Editorial

Rebutan Afghanistan

ALLAHUMMANSHUR Li ihwaninal muslimina wal mujahidina fii Afghan, wal mujahidina fii Filistin, wal mujahidina fii Syam, wal mujahidina fii Yamani, wal mujahidina fil Indunisyi, wal mujahidina fii kulli makaan wa fii kulli zamaan.

Tidak asing bukan? Ya. Sejak dulu, doa-doa ini kerap dilantunkan. Dalam kesunyian dan keramaian, terutama usai pengajian-pengajian akbar.

Sklumit doa memohon pertolongan untuk saudara Muslim dan para mujahid di Afghanistan, Palestina, Syam, Yaman, Indonesia, dan para mujahid di setiap tempat dan setiap zaman.

Bagi Islam, negara-negara yang disebut dalam doa itu sangat penting. Terutama terkait kebangkitan di akhir zaman. Sampai sekarang negara tersebut dilanda kesengsaraan.

Afghanistan perang berkepanjangan, Palestina dijajah zionis bengis, Syam konflik tak berkesudahan, Yaman kelaparan dan peperangan.

Indonesia, masih berkubang dalam candu ditipu. Dijauhkan dari tempat ibadahnya, agamanya, ulamanya, dan umatnya dibuat saling curiga, adu domba.

Kini, mata dunia tertuju pada Afghanistan. Negara yang menyimpan sumber daya alam melimpah dan menjadi rebutan orang-orang serakah, rebutan negara-negara adidaya.

Beberapa hari lalu, Afghan kembali jatuh ke tangan Taliban. Kok kembali? Yah sebelumnya, Taliban pernah menguasai Afghanistan.

Yang kemudian, media global memframingnya menjadi wajah yang menyeramkan. Ektrimis, brutal, teroris, dan stempel negatif lainnya.

Kini, saat Taliban kembali menduduki Afghan, wajah apa yang akan ditampilkan framing global?!!!

Tunggu saja sebulan dua bulan ke depan. Terutama setelah pemerintahan baru terbentuk.

Taliban dulu, berbeda dengan Taliban saat ini. Dan rakyat Afghan, sejak dulu, mencintai Taliban. Jauh lebih mencintai mereka dibanding pasukan boneka buatan Amerika.

Tak hanya rakyat Afghan, muslim dunia turut menyambut dengan suka dan gembira. Taliban saat ini bergerak tidak membawa warna warni bendera: organisasi, partai, suku, etnis, kelompok, madzhab.

Padahal Afghan punya puluhan suku dengan pelbagai bahasa.

Mereka membawa satu warna: Islam! Bahkan lebih moderat. Yang menarik, meski sudah menguasai Afghan, tapi tidak mengizinkan militernya masuk.

Bahkan mengumumkan wacana general amnesti terhadap rakyatnya. Membangun negara bersama umat. Bersikap toleran dan anti teror, anti terhadap gerakan ekstrimis.

Praktik keagamaan Taliban juga mirip-mirip di Indonesia. Misalnya kerap bersenandung syair Arab dalam pertemuan pengajiannya. Saat menduduki kantor kepresidenan pun sederhana sekali. Membaca Qur’an. Membumikan An Nashr, pertolongan!

Mungkin hal- hal itu yang menjadi makin menarik. Taliban pun menguasai pemberitaan dunia, dari segala sisinya.

Tapi ujian Taliban bukan saat peperangan. Justru sekarang. Ketika kekuasaan di genggaman. Meski 20 tahun telah berlalu, ujian tak akan berhenti. Terutama pada tarik menarik pengaruh negara adidaya dan penggiringan media-media global.

Barulah kelak, wajahnya semakin tampak jelas. Bertahan, semakin bersatu atau tercerai berai.

Sejak Taliban merebut kembali Afghanistan, grup-grup diskusi pun ramai sekali. Masing-masing mencuatkan pemikirannya. Seru. Warna warni. Apapun opini mereka, perbedaan adalah rahmat. Bukan dipaksa untuk sama. Apalagi memvonis sembarang.

