Internasional

Puluhan Tewas, Dokter Minta Hentikan Vaksin

Program vaksinasi gratis ini sejak awal telah memantik kontroversi.

Report: Ryan I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Seruan untuk menghentikan penyuntikan vaksin flu di Korea Selatan, digaungkan para dokter. Seruan itu mengemuka usai puluhan warga meninggal dunia setelah mendapat suntikan vaksin.

Namun, Pejabat Korea Selatan menolak menangguhkan upaya inokulasi influenza musiman, meski ada seruan penghentian, Kamis 22 Oktober 2020.

Sedikitnya 25 orang tewas, termasuk pria berusia 17 tahun, dalam kampanye program vaksin bagi 19 juta remaja dan warga lanjut usia secara gratis. Demikian laporan Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA).

“Jumlah kematian telah meningkat, tetapi tim kami melihat kemungkinan kecil bahwa kematian akibat tembakan,” dalih Direktur Badan KDCA, Jeong Eun-kyeong, dilansir dari Guardian.

Korea Selatan memesan vaksin flu tahun ini untuk menangkal flu di musim dingin.

“Saya mengerti dan menyesal bahwa orang-orang khawatir tentang vaksin itu,” ujar Menteri Kesehatan Park Neung-hoo.

Ia menambahkan, “Kami sedang menyelidiki penyebabnya, termasuk memeriksa secara menyeluruh seluruh proses yang melibatkan berbagai lembaga pemerintah, dari produksi hingga distribusi.”

Penyedia vaksin flu vaksin di Korsel ini adalah perusahaan domestik, Korea Vaccine dan Boryung Biopharma Co Ltd, GC Pharma, dan SK Bioscience, Boryung Pharm Co Ltd, serta Sanofi Prancis.

Mereka menyediakan program gratis dan layanan berbayar yang memvaksinasi sekitar 30 juta orang dari populasi 52 juta.

Dari 25 korban tewas, 10 menerima produk dari SK Bioscience, masing-masing lima dari Boryung dan GC Pharma, satu dari Vaksin Korea dan empat dari Sanofi. Namun keempat perusahaan domestik itu menolak berkomentar, sedangkan Sanofi tidak segera membalas permintaan komentar.

Tidak jelas apakah ada vaksin yang dibuat di Korea Selatan yang diekspor, atau apakah yang dipasok Sanofi juga digunakan di tempat lain.

Asosiasi Medis Korea, sebuah kelompok dokter yang berpengaruh, mendesak pemerintah menghentikan seluruh program inokulasi untuk menghilangkan kekhawatiran publik dan memastikan vaksin itu aman.

Kim Chong-in, pemimpin partai oposisi utama People Power, menginginkan program itu dihentikan sampai penyebab kematian diverifikasi.

Data KDCA pada Kamis menunjukkan setidaknya tujuh dari sembilan orang yang diselidiki memiliki kondisi yang mendasarinya. Program gratis ini terbukti kontroversi sejak dimulai bulan lalu.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button