Umum

Pendidikan Finlandia Terbaik di Dunia

Riangnya pelajar Finlandia. (Edutechpreneur)

TIMUR MEDIA – FINLANDIA, menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Prestasinya mengalahkan Amerika dan negara-negara Eropa. Apa rahasianya?

Pelajar di Finlandia hanya menghadapi satu kali ujian nasional. Itu pun ketika mereka berumur 16 tahun.

Pekerjaan rumah diminimalkan. Para pelajar Finlandia juga mendapat waktu istirahat tiga kali lebih lama. Dibanding sekolah di negara lain.

Mulai tahun 2020, Finlandia bahkan bakal merombak besar-besaran kurikulumnya. Di antaranya dengan menghapus pelajaran matematika, fisika, kimia, dan mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Siswa akan dibekali pelajaran untuk memahami sesuatu secara keseluruhan.

Misalnya saat mempelajari bagaimana negara Eropa terbentuk, maka para pelajar Finlandia akan belajar soal sejarahnya, perekonomiannya kala itu, dan budaya apa saja yang dulu berlaku.

Dengan demikian, pelajarannya tidak akan terputus hanya di sejarah atau matematika saja. Jadi sudah tidak ada subjek mata pelajaran.

Dalam kurikulum baru yang dijalankan tahun depan, Finlandia menyebutnya dengan belajar fenomena. Pelajar dibekali ilmu-ilmu yang bakal diterapkan dalam kehidupan.

Rahasia lain kenapa Finlandia memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia, disimpulkan dalam formulasi istimewa.

Yuk, kita dalami apa saja formulasi itu.

Sekolah Minimal Tujuh Tahun

Orangtua zaman now, banyak yang rempong jika memikirkan pendidikan anak. Anaknya belum genap 3 tahun pun, sudah disibukan mencari pre-school favorit.

Alasannya takut kalau dari awal sekolahnya tidak bagus, ke depan bakal susah dapat SD, SMP, atau SMA yang bonafid.

Di Finlandia tidak ada kekhawatiran seperti itu. Bahkan menurut hukum di sana, anak-anak baru boleh mulai bersekolah minimal ketika usianya 7 tahun.

Anda benar. Sekilas memang ini awal yang lebih telat jika dibanding negara-negara lain. Tapi, justru karena pertimbangan mendalam ini lah Finlandia menerapkannya.

Alasannya, usia tersebut dinilai baru memiliki kesiapan mental untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri.

Anak-anak di usia dini justru didorong lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan penilaian tugas tidak diberikan hingga mereka kelas 4 SD.

Hingga jenjang SMA pun, permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran.

Pelajar di Finlandia sudah terbiasa menemukan sendiri cara pembelajaran yang paling efektif bagi mereka. Jadi nantinya mereka tidak harus merasa terpaksa untuk belajar.

Keinginan belajar sejak dini sudah dimunculkan. Hingga akhirnya terpatri kesadaran diri. Karena itu, meski mulai sekolahnya dianggap telat, tapi pelajar umur 15 di Finlandia justru berhasil mengungguli pelajar lain dari seluruh dunia.

Terutama saat tes internasional Programme for International Student Assessment. Ini membuktikan maslahat dan efektivitas sistem pendidikan di Finlandia.

Belajar 45 Menit

Di Finlandia, untuk setiap 45 menit siswa belajar, mereka berhak mendapatkan rehat selama 15 menit.

Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang, jika mereka memilliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru.

Mereka juga jadi lebih produktif di jam-jam belajar karena mengerti bahwa sebentar lagi mereka akan dapat kembali bermain.

Di samping meningkatkan kemampuan fokus di atas, memiliki jam istirahat yang lebih panjang di sekolah juga sebenarnya memiliki manfaat kesehatan.

Para siswa jadi lebih aktif bergerak dan bermain, tidak hanya duduk di kelas. Bagus juga kan jika tidak membiasakan anak-anak dari kecil untuk terlalu banyak duduk.

Bebas Biaya Sekolah

Satu lagi faktor yang membuat orangtua di Finlandia tak perlu pusing-pusing. Untuk memilih sekolah yang bagus bagi anaknya.

Sebab, kualitas seluruh sekolah di Finlandia itu setara. Bahkan, orangtua juga dibebaskan dari biaya sekolah. Berlaku untuk seluruh sekolah negeri di semua jenjang.

Sistem pendidikan di Finlandia dibangun atas dasar kesetaraan. Bukan memberi subsidi pada mereka yang membutuhkan, tapi menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua.

Bangun Sinergi, Hapus Kompetisi

Reformasi pendidikan yang dimulai sejak tahun 1970-an itu, merancang sistem kepercayaan antar semua elemen. Sekolah di Finlandia meniadakan evaluasi atau ranking. Sehingga antara sekolah tak perlu merasa berkompetisi.