Tapi ada yang lebih seru. Beberapa malam lalu ngopa-ngopi bersama beberapa pihak, ada di antaranya, dulu pernah ikut langsung pertempuran di tanah Afghanistan era Uni Soviet.

Wah seru sekali beliau membagi pengalaman dan pemikirannya soal Afghan dulu dan kini. Termasuk soal Taliban. Yang tentu informasinya terklik dengan jaringannya di sana.

Beliau berkisah, saat melawan Uni Soviet dulu ada belasan kelompok mujahidin. Usai Soviet hancur, terjadilah dinamika dimana-mana.

Ada yang berubah menjadi penguasa kecil, ada yang layu. Ada yang masih menetap di sana, ada yang kembali ke tanah airnya.

Yang menarik, saat dinamika kelompok terbentuk, Taliban praktis menjadi kelompok mandiri. Terutama saat melawan pasukan boneka Amerika.

Taliban yang dulu dikonstruksikan sebagai wajah Al Qaeda, ISIS dan sebagainya, tidak peduli framing global. Terus bergerak merebut kembali Afghanistan. Konstruksi itu sangat kental di masa presiden Afghan Burhanuddin Rabbani.

Taliban didirikan kisaran tahun 94, mereka menjadi kelompok berpengaruh dalam sejarah Afghan. Keberadaannya tidak musnah dimakan waktu.

Selama dua dekade Amerika mencoba membentuk pemerintahan baru di Afghan, Taliban tetap berhasil mempertahankan pengaruhnya dan mengambil alih negara.

Ketika Taliban mengambil alih Afghan untuk pertama kali tahun 1996, Cina menolak mengakui kekuasaan mereka dan menutup kedutaannya selama bertahun-tahun.

Tapi kali ini, Cina menjadi negara yang pertama mendekati Taliban. Beberapa tokoh penting Taliban datang dan pergi, silih berganti. Kini deretan petingginya:

Haibatullah Akhunzada. Penentu keputusan akhir Taliban. Baik soal politik maupun militer.

Mullah Abdul Ghani Baradar. Salah satu pendiri Taliban, negoisator dan pemimpin kantor politik.

Abdul Hakim Haqqani. Negoisator utama, yang membantu Mullah Baradar.

Mullah Mohammad Yaqoob. Nahkoda dalam operasi militer.

Sirajuddin Haqqani, buah hati dari komandan mujahidin terkemuka, Jalaluddin Haqqani. Pemegang Haqqani Network yang mengendalikan atas aset-aset dari keuangan sampai pertahananan.

Kini, sebelum dikonstruksikan serupa, Jubir Taliban Shaheen sudah mengumumkan: Al-Qaeda milik era masa lalu dan tidak akan diizinkan beroperasi di Afghanistan lagi.

Sejak dulu, tanah Afghan diwarnai konflik berdarah. Dari pertempuran melawan Uni Soviet, perang saudara, dan konflik Taliban dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Komunisme Uni Soviet pernah mencaplok Afghanistan di era Desember 1979. Namun Uni Soviet hanya bertahan 10 tahun. Di kisaran 1989, mereka dipukul mundur para Mujahidin.

Negara adidaya silih berganti ingin menguasai Afghanistan. Tanah ini ibarat gadis muda yang seksi di tengah laparnya mata pria idung belang.

Bagaimana tidak, Afghan menyimpan sumber daya alam yang sangat melimpah.

Medio 2010, Pentagon pernah merilis laporan dari tim geologis yang meneliti kawasan itu. Hasilnya, selain minyak, kawasan Afghan mengandung cadangan besar emas, bijih besi, timah, dan lithium.

Laporan itu juga menyebut, cadangan lithium terbesar di dunia ada di Afghanistan!

Pada akhir 2011, Perusahaan minyak nasional Cina, CNPC menjadi yang pertama mendapat lisensi untuk menambang minyak di Afghanistan. Perjanjian itu ditandatangani pada Desember 2011 di Kabul.

