Peristiwa

Perkosaan Santriwati, Kemenag Tutup Pesantren Herry

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Kementerian Agama telah menutup pesantren milik Herry Wirawan, setelah kasus kejinya terbongkar. Herry, yang juga pemimpin pondok itu memperkosa belasan santriwati. Kasusnya saat ini telah masuk ke pengadilan.

“Menanggapi pemberitaan terkait tindak pidana yang dilakukan oknum pimpinan pesantren di wilayah Cibiru, Bandung, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian yang telah menjadi ranah hukum,” ujar Plt. Karo Humas, Data, dan Informasi Kemenag RI, Thobib Al Asyhar kepada wartawan.

Ia menyebut kasus ini ditangani polisi sejak 6 bulan lalu. Menanggapi kasus pemerkosaan itu, Kemenag berkoordinasi dengan pihak terkait.

“Peristiwa itu terjadi di Bandung 6 bulan yang lalu. Polda Jabar bersama Kementerian Agama Provinsi yang difasilitasi Dinas Perlindungan Anak dan Ibu Jawa Barat telah duduk bersama mengambil langkah-langkah,” jelasnya.

Terkait

Thobib menjelaskan Kanwil Kemenag Jabar telah menutup pesantren usai kejadian tersebut. Hingga saat ini pesantren tak lagi beroperasi.

“Bersama Polda Jabar sepakat untuk menutup atau membekukan kegiatan belajar mengajar di Pesantren Tahfidz tersebut dan sampai sekarang tidak difungsikan sebagai tempat atau sarana pendidikan, baik pesantren maupun pendidikan kesetaraannya,” jelasnya.

Pesantren itu ada di tengah pemukiman warga. Dikelola sebuah yayasan di Antapani, Kota Bandung. Dari papan nama, tempat ini sudah mengantongi izin dari Kemenkum HAM RI pada 2016. Ada sekitar 10 ruangan belajar. Tapi tidak diketahui, apakah seluruh ruangan digunakan sebagai tempat belajar seluruhnya atau ada juga yang digunakan untuk tempat tidur pada santriwati.

Di halaman hanya ada satu tiang basket, satu tiang bendera. Ada juga bangunan berupa gazebo untuk tempat santriwati bersantai atau bercanda gurau dengan santriwati lainnya.

Terkait santriwati yang nyantri di sana, Thobib menyebut seluruh siswa telah dikembalikan ke orang tua untuk dipindahkan ke sekolah lain.

“Kemenag telah melaksanakan hasil kesepakatan dengan Polda dan KPAI agar seluruh siswa dikembalikan ke daerah asal siswa tersebut serta pendidikannya dilanjutkan ke madrasah atau sekolah sesuai jenjangnya di daerah masing-masing,” jelasnya/

Sedangkan siswi yang menjadi korban difasilitasi Kasi Pontren dan Forum Komunikasi Pendidikan Kesetaraan Kab/kota masing-masing.

Sebelumnya aksi keji dilakukan seorang guru salah satu pesantren di Bandung, Herry Wirawan.  Ia melakukan aksi bejatnya tersebut sejak 2016 hingga awal 2021.

Herry ditangkap personel Polda Jabar di kediamannya, yang sekaligus digunakan sebagai yayasan.  Lokasinya di salah satu perumahan, Jalan Parakansaat, Antapani, Kota Bandung.

Kasus perkosaan santriwati ini telah sampai ke pengadilan. Pada Selasa (7/12), proses sidang sudah masuk ke pemeriksaan sejumlah saksi. Informasi dihimpun, saksi yang diperiksa para saksi korban. Sidang yang dipimpin ketua Majelis hakim Y Purnomo Surya Adi itu berlangsung tertutup.

Dari salinan dakwaan, aksi itu diketahui dilakukan Herry pada rentang waktu 2016 hingga 2021. Dakwaan itu dibacakan jaksa Kejaksaan Negeri Bandung Agus Mudjoko.

“Bahwa terdakwa sebagai pendidik/guru pesantren antara sekitar tahun 2016 telah melakukan perbuatan asusila terhadap anak korban santriwati,” ujar Jaksa dalam petikan dakwaan.

Masih dalam surat dakwaan yang diterima, total korban mencapai 14 orang. Mereka semua santriwati yang tengah belajar di pesantren milik HW di kawasan Cibiru, Kota Bandung.

Dalam dakwaannya, Jaksa mendakwa HW dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Jo Pasal 76D UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 65 KUHPidana.

Guru pesantren di Bandung memperkosa belasan santriwati. Kekejian itu membuat empat santriwati hamil dan sudah melahirkan. “Ada empat anak korban yang hamil,” ujar Agus.

Ia mengatakan keempat anak yang hamil saat ini sudah melahirkan. Saat sidang saksi digelar, posisi anak korban yang hamil sudah melahirkan.

“Yang hamil sudah melahirkan semua. Bahkan salah seorang korban telah dua kali melahirkan akibat perbuatan terdakwa,” jelasnya.

Selain sembilan anak lahir dari santriwati, masih ada dua anak yang masih dalam kandungan. Hingga saat persidangan ini digelar, anak tersebut belum lahir.

Korban dirayu pelaku. Iming-iming dari HW diuraikan dalam dakwaan yang ada dalam poin penjelasan masing-masing korban.

Di dalam penjelasan salah satu korban, disebutkan kalau HW mengiming-imingi korban untuk jadi polisi wanita. Janji itu diutarakan HW kepada salah satu korban.

“Terdakwa menjanjikan akan menjadikan anak korban polisi wanita,” ujar jaksa dalam surat dakwaan.

Selain menjadi polisi wanita, HW juga menjanjikan kepada salah satu korban untuk mengurus pesantren miliknya.

“Terdakwa menjanjikan akan membiayai kuliah dan mengurus pesantren,” katanya.

Dalam dakwaan, HW disebutkan meminta kepada korban yang hamil untuk tak khawatir dan berjanji tanggung jawab.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button