Balikpapan

Refleksi HUT Kota 123

Timur media

drg. Syukri Wahid. (dok)

Oleh: drg. Syukri Wahid

Balikpapan, menjadi saksi bisu saat 500 ton bom dijatuhkan di tanah tercinta ini. Saat perang Dunia ke-2, perang Asia Pasifik menjadikan kota ini sebagai lumbung energi pemasok kebutuhan perang bagi negara para penjajah.

Sejak ratusan tahun lalu, kota ini menjadi incaran banyak negara. Bahkan, dijadikan kota penyangga dengan sumber daya alam melimpah.

Terutama sumber daya energi, minyak bumi, gas alam, batu bara, bahan galian A (bahan galian strategis) dan bahan galian C. Bahkan, kali pertama sumur minyak Mathilda ditemukan pada 1897, sumur ini menjadi rebutan banyak negara. Momen inilah yang menjadi cikal bakal ditetapkannya HUT Balikpapan.

Penemuan sumur minyak yang seksi itu terus menjadi rebutan. Sampai akhirnya di tahun 1903, Belanda menutupnya agar tidak bisa dimiliki negara manapun. Sumber daya energi yang strategis itu menjadikan Balikpapan sebagai satu penyangga dunia di zamannya.

Bahkan, sampai hari ini kilang-kilang minyak makin berkembang di Balikpapan. Perusahaan Uni Emirat Arab (UEA) pun melirik proyek kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Pertamina dan Mubadala, perusahaan investasi asal UEA itu menandatangani perjanjian prinsip atau Refinery Investment Principle Agreement. Ini untuk menjajaki lebih lanjut peluang kerja sama investasi di sektor pengolahan kilang Balikpapan.

Proyek pengembangan kilang RDMP Balikpapan masih menjadi salah satu proyek strategis nasional yang mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Pembangunan proyek yang sudah mencapai 11 persen ini nantinya dapat menghasilkan minyak sampai 360 ribu barel per hari (pbd).

Belum lagi soal potensi wisata, pertanian, dan aneka sektor aduhai lain di Balikpapan yang belum dikelola maksimal. Artinya, Balikpapan masih menyimpan potensi sebagai penyangga dunia. Bukan lagi penyangga ibu kota negara.

Balikpapan menyimpan potensi besar untuk dijadikan sebagai peradaban terdepan.

Apalagi sejak lahirnya, Balikpapan telah dijadikan sebagai penyangga dunia kala itu. Usia 123 tahun sejatinya mewarisi satu kegelisahan kolektif pada setiap kita untuk kembali memiliki penglihatan lebih jauh ke depan.

Bukan saja sebagai kota termaju di Kalimantan, tapi bahkan kota maju dan modern di level dunia.

Bagi saya 123 tahun bukanlah sekadar capaian usia kota Balikpapan, namun muara dari sejarah dengan masa depan. Apalagi dengan segudang potensi besar yang dimilikinya.

Sumber daya alam, geografis, geoekonomi, geososial, dan lainnya sangat memungkinkan untuk mengembangkan kota ini sebagai peradaban yang diimpikan. Sayangnya potensi ini belum tergali, atau bahkan kurang kita sadari.

Di ruang inilah kita perlu mendobrak mindset untuk selalu optimis dan percaya diri akan besarnya potensi yang dimiliki Balikpapan. Begitu pula harapan lahirnya pemimpin yang benar-benar bernas memanfaatkan potensi besar kota ini.

Pemimpin adalah narasi tentang ide, menjadi pemimpin Balikpapan adalah menjadi jembatan sejarah dengan obsesi peluang masa depan.

Saya berharap di tahun politik ini, dari rahim Balikpapan mampu melahirkan pemimpin yang memilki mindset baru yang membawa Balikpapan bukan saja sebagai penyangga ibu kota Negara yang baru.

Dari perjalanan sejarah dan potensi di atas, bukan hal mustahil Balikpapan mampu menjadi kota penyangga Indonesia dan dunia. Menjadi peradaban terdepan yang kita impikan.

Saya yakin begitu pemimpin memiliki mindset yang besar, maka plafon visi dan programnya akan bekerja di skala yang lebih luas. Harapannya bisa melampaui level sebuah kota yang hanya berkutat di wilayah administrasi regulasi yang terlalu rigid.

Kita butuh pemimpin besar sebesar Visi Balikpapan menjadi kota maju dan modern bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Semoga Allah mewujudkan hajat kita bersama.

Selamat ulang tahun kota Balikpapan.

* Wakil Ketua Bapemperda DPRD Balikpapan.

Most Popular

To Top