Di penghujung 2014, Cina juga berhasil mendapat lisensi untuk mengelola tambang tembaga di Aynak, di kawasan selatan Kabul. Cina menjadi negara pertama yang menanam modal di sektor pertambangan Afghanistan.

Tak hanya minyak dan emas, tapi Afghan juga kaya akan mineral.

Tahun 2010, Amerika memprediksi kekayaan mineral Afghanistan mencapai US$ 908 miliar. Tapi perkiraan pemerintah Afghanistan saat itu menilai kekayaan mineralnya bisa mencapai US$ 3 triliun.

Pemerintah Afghanistan masa lalu telah menandatangani kontrak yang berlaku selama 30 tahun, dengan China Metallurgical Group. Ini adalah perusahaan tambang milik Pemerintah Cina yang berbasis di Beijing.

Kontrak itu untuk mengeksploitasi tembaga Mes Aynak. Tapi, hak untuk menambang deposit besi terbesar diberikan ke pemerintah dan swasta India.

Kekayaan alam Afghan sejak dulu telah menjadi rebutan. Sampai-sampai pada tahun 2006, para peneliti AS membuat misi khusus untuk meneliti magnetik, gravitasi, dan hiperspektral di atas wilayah Afghan.

Survei magnetik itu menemukan mineral yang mengadung besi sampai kedalaman 10 km di bawah permukaan tanah. Bahkan survei yang dilakukan AS memverifikasi semua temuan Soviet.

Secara umum, Afghan menyimpan miliaran ton biji besi, puluhan miliar ton tembaga, jutaan ton unsur tanah yang langka. Semisal cerium, neodymium sampai lanthanum. Ini belum termasuk kandungan aluminium, merkuri, seng dan lithium.

Mungkin jika dirupiahkan, potensi kekayaan sumberdaya alam Afghan bisa mencapai puluhan ribu triliun!

Tak hanya SDA di atas, Afghan juga menyimpan gas alam, batu bara, perak, sampai emas. Terutama yang ditemukan di provinsi utara Balkh, dan Saripol, Sheberghan yang bisa menembus ratusan miliar meter kubik.

Sedangkan potensi batubara Afghan diperkirakan bisa mencapai 400 juta ton. Keberadaan potensi itu telah dikonfirmasi dan setidaknya tersebar di provinsi Herat, Balkh, Baghlan, dan Kunduz.

Bahkan dalam laporan terbaru British Petroleum, juga disebut potensi minyak di sana. Laporan itu memprediksi kapasitas minyak Afghan ditaksir mencapai kisaran 300 barel per hari.

Gimana gak jadi rebutan?! Konflik berkepanjangan memperebutkan potensi Afghan seolah tidak berhenti. Tapi, apakah negara adidaya itu hanya mengincar potensi ekonomi?!! Atau adakah upaya menancapkan ideologi?

Konflik Afghanistan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh negara adidaya: Soviet (Rusia), Cina dan Amerika. Di belakang Amerika, ada Inggris. Putaran sejarah besar dunia tidak bisa dilepaskan dari Inggris.

Perebutan Afghan dari negara adidaya menciptakan derita rakyat Afghanistan, yang terus jatuh dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Semoga di bawah Taliban, warna Afghan menjadi berubah. Konflik berdarah pun bisa dihentikan.

Tapi saat ini masih sulit disimpulkan. Ke depan, dinamika makin terus bergerak. Terlebih bila Cina dan Inggris memainkan manuvernya.

Patut diakui keberhasilan Taliban merebut Afghanistan tanpa ceceran darah menjadi oase baru bagi dunia. Terutama bagi umat Muslim. Perjuangan yang lahir dari gerakan pelajar ini patut pula diapresiasi.

Al Harakah al Islamiyah al Thalabah Madaris al Diniyah, yang kerap disebut kaum santri ini terus menjadi sorotan dunia. Dan pendekatan Cina yang akan menggandeng Taliban menjadi warning yang menarik dicermati.