Sekolah swasta pun diatur dengan peraturan ketat untuk tidak membebankan biaya tinggi kepada siswa. Saking bagusnya sekolah-sekolah negeri di sana, hanya terdapat segelintir sekolah swasta yang biasanya juga berdiri karena basis agama.

Pemerintah Finlandia juga menyediakan fasilitas pendukung proses pembelajaran seperti makan siang, biaya kesehatan, dan angkutan sekolah secara cuma-cuma.

Mutu dan Kesejahteraan Guru Dijaga

Penopang utama dari kualitas merata yang ditemukan di seluruh sekolah di Finlandia adalah mutu guru-gurunya yang luar biasa.

Guru adalah salah satu pekerjaan paling bergengsi di Finlandia. Pendapatan guru di Finlandia lebih dari 2 kali lipat dari guru di Amerika Serikat.

Tidak peduli jenjang SD atau SMA. Semua guru di Finlandia diwajibkan memegang gelar master yang disubsidi penuh pemerintah. Bahkan para gurunya memiliki tesis yang sudah dipublikasi.

Finlandia memahami bahwa guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan generasi masa depannya.

Karena itu, Finlandia berinvestasi besar-besaran meningkatkan mutu tenaga pendidiknya. Tidak saja kualitas, pemerintah Finlandia juga memastikan ada cukup guru untuk pembelajaran intensif yang optimal.

Di sana, ada 1 guru yang mendidik hanya untuk 12 siswa di Finlandia. Rasio yang jauh lebih tinggi dibanding negara-negara lain. Jadi guru bisa memberi perhatian khusus untuk tiap anak, tak hanya berdiri di depan kelas.

Kredibilitas Guru Diprioritaskan

Dengan kesejahteraan guru yang istimewa, menciptakan kredibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi. Sehingga pemerintah Finlandia menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka.

Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian Nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai dengan siswa-siswa mereka.

Diversitas siswa seperti keberagaman tingkatan sosial atau latar belakang kultur, biasanya jadi tantangan sendiri. Dalam menyeleraskan mutu pendidikan.

Namun, justru fleksibilitas dalam sistem pendidikan Finlandia itulah, semua diversitas justru bisa difasilitasi. Jadi dengan caranya sendiri-sendiri, siswa-siswa yang berbeda ini bisa mengembangkan potensinya secara maksimal.

Hanya Belajar Lima Jam

Tak hanya jam istirahat yang lebih panjang, jam sekolah di Finlandia juga relatif lebih pendek dibandingkan negara-negara lain.

Siswa-siswa SD di Finlandia kebanyakan hanya berada di sekolah selama 4-5 jam per hari. Siswa SMP dan SMA pun mengikuti sistem laiknya kuliah. Mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka tidak datang merasa terpaksa tapi karena pilihan mereka.

Pendeknya jam belajar justru mendorong mereka untuk lebih produktif. Biasanya pada awal semester, guru-guru justru menyuruh mereka untuk menentukan target atau aktivitas pembelajaran sendiri.

Jadi ketika masuk kelas, mereka tidak sekadar tahu dan siap tapi juga tidak sabar untuk memulai proyeknya sendiri.

Tak Ada Sistem Ranking

Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat menjadi pintar. Tanpa terkecuali.

Sebab itu, mereka tidak mempercayai sistem ranking atau kompetisi yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’.

Meski ada bantuan khusus untuk siswa yang merasa butuh, tapi mereka tetap ditempatkan dalam kelas dan program yang sama. Tidak ada pula program akselerasi.

Pembelajaran di sekolah berlangsung secara kolaboratif. Bahkan anak dari kelas-kelas berbeda sering bertemu untuk kelas campuran.

Strategi inu terbukti berhasil karena Finlandia memang termasuk negara dengan kesenjangan pendidikan terkecil di dunia.

Pada akhirnya, kita tak bisa serta merta bermimpi mengadopsi sistem pendidikan Finlandia dan langsung menerapkannya di Indonesia. Ada banyak faktor yang memengaruhi.

Semisal, kesejahteraan masyarakat yang belum merata, anggaran pendidikan yang minim, mental koruptif, dan pelbagai faktor lain. Tapi, ada yang menarik dari sistem Finlandia.

Apa yang mereka terapkan justru mengadopsi sistem pendidikan pada era keemasan Islam. Bahkan, Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara sempat memiliki konsep sama.

Sayangnya, kini sistem pendidikan Indonesia malah bergeser. Mengadopsi kapitalis, yang orientasinya tidak jauh dari laba.

Jangan heran, biaya pendidikan pun makin mahal. Sedang kualitasnya belum menjadi jaminan.

Penulis: Maya Astuti
Editor: Doni Heru

Most Popular

To Top