7).

Ekonom Senior Rizal Ramli justru menilai ekonomi Indonesia sudah dipastikan masuk jurang resesi. Sebab meski belum keluar data pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020, tapi data-data penunjang telah menunjukkan penurunan yang sangat tajam.

Asumsi Rizal berangkat dari beberapa indikator. Di antaranya, kebijakan Pemerintah yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020, dari yang awalnya -3,8% menjadi lebih dalam yakni -4,3%. Kemudian, daya beli menurun, pengangguran naik, kemiskinan melonjak. Dari indikator itu, ia berpendapat Indonesia sudah mengalami resesi.

Apalagi, jika melihat data Badan Pusat Statistik yang mengungkap terjadinya lonjakan penduduk miskin di Indonesia. BPS mencatat kemiskinan mencapai 26,42 juta orang dari total populasi pada Maret 2020. Jumlah ini melonjak naik 1,63 juta orang dari total populasi di September 2019. Lonjakan penduduk miskin akan berdampak pula pada gini rasio Indonesia.

Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah menilai, umumnya resesi ekonomi di suatu negara berdampak pada naiknya kemiskinan dan pengangguran. Hal itu terjadi lantaran banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Faktanya, di lapangan sudah terjadi gelombang PHK besar-besaran. Penduduk miskin juga meningkat.

Meski belum secara resmi diumumkan, dan masih berharap di kuartal III, tapi fakta dan data menunjukan kuatnya tanda-tanda resesi. Kita juga bisa menyimak data Kementerian Ketenagakerjaan pada Juni 2020, yang menyebut naiknya angka pengangguran.

Data itu menyebut, saat ini jumlah pekerja yang dirumahkan dan kena PHK sekitar 1,7 juta orang. Ada pula 1,3 juta jiwa yang terdampak, namun proses validasinya masih dilakukan. Sampai Juni, pengangguran Indonesia menembus 6,88 juta atau sekitar 4,99%.

Ironinya, pengangguran di Indonesia justru disumbang angkatan kerja muda yang tingkat pendidikan SMA/SMK ke atas. Mayoritas pekerja saat ini berasal dari berpendidikan rendah. Persentase pekerja sektor informal juga masih dominan dengan persentase sebesar 56%.

Jadi yang bekerja itu pendidikannya rendah, tapi yang menjadi pengangguran justru mereka yang memiliki pendidikan tinggi SMA/SMK, terbesar SMK, akademi, dan perguruan tinggi.

Dari data Kadin Indonesia Juni 2020, mencatat, hanya beberapa bulan terakhir jumlah karyawan yang di PHK menembus 6 juta orang. Rinciannya, dari pihak API ada 2,1 juta orang, di Organda 1,4 juta orang, PHRI perhotelan 430.000 orang. Lalu alas kaki PHK tembus 500.000 orang.

Yang mengejutkan, Institute for Development of Economics and Finance, meyakini gelombang PHK saat ini belum masuk masa puncaknya. Terlebih saat kuartal I ekonomi masih positif tetap terjadi PHK besar-besaran. Sedangkan kuartal II, tumbuh negatif. Dengan indikator ini, tsunami PHK masih bisa terjadi. Resesi sudah sangat dirasa. Kecuali, ada recovery ekonomi.

Tapi, apa mungkin? Faktanya, rakyat semakin merasakan sulitnya kehidupan. Pendapatan tidak ada, biaya kebutuhan hidup naik berlipat-lipat. Sebenarnya, prediksi resesi ini sudah mengemuka sejak 2018 dan di tahun 2019 makin menggema.

Jauh sebelum korona, beberapa ekonom dunia mewanti-wanti datangnya krisis ekonomi global 2020. Yang patut disiapkan adalah guncangan krisis ini bisa melebihi krismon 1998. Bisa jadi benar apa yang diyakini Rizal Ramli. Indonesia berada di jurang resesi. Hanya saja, kita masih malu-malu mengakuinya. Tapi, cepat atau lambat suka tak suka, pemerintah pun akan mengakui: Selamat datang, resesi.

*Agung, tim riset Timur Media.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button