Tiki taka komunis Cina dimana-mana kerap merugikan negara yang digandengnya. Afrika, Euthopia, Zimbabwe, dan Indonesia menjadi contohnya.

Pakistan, Tajikistan, Kyrgyzstan, Laos, Mongolia, Montenegro, Sri Lanka, Kenya, Maladewa bahkan terancam bangkrut karena jebakan utang Cina!

Semoga Afghan di bawah Taliban, tidak mengikuti langkah mereka yang terjerat utang Cina. Apalagi dengan SDA yang seksi seperti Indonesia.

Tak juga mengalami sejarah kelam Turkistan yang dihabisi komunis dengan ceceran darah dan air mata.

Turkistan, pada zaman keemasannya diistilahkan Andalusia kedua. Dulu, Paham komunis merangsek di kedua wilayah Turkistan tersebut. Turkistan Barat dijajah komunis Uni Soviet. Turkistan Timur dijajah Cina.

Turkistan terkait dengan Uighur. Dan Uighur terkait dengan Cina. Sejak dulu,
Uighur menentang Cina.

Di tahun 1933 pemberontakan Uighur berhasil mendirikan Republik Turkistan Timur Pertama tapi dihancurkan pada 1934. Lalu Republik Turkistan Timur Kedua, berdiri dari 1944 sampai 1949.

Dan kini, ada tiga organisasi Uighur yang terus berjuang untuk kemerdekaan: Gerakan Islam Turkistan Timur, Organisasi Pembebasan Turkistan Timur, dan Gerakan Kemerdekaan Turkistan Timur.

Gerakan Islam Turkistan Timur atau ETIM pernah masuk dalam daftar hitam stempel teroris. Namun, sejak 2020 Washington menghapus ETIM dari daftar tersebut. Ini membuat Beijing murka.

Sedang Cina, kini mendekati Taliban. Paska Taliban berhasil menguasai Afghan, banyak negara yang menutup duta besarnya, namun tidak untuk Cina dan Rusia. Rusia dan Cina juga akan melakukan pertemuan diplomatik dengan Taliban.

Yang menarik, Inggris pun bersiap melakukan manuvernya. Afghan benar-benar menjadi rebutan.

Puluhan tahun pengalaman bertempur, tentu melahirkan pemahaman politik perang yang kuat. Terbukti pendudukan Afghan diraih dengan diplomasi di saat pemerintahan lama kehilangan legitimasi. Semoga saja, diplomasi dengan Cina – Rusia berujung pada pembebasan Turkistan.

Yang utama saat ini mendapat pengakuan internasional. Mungkin karena Cina punya hak veto, Taliban memilih membuka pintu diplomasi dengan mereka.

Baidewei, Taliban melarang distribusi vaksin Covid di propinsi Afghan Timur, Paktia. Dari informasi kerabat yang menetap di sana, juga sejumlah video dimana-mana tampak jelas:

Seolah tak ada Covid. Kerumunan tampak dimana-mana. Baik yang menyambut gegap gempita maupun yang hengkang meminta suaka. Tak ada prokes WHO pula.

Kok bisa jauh berbeda dengan Indonesia?!

Bahkan pada Juni lalu, serangan Taliban menghancurkan gudang vaksin polio dan vakCovid di wilayah Kunar Timur. Sebaliknya pemerintahan Afghanistan sebelum dikuasai Taliban, menantikan vaksin Covid.

Afghan mengandalkan vaksin Covid AstraZeneca dari India. Distribusi besar dijadwalkan tiba pada Agustus ini. Afghan menjadi negara paling dikit cakupan vaksinasinya, tak sampai 5 persen. Dan Taliban melarang distribusi vaksinasi Covid di Paktia.

Allahumanshur Li ihwaninal muslimina wal mujahidina fii Afghan, wal mujahidina fii Filistin, wal mujahidina fii Syam, wal mujahidina fii Yaman, wal mujahidina fiil Indunisi, wal mujahidina fii kulli makaan wa fii kulli zamaan.

Shalaallahu alaa Muhamamad

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button