Kolom

Rahmad Mas’ud – Syukri, Mungkinkah?

TimurMedia.com:

Syukri Wahid dan Rahmad Mas’ud (Ist)

TIMUR MEDIA – PERCATURAN politik di Balikpapan selalu memantik perhatian. Terlebih menuju momen Pemilihan Walikota, tahun depan.

Pelbagai manuver politik dan personal mencuat ke permukaan. Semisal, Ahmad Basir yang kini berebut kursi agar dipilih partainya.

Ahmad Basir sebagai Bendahara NasDem Balikpapan, sepertinya perlu lebih bekerja keras. Sebab, Ibu Arita Effendi atau istri dari Ketua NasDem Balikpapan Rizal Effendi ikut mendaftar ke partai yang sama.

Dua di antara mereka telah memaparkan visi misinya di depan pengurus Nasdem Balikpapan dan Kaltim. Isu pun bergumul. Basir bakal terdepak dari pemilihan. Sepertinya ia perlu menyiapkan perahu baru.

Manuver lain yang lebih menarik dicermati adalah PDIP Balikpapan. Safaruddin, mantan Kapolda Kaltim itu disebut-sebut sebagai penantang terkuat Rahmad Mas’ud.

Selama ini, Rahmad Mas’ud memang menjadi kandidat paling kokoh. Dan penantang yang seimbang hanya Safaruddin. Namun belakangan, beredar kabar Golkar bakal berkoalisi dengan PDIP.

Syaratnya, Safaruddin tidak maju. Tapi, memajukan kader PDIP lain selain Safaruddin. Tiga nama pengganti Safaruddin pun muncul ke permukaan.

Mereka adalah Thohari Aziz Wakil Ketua DPRD Balikpapan, lalu Eddy Tarmo anggota DPRD Kaltim. Berikutnya, Budiono Ketua Badan Kehormatan DPRD Balikpapan.

Dari tiga nama itu, kandidat terkuat yang akan dipasangkan dengan Rahmad Mas’ud adalah Thohari atau Budiono. Jika hal itu benar berjalan, maka skemanya:

Rahmad Mas’ud – Thohari, pasangan ini tak begitu kuat. Meski memang kalau Golkar – PDIP jadi berkoalisi, Pilwali dianggap selesai.

Sebab dua partai raksasa ini punya kekuatan massa dan mesin politik luar biasa. Tapi kalau salah memasang kandidat, ya sama saja.

Pilwali di Balikpapan tidak pernah lepas dari ikatan figuritas. Nah itu kenapa kalau Rahmad Mas’ud dan Thohari jadi dipasangkan, belum tentu juara.

Alasannya sederhana: figuritas Thohari belum kuat. Massa loyalisnya pun tak sekuat yang dimiliki Rahmad. Terlebih, tersebar rumor pecahnya kekuatan di bawah ketiak Thohari.

Sebabnya, Thohari seharusnya sudah duduk di kursi parlemen Kaltim. Untuk Balikpapan, diserahkan ke kader di bawahnya. Tapi, hal itu tak dilakukan. Ini lah yang membuat munculnya suara kekecewaan di bawah.

Skema kedua, Rahmad Mas’ud dengan Budiono. Pasangan ini agak sulit diimajinasikan. Tapi, sosok Budiono sendiri punya basis massa loyalis yang kuat. Kini, ia pun punya jabatan strategis.

Yakni, penjaga marwah Parlemen. Ketua Badan Kehormatan DPRD Balikpapan. Jabatan mentereng untuk mengasah kepiawaiannya berpolitik.

Selama ini Budiono telah membuktikan dirinya keluar dari panasnya pertarungan di dapil neraka. Ia kembali lolos terpilih menjadi anggota dewan untuk kali kedua.

Sedangkan rekan sejawatnya harus minta ampun bertarung di dapil menyeramkan itu. Empat orang anggota DPRD Balikpapan periode lalu akhirnya tumbang.

Mereka menerima kekalahan dari para pendatang baru. Termasuk anggota dewan termuda nan cantik memesona: Rahmatia. Pemain baru di parlemen ini berasal dari Gerindra.

Kembali pada skema Pilwali tahun depan. Setelah penantian publik terobati terkait bakal mundurnya Safaruddin dari kontes Pilwali Balikpapan. Kini penantian baru menyapa.

Siapa yang bakal digandeng Rahmad Mas’ud? Jika tiga nama di atas, batal dipilih Rahmad. Lalu, siapa kira-kira kandidat berikutnya?

