NEWS

Relawan Ujicoba Vaksin Sinovac Sakit

Tiga perusahaan yang melakukan ujicoba vaksin, relawannya alami gangguan kesehatan.

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Sejumlah relawan uji klinis fase 3 calon vaksin Covid-19 Sinovac di Bandung dilaporkan mengalami sakit. Hal ini diutarakan Manajer Tim Riset uji vaksin itu dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Eddy Fadlayana, belum lama ini.

“Dia dulu punya hipertensi sekarang kumat, ada yang sakit tipes, rematik, maag,” paparnya, dilansir Tempo, Senin, 19 Oktober 2020.

Menurutnya relawan yang sakit itu melaporkan ke tim lalu diperiksa dokter rumah sakit dan ditanggung asuransi. Soal jumlah pastinya berapa relawan yang sakit itu, Eddy tidak merinci.

Dari laporan relawan yang mengaku sakit, tim riset meminta resume pemeriksaan dari dokter. Laporan itu kemudian disampaikan ke Komite Etik dan tim konsultan riset untuk diaudit. Uji klinis vaksin ini menerapkan dua kali penyuntikan. “Relawan yang sudah dua kali disuntik 600 orang lebih,” jelasnya. Total relawan sebanyak 1.620 orang.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, menyatakan pengadaan vaksin Covid-19 untuk Indonesia telah ditetapkan pemerintah sebanyak 170 juta dosis atau sekitar 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Secara keseluruhan, Indonesia membutuhkan vaksin Covid-19 sebanyak 340 juta dosis dalam waktu setahun. Semuaya telah dipersiapkan. “Mulai uji klinis fase tiga, produksi hingga distribusi dari Bio Farma, mulai tingkat provinsi sampai ke puskesmas. Termasuk tenaga kesehatan yang memberikan vaksin Covid-19 kepada masyarakat,” ujar Honesti dalam keterangan tertulisnya.

Pada September, relawan yang disuntik calon vaksin Covid-19 di Bandung, justru terinfeksi virus Covid-19. Hasil swabnya positif. Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Unpad Prof Kusnandi Rusmil mengungkapkan Relawan dinyatakan sehat secara klinis dan diberikan penyuntikkan kedua.

“Oleh petugas dilakukan pengambilan bahan dari apus hidung dan kemudian dikirimkan ke laboratorium BSL2 dengan hasil positif. Hasil yang positif tersebut harus disampaikan kepada yang bersangkutan,” terang Kusnandi, Kamis (10/9/2020).

Padahal salah satu syarat utama relawan haruslah sehat. Sebab, tak sedikit pendaftar yang tidak memenuhi syarat relawan vaksin Covid-19 untuk uji coba. Sekitar 10 persen pendaftar yang gagal sebagian besar karena memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Kondisi kesehatan peserta dibuktikan dengan tidak mengalami penyakit ringan, sedang, atau berat. Peserta juga tidak memiliki riwayat penyakit asma dan alergi terhadap vaksin.

Tak hanya ujicoba calon vaksin Sinovac asal Cina. Relawan ujicoba vaksin yang dilakukan perusahaan Astrazeneca yang menggandeng Oxford ini juga mengalami gangguan kesehatan yang serius. Bahkan, pada Rabu 9 September 2020, perusahaan akhirnya menghentikan ujicoba itu.

AstraZeneca Plc telah menghentikan uji coba vaksin Covid-19 secara global karena reaksi penyakit yang dialami relawan peserta ujicoba vaksin.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mendefinisikan kejadian buruk itu sebagai bukti kemungkinan reaksi obat yang sedang diuji.

New York Times mengutip seseorang yang mengetahui situasi itu melaporkan, seorang peserta yang berbasis di Inggris ditemukan menderita myelitis transversal, sindrom peradangan yang mempengaruhi sumsum tulang belakang dan sering dipicu oleh infeksi virus.

Sebulan berselang, giliran Perusahaan Johnson & Johnson mengungkapkan mereka menghentikan uji klinis tahap tiga vaksin Covid-19, karena salah satu pesertanya mengalami sakit yang tak dapat dijelaskan.

“Kami telah menghentikan sementara pemberian dosis lebih lanjut dalam semua uji klinis kandidat vaksin Covid-19, termasuk uji coba tahap 3, karena muncul penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta studi,” terang perusahaan Johnson & Johnson  dalam sebuah pernyataan yang dirilis, Senin (12/10/2020).

Pendaftaran bagi 60.000 pasien untuk peserta uji klinis ditutup, dan saat ini sedang dibentuk komisi keselamatan pasien yang independen.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button