Editorial

Penjaringan Golkar Balikpapan untuk Apa?

Timur Media

Penjaringan Golkar Balikpapan. (dok)

SELAMA dua hari Golkar Balikpapan membuka penjaringan untuk Pilkada 2020. Ada 23 nama yang mendaftar untuk bacalon walikota dan wakil walikota.

Penjaringan dilakukan pada Senin dan Selasa, 17-18 Februari 2020. Tepat, dua hari setelah Ketua DPD Golkar Balikpapan Rahmad Mas’ud dan Ketua DPC PDIP Balikpapan Thohari, dipanggil oleh DPP PDIP ke Jakarta.

Dipanggilnya RM, sebutan karib Rahmad Mas’ud dan Thohari dinilai sebagai sinyal politik majunya mereka dalam kancah Pilkada Balikpapan. Dan sudah bisa ditebak, saat Golkar membuka penjaringan, Thohari langsung mendaftar di hari pertama.

Sehari setelah Thohari mendaftar, beredar rekomendasi dari DPP PDIP tentang 50 nama yang akan diusung di Pilkada 2020. Untuk Balikpapan, nama yang muncul Rahmad Mas’ud dan Thohari.

Meski akhirnya DPP PDIP sendiri baru resmi merilisnya sehari setelah penjaringan Golkar Balikpapan ditutup. Namun, dua nama ini sudah mencuat sebelum penjaringan dibuka.

Benar memang, DPP Golkar sampai hari ini Rabu 19 Februari 2020, belum mengeluarkan rekomendasi. Tapi bukanlah hal mudah bagi Golkar Balikpapan khususnya RM bersikap berkebalikan dari rekomendasi DPP PDIP yang memasangkan dirinya dengan kader PDIP.

Apalagi, Golkar Balikpapan memilih tanggal penjaringan usai RM – Thohari dipanggil dan bertepatan dengan beredarnya surat rekomendasi DPP PDIP.

Dalam penjaringan itu pun, banyak sekali kader Golkar Balikpapan yang mendaftar. Dari Abdulloh, Andi Arif Agung sampai Ketua Hariannya, Kashariyanto.

Seolah ingin membuat framing laris manisnya partai ini. Tapi di sisi lain, juga terkesan dipaksakan. Terkesan hanya untuk daftar-daftaran meramaikan.

Termasuk kesan pemaksaan memilih tanggal yang berdekatan dengan momentum politik di atas. Sedangkan partai lain sudah jauh-jauh hari membuka pendaftaran.

Jika pada akhirnya kelak RM akan menggandeng Thohari, ini tentu menjadi rentan bagi calon yang akan diusung Golkar Balikpapan. Dalam hal ini pasangan RM-Thohari.

Sebab, bisa memunculkan opini publik jika penjaringan itu sekadar dagelan. Alasannya, publik makin berksimpulan: pasangan itu sudah ditentukan sejak penjaringan dibuka.

Ini bisa membuat para pendaftar dari parpol lain yang serius seolah dipermainkan. Bahkan dipermalukan.

Dan bisa jadi, pada akhirnya koalisi Golkar-PDIP bukan melawan kotak kosong. Melainkan menjadi musuh bersama. Rivalitas politik akan menjadi sengit.

Sebaliknya, bila rekomendasi DPP Golkar mengusung nama yang berbeda dari rekomendasi DPP PDIP, ini akan menjadikan pasangan yang diusung Golkar makin terasa sulit. Sebab, PDIP tak mungkin diam.

Tapi sepertinya rekomendasi DPP Golkar tidak akan jauh berbeda. Dalam hal ini ikut mengusung dan mendukung RM-Thohari. Terlebih dua parpol ini adalah koalisi terbesar nasional.

Dengan demikian, posisi Golkar Balikpapan terutama RM seolah terjepit. Maju kena, mundur kena. Memilih Thohari akan jadi musuh bersama. Tak memilihnya jauh lebih bahaya.

Golkar Balikpapan yang tadinya menjadi kuncian dalam Pilkada 2020, justru bersikap blunder memilih tanggal penjaringan di saat momentum politik genting dan manuver kader internal yang mencipta opini penjaringan seolah dagelan.

Maka, di sinilah terlihat kematangan PDIP dalam melakukan manuver-manuvernya.

Apapun itu, Pilkada Balikpapan dipastikan berjalan seru. Yang utama, selalu jaga persatuan, perdamaian dan keharmonisan warga Balikpapan yang selama ini telah kita jaga bersama.

Jangan sampai karena berbeda pilihan politik, membuat hal-hal yang tak diinginkan. Di Pilkada Balikpapan 2020 nanti, kita juga berharap berkembangnya kedewasaan warga kota dalam berpolitik.

*Agung, tim Riset Timur Media

Most Popular

To Top