Kaltim

Pernikahan Dini di Kaltim Naik

Banyak faktor yang menjadi pemicu.

Report: Yoyo I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Pemprov Kaltim mengungkap angka pernikahan dini naik. Dari 44 kasus di tahun 2017, lalu meningkat menjadi 472 kasus di tahun 2018. Kemudian saat ini menjadi 953 kasus atau 13,9 persen. Jumlah ini melebihi rata-rata angka nasional yang hanya ada di angka 11,5 persen.

Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kaltim, Halda Arsyad, mengatakan pihaknya terus berupaya mencegah pernikahan dini dengan bermacam upaya.

“Angka pernikahan usia dini di Kaltim sebesar 13,9 persen. Ini di atas rata-rata nasional yang tercatat 11,54 persen,” beber Halda, dalam rilisnya, Minggu 12 Juli 2020. Karena itu pihaknya akan menggandeng kerja sama dengan berbagai pihak guna melakukan pembinaan dari banyak sisi. Antara lain menggelar kampanye melalui Gerakan Bersama.

Kata Halda, gerakan ini memberi pemahaman pentingnya mencegah pernikahan dini. Tujuannya, melindungi anak dari pelanggaran hak asasi manusia. “Sekaligus mewujudkan program wajib belajar 12 tahun sesuai instruksi Gubernur Kaltim,” terang Halda.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pernikahan dini. Antara lain, faktor budaya, dorongan orang tua, kemiskinan, anak hamil sebelum menikah yang membuat orang tua merasa malu hingga terpaksa dinikahkan.

“Faktor lain, ada orangtua yang juga merasa malu kalau punya anak perempuan terlambat menikah dan diberi stigma tidak laku,” katanya. Ia pun merasa prihatin dengan tingginya pernikahan dini ini.

Pihaknya menjamin akan terus memberi perlindungan perempuan dan anak melalui pelbagai program dengan membangun sistem perlindungan anak yang komprehensif.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button