Belakangan, muncul satu nama: Syukri Wahid. Ketua Fraksi PKS DPRD Balikpapan ini disebut-sebut berpotensi digandeng Rahmad Mas’ud. Tapi, nanti dulu.

Syukri sendiri sedang diterpa konflik internal di PKS. Alasannya karena punya kedekatan dengan ormas Garbi. Tentu saja, konflik yang membelit tubuh PKS itu menjadi bahan tertawaan publik.

Apa lacur? PKS mengancam untuk melakukan PAW pada kadernya yang dekat dengan Garbi. Bahkan Syukri dan anggota dewan lain telah mendapat Surat Peringatan kedua. Sebuah langkah blunder dari PKS.

Kenapa? Sebab, siapapun tahu meski PKS berdalih pemberian SP 2 itu karena tidak taat partai. Tapi jelas saja alasan itu sangat anomali dan menjadi bumerang bagi PKS sendiri.

Semua tahu, Syukri bukan orang baru. Belasan tahun mengabdi di partainya. Bahkan, di Pileg 2019 ia meraih 4.200 an suara. Artinya, menyumbang 50% suara total PKS di Balikpapan.

Syukri juga dikenal sebagai senior. Bagaimana mungkin senior tidak taat partai. Apalagi menyumbang suara besar untuk sejarah baru di Balikpapan. Kalau tiba-tiba mendapat SP2, malah jadi tertawaan publik.

Sebab, kader yang diberi SP 2 itu mereka yang dekat dengan Garbi. Sedangkan kader yang tak dekat dengan Garbi, bebas dari SP. Alasan konyol yang ditutupi ini lah yang membuat blunder PKS. Garbi sendiri bukan ormas terlarang.

Nah di sini lah nilai Syukri Wahid justru melesat. Publik menilai Syukri Cs didzalimi partainya. Kasus yang mirip dengan Fahri Hamzah. Tak ada beda. Hanya beda skala.

Tak ayal, kader PKS pun banyak yang membelot keluar. Memilih mengundurkan diri. Ini terjadi nyaris di semua daerah di Indonesia.

Padahal jika PKS bersabar sejenak saja, publik tetap akan setia. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Terlebih PKS yang berteriak oposisi, belakangan justru mendukung anak Jokowi untuk maju di Pilkada Solo. Runtuh lah trus masyarakat.

Politik tetap lah politik. Kepentingan menjadi orientasi. Tak ada kawan dan teman yang abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi. Seperti Syukri Cs, yang memberi suara besar bagi partainya lalu mau didepak begitu saja.

Akhirnya kader PKS yang didzalimi ini lah yang justru diterima hangat masyarakat. Di sini lah momen Syukri Wahid menjadi nilai berharga. Partai apapun yang dikenakan Syukri, publik sudah tak melihatnya lagi.

Personalnya yang dinilai. Apalagi figuritas menjadi hal utama untuk maju di Pilwali Balikpapan. Tapi kalau soal dipasangkan dengan Rahmad Mas’ud, agak sulit.

Konsekuensinya, Golkar harus bisa melobi PDIP. Atau malah sebaliknya, Golkar harus berhadapan dengan PDIP. Kalau skema ini jadi, seru sekali.

Syukri Wahid sendiri dikenal punya basis massa loyalis yang kuat. Ia pun punya jaringan profesi kedokteran yang tak diragukan lagi. Begitu pula ikatan basis antar penulis dan jamaahnya.

Kalau skema Rahmad – Syukri terjadi, PDIP bisa saja kembali mencalonkan Safaruddin. Untuk melawan kekuatan Rahmad Mas’ud. Safaruddin bakal menggandeng sosok yang dekat dengan lingkaran Rizal Effendi.

Kalau nanti terjadi, misal, Safaruddin dengan Ibu Arita melawan Rahmad Mas’ud dengan Syukri Wahid. Ini baru benar-benar Pilkada.

Tak hanya kontes figuritas. Tapi pertempuran visi misi dan loyalis sangat kuat terjadi. Bisa jadi akan mewujudkan Pilwali Balikpapan yang paling seru. Tapi, apa mungkin?

Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Dan biasanya, waktu itu terjawab saat masa injury time nanti. Sekitar Maret – Juni 2020.

Penulis: Sakhia, pemerhati sosial politik.

🅣🅘🅜🅤🅡 🅜🅔🅓🅘🅐

Most Popular

To Top