Kolom

Saat Polisi Meminta Maaf

Meminta maaf menunjukan kebesaran jiwa sebagai manusia.

Oleh: R. Faiqa Hamda, pemerhati sosial politik.

TIMUR MEDIA – Pada Juni 2020, polisi AS berlutut di depan pendemo yang menuntut kematian George Floyd. Kala itu, bahkan, Kepala Departemen Kepolisian Kota New York, Terence Monahan ikut berlutut dan bergandengan tangan bersama pengunjuk rasa.

Kematian Floyd, pria kulit hitam di Minneapolis tewas setelah seorang polisi menindihnya. Videonya kemudian viral. Publik marah  sampai menggelar aksi unjuk rasa di ratusan kota Amerika.

Video viral itu memperlihatkan momen saat leher Floyd ditindih Chauvin selama hampir sembilan menit. Floyd pun akhirnya tewas. Sedang Chauvin tak hanya dipecat. Tapi juga dituntut dengan tiga pasal sekaligus: pembunuhan tingkat tiga, pembunuhan tingkat dua, dan pembunuhan tak berencana tingkat dua.

Ketiga teman sejawat Chauvin ikut dijerat pasal serupa lantaran diduga ikut bersekongkol. Untuk meredam aksi itu pun, polisi Amerika meminta maaf pada masyarakat.

Di Indonesia, enam nyawa sipil meregang nyawa dengan luka tembak di tubuh mereka. Keluarga dan kuasa hukum menduga para korban didor di dada, yang mengarah ke arah jantung. Dugaan lain, bahkan, ditembak dari jarak dekat.

Kasus ini masih menggelinding. Belum ada satu pun tersangka. Belum juga ada satu pun yang meminta maaf pada masyarakat, atau pada keluarga. Seperti laiknya polisi di Amerika.

Senin mendatang, pihak keluarga justru akan dipanggil pihak kepolisian. Olala…

Enam korban penembakan, dituding melakukan penyerangan pada aparat kepolisian. Jika polisi menjadi korban penyerangan dan mereka menembak karena melakukan perlawanan, bukankah harusnya diberi apresiasi?

Wajah-wajah mereka patut ditampilkan, untuk diberi penghormatan. Laiknya sebuah penghargaan prestasi, publik juga perlu tahu siapa yang gagah berani menembak kala diserang?

Tapi, kenapa wajah mereka tidak ditampilkan? Bahkan, namanya saja publik tidak tahu. Olala…

Alih-alih meminta maaf karena bagaiamanapun juga telah menhilangkan nyawa tanpa proses pengadilan. Sayang, maaf itu terlalu mahal sepertinya. Padahal, meminta maaf bukanlah sebuah kekalahan atau kemenangan.

Tapi menunjukan kebesaran jiwa, sebagai manusia.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button