Historia

Saat Soeharto Murka ke Menterinya

Kemarahan Soeharto menghasilkan cairnya dana untuk Proyek Asahan.

Editor: Fai

TIMUR MEDIA – Tahun 1975, sebagai wakil ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, A.R. Soehoed diangkat menjadi ketua tim perunding dengan Jepang untuk Proyek Asahan. Pembangunan proyek ini menelan biaya sebesar 411 miliar yen atau sekitar Rp 1,7 triliun.

Usai melewati beberapa kali perundingan, Perjanjian Induk atau Master Agreement Proyek Asahan diteken pada 6 Juli 1975 di Tokyo, Jepang, saat Presiden Soeharto berada di sana. Perjanjian itu melibatkan pemerintah Indonesia dengan konsorsium 12 perusahaan peleburan aluminium dan pemerintah Jepang yang membentuk Nippon Asahan Aluminium alias NAA.

Proyek ini terdiri dua paket: proyek PLTA berkapasitas terpasang 604 MW dan pabrik peleburan aluminium berkapasitas 225.000 ton per tahun. Untuk itu, pemerintah Indonesia dan NAA membentuk PT. Indonesia Asahan Aluminium aka Inalum, pada 6 Januari 1976.

Sebagai landasan hukum pelaksanaan Proyek Asahan, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1976 tentang Pembentukan Otorita Pengembangan Serta Badan Pembina Pusat Listrik Tenaga Air dan Peleburan Aluminium Asahan.

Pembangunan Proyek Asahan dimulai pada 1976. Soehoed diangkat menjadi Ketua Otorita Asahan.

Prof Tjipta Lesmana dalam bukunya, Dari Soekarno sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa, mengisahkan saat itu Soehoed mendapat tugas untuk pengawasan.

“Tugasnya mengawasi selama periode 30 tahun Jepang taat memenuhi segala syarat dalam perjanjian yang disebut Master Agreement. Dan kita punya staf, tentu. Staf itu mesti dibayar, ada anggarannya, kalau enggak salah namanya Rekening 16,” ujar Soehoed sebagaimana kisah Prof Tjipta dalam bukunya.

Selain sebagai Ketua Otorita Asahan, Soehoed juga diangkat menjadi menteri perindustrian dalam Kabinet Pembangunan III. Ia menjabat selama lima tahun, yaitu periode 1978–1983.

Saat tak lagi menjabat menteri, Soehoed mendapat informasi anggaran untuk staf Proyek Asahan tidak turun. Ia lalu menanyakannya kepada menteri terkait, tapi tidak ditanggapi.

Sebagai Ketua Otorita Asahan, Soehoed kemudian mengadu kepada Presiden Soeharto. Soehoed pun disarankan bicara dengan Menko Ekuin, Ali Wardhana. “Saya minta sama Menko Ekuin, tidak ditanggapi juga. Akhirnya saya datang lagi pada Pak Harto,” ujar Soehoed, sebagaimana dilansir Historia.id.

“Bagaimana? Sudah hasil?” tanya Soeharto.

“Kita berusaha saja enggak berhasil,” jawab Soehoed.

“Ok, sekarang tunggu saja perintah nanti sore,” perintah Soeharto.

Sorenya, Soehoed dipanggil menghadap Cendana. “Wah, saya pikir ini ada apa lagi,” kata Soehoed.

Kala itu Presiden Soeharto mengumpulkan semua menteri urusan ekonomi termasuk wakil presiden.

“Di situ beliau memarahi mereka di hadapan saya,” kata Soehoed.

Kepada para menteri itu, Soeharto mengatakan: “Saudara harus sadar, Proyek Asahan ini penting sekali! Ini proyek jangka panjang, dan perlu ditunjang dengan anggaran yang cukup. Semua perhatikan ini!”

Semua yang hadir tersentak, diam. Semua menundukkan kepala, nyaris tidak ada yang berani melihat wajah Soeharto.

Menurut Tjipta Lesmana, Soehoed mengaku amat terperanjat melihat presiden membentak-bentak para menterinya. Ia terkejut karena sadar bahwa dirinya sudah bukan menteri lagi.

“Sebagai orang yang tidak menteri lagi, tentu ya repot juga saya. Tapi, akhirnya dipenuhi juga dana tersebut,” ujar Soehoed.

Setelah itu, Menteri Keuangan Radius Prawiro meminta Soehoed untuk berbicara tentang Proyek Asahan kepada pers. Namun, Soehoed berkeberatan.

“Ah, masak saya? Saya kan enggak ada urusan? Yang ribut, Pak Harto kan sama kalian. You sendiri sajalah,” kata Soehoed.

Seiring waktu, akhirnya Presiden Soeharto meresmikan Proyek Asahan, 6 November 1984. Kontraknya dengan Jepang berakhir 9 Desember 2013. Pemerintah Indonesia lalu mengambil alih saham pihak konsorsium.

Inalum (Persero) sendiri resmi menjadi BUMN pada 21 April 2014 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2014. Sedangkan Badan Pembina Proyek Asahan dan Otorita Pengembangan Proyek Asahan yang dibentuk dengan Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1976 dinyatakan berakhir pada 2018.

Dilansir dari Soeharto.co, dalam sambutan tertulisnya saat upacara peresmian Gedung Juang 45 Medan di Jalan Pemuda No.17 Medan, Sumatera Utara, hari Senin, yang dibacakan Gubernur/Kdh Sumatera Utara Marah Halim, Presiden Soharto mengingatkan.

Kata Soeharto, sekarang kita telah 30 tahun lebih merdeka namun perjuangan belum selesai. Kita dahulu berjuang menegakkan kemerdekaan dengan tujuan agar dalam alam kemerdekaan itu kita menikmati kemajuan, kesejahteraan dan keadilan yang merata dalam kehidupan bersama berdasarkan Pancasila. Untuk itu kita harus membangun, kata Presiden, dan kita memang sedang giat membangun.

Hasilnyapun telah mulai kita rasakan, setelah melaksanakan Repelita pertama dan dua sampai saat ini kemajuan-kemajuan nampak dimana-mana dan dibanyak bidang, ujar Presiden Soeharto.

Belum lama ini, publik dikejutkan video kemarahan penguasa. Namun, bukan Soeharto. Melainkan Jokowi. Video itu rekaman lama, yang baru diblow up Istana belakangan. Sambil membaca teks, Jokowi tampak murka.

Tapi, kita belum tahu. Hasil kemarahannya apa.

ISumber: Historia, Soeharto.

Selengkapnya...
Back to top button
Close
Close