Kolom

Pindah Rumah untuk Siapa?

Oleh: Dayu Al Qanuni

Ia bukan orang kaya. Justru utang ke tetangga kanan dan kiri menggunung.

Setiap tahun, ia harus membayar utang ke tetangganya, dan itu berbunga. Penghasilannya tak cukup untuk membayar itu.

Jadi harus dapat utang baru untuk membayar utang sebelumnya.

Keluarganya pun dalam kondisi memprihatinkan. Anaknya banyak.

Beberapa di antaranya sedang sakit dan tak sempat mendapat pengobatan yang memadai.

Sebagian lagi masih nganggur, mencari pekerjaan ke sana ke mari belum berhasil. Sebagian putus sekolah karena tak ada biaya.

Hidup sehari-hari banyak ditopang utang. Sawahnya yang seharusnya bisa menghasilkan panen, sudah dikuasai tetangganya.

Demikian pula kebunnya, kini sudah dikavling tetangga yang satunya karena utangnya yang tak terbayar. Dari anaknya yang bekerja di sawah dan kebun itulah, ia mendapat sedikit uang untuk menyambung hidup.

Kini, ia punya rencana memindahkan rumahnya, ingin membangun rumah baru.

Ini gara-gara bisikan tetangganya yang memberi angin surga bahwa rumah baru itu akan membuat keluarganya lebih terpandang dan ekonomi membaik karena berada di lokasi yang strategis.

Akan banyak hal bisa dilakukan dengan rumah barunya. Tak hanya itu, tetangganya yang juga juragan itu menjanjikan pembiayaan atas rumah baru tersebut.

Tentu dengan kompensasi yakni rumahnya yang lama sebagai gantinya.

Ia pun setuju. “Kapan lagi bisa punya rumah baru, hidup baru dan namanya lebih tersohor di kampung itu,” begitu dalam benaknya.

Rencana itu sudah matang.

Digambarlah rumah baru itu. Sudah final. Tak bisa diganggu gugat. Tinggal jalan saja sambil nunggu tetangganya datang membawa uang.

Jika nanti juragan itu tak datang, ia akan memaksa anak-anaknya menyisihkan penghasilannya untuk membangunnya.

Malu jika rumah baru itu tak jadi, sebab sudah kadung ngomong ke kanan dan ke kiri.

Jelas sang anak kaget bukan kepalang. Ekonomi keluarga lagi susah. Anggota keluarga kena musibah. Utang banyak. Kok mau bangun rumah baru untuk pindah?

Anak-anaknya berteriak, menolak. Tapi dia tak peduli. Kerja sama dengan tetangganya sudah ditandatangani. Ia tak mau dikatakan ingkar janji dan tak memberikan kepastian.

Apakah perumpamaan ini pas dengan pemindahan ibukota negara itu?